Selasa, 08 Maret 2016

( cerbung ) sambas: CAULIS #2

SAMBAS:
C A U L I S



Berlari dan berteriak. Itu hal pertama yang terlintas di pikiranku.
      Tongkat besi kecil dan pecut terlempar keluar dari tas Sammy. Presiden Amerika Serikat adalah Donald Trump. Dunia ini menjadi damai. Indonesia bebas korupsi dan polusi.  Eropa beriklim tropis.
      Hal-hal di atas adalah daftar hal yang mustahil terjadi, dan salah satunya terjadi barusan saja, depan mataku.   

---

“Aku keturunan Sultan Prabu Siliwangi. Kamu tahu mitos tentang Maung?”suara Sammy terdengar samar-samar dari tempatku termangu.
Maung itu adalah semacam jelmaan harimau, yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi ke beberapa keturunannya.
      “Ya. Pernah denger.”
      “Maung yang hitam tadi lepas. Yang putih ada di belakang kamu. Aku suruh dia buat jagain kamu.”
      Pembicaraan paling aneh, menakutkan, dan sangat diluar dugaanku itu terjadi beberapa waktu yang lalu.
      “K-k-kamu. Prabu Siliwa-wangi. Maung... Maung? Belakangku?”
      “Sarah, tenang. Tenang. Aku dan Maung‘nggak seseram yang kamu bayangkan.”
      Punggungku malah semakin tidak nyaman, menari-nari selagi bulu kudukku ereksi.
      Lalu akupun berlari ke hutan lalu belok ke pantai menuju rumahku—yang sebenarnya cukup jauh dari sini—lalu terjatuh di tengah jalan, terlalu lemah dan syok menghadapi kenyataan.
      Mungkin aku yang bodoh atau Sammy yang pintar, ia mengejarku dengan motor scoopynya.
      Muak aku dengan Sammy.
      Aku terus berlari, sampai suara motor yang dikeluarkan secara khas oleh motor Sammy terdengar samar, sampai akhirnya lenyap dalam suara jangkrik malam. Aku tengokkan badanku ke belakang. Bagus. Dia berhenti mengejar.
      Hidupku tentram untuk beberapa saat.
      Dan di saat-saat seperti ini, Bastian, secara ajaib, mulai menghubungiku lagi—berbasa-basi tentang hidup dan lain sebagainya.
      Namun rasa itu masih ada. Rasa labil yang kurasakan beberapa hari ini: Sammy atau Bastian.
      Ditambah dengan kenyataan bahwa Sammy adalah individual turunan Prabu Siliwangi, yang bisa mengancam nyawaku, membuatku semakin labil.
      Tapi rasa ini juga—yang membuatku menerima Sammy sebagai ‘pacar’ku beberapa hari yang lalu—rasa benci padanya, yang malah membuatku sayang. Ada apa denganku?

---

      “Kapan kamu bisa temenin aku ngelepas Maung?”
      Tidak mungkin. Apa maksud dia berkata demikian?
      “Aku memang hanya satu-satunya keturunan Prabu Siliwangi yang masih punya Maung, yang bisa muncul kapanpun. Tapi demi kamu, ‘nggak apa-apa, aku rela melepas Maung. Asal kamu tetap sama aku. Janji?”
      Ya. Tidak. Ya. Tidak. Ya. Ya! Katanya, pilihan terbaik itu adalah menerima, dan sekarang giliran hati kecilku bicara. Aku akan tetap bersama Sammy.
      “Benar ya, kata orang-orang, bahwa orang yang sedang dimabuk asmara pasti rela melakukan hal-hal gila untuk pujaan hatinya,” kataku sambil tersenyum kecil.
      “Aku anggap itu sebagai ‘ya’,” balasnya, yang disusul dengan kekehan.
      “Yaudah deh. Kapan kamu mau ngelepas Maungnya?”
      “Secepatnya.”
      “Bukannya harus pake ritual segala, ya?” tanyaku.
      “Nanti kamu tunggu hasil akhirnya aja. Sisanya aku yang urus,” tukasnya, sambil merangkulku hangat.
      Hari demi hari terlewati tanpa momen yang berarti. Hubunganku dan Sammy berlangsung stabil, malah cenderung monoton. Sedangkan Bastian,terkadang, muncul di hidupku dan mengusik hatiku.
      Ujian Nasional sudah kulewati. Tempatku untuk lanjut menuntut ilmu jatuh pada Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Hal ini otomatis dapat membuat jiwaku dan Sammy merenggang—ya,secara harafiah karena jarak. Walaupun kata Joko Pinurbo, “Jarak itu tidak ada, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan,” tapi tetap saja ini menjadi awal sebuah kendala baru bagi kami.
      Sammy yang semakin overprotective dan aku yang cuek bebek, menjadi sebuah permasalahan yang sangat bertolak-belakang. Pernah kali itu, aku sibuk dalam organisasi di kampus, sehingga HP kumatikan, betapa kagetnya diriku saat ternyata dia menghubungi semua temanku, menanyakan tentang kabarku seharian ini.
      Sebenarnya, selain karena perasaan sayang dan janjiku padanya, hal yang membuatku terikat dengan Sammy adalah karena restu Ibuku perihal jaminan hidup. Hal ini dikarenakan oleh Sammy yang mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas ternama, Atma Jaya.
      Namun hal yang membuatku bingung adalah kenapa Sammy memiliki banyak waktu luang, di tengah ketatnya peraturan universitas swasta?
      Pertanyaanku itu terjawab setelah Wendy, teman perempuan Sammy yang satu universitas denganku, datang ke kos-kosanku siang tadi.
      “Sejauh ini, kamu gimana sama Sammy? Bukannya sejarah dia nakal-nakal gitu, ya?” katanya.
      “Ah, enggak, sama aku ‘sih baik-baik aja,”
      “Memangnya kamu konek, apa, sama dia?” tanyanya, “kamu ‘kan sastra banget, sedangkan dia anak Teknik?”
      Deg.
      “Ha? Maksudnya?”
      “Ya iya, ‘kan dia jurusan Teknik di Universitas Mpu Tantural?”
      “Engga, bahkan! Wong dia anak kedokteran di Atma Jaya?”
      “Sarah, Sarah,” ejeknya sambil terkekeh kecil, “mau aja kamu dibohongin sama manusia seperti itu.”


Bersambung.

2 komentar: