SAMBAS:
RADIX
“Bu,
jadi mantan itu contoh peyorasi ya, Bu?” tanya salah seorang murid ditengah
kericuhan kelas.
“Ih, tuh pinter, tumben tau!” sergahku
langsung.
“Iya
dong, saya emang pinter, Bu. Lagian, peyorasi kan maknanya makin jelek, sebelas
dua belas tuh sama yang namanya ‘mantan’ ,” Emeryn menyambar dengan menggebu-gebu.
“HOOOOO APAAN SIH EME,” sorak satu kelas
yang membuatku sontak menoleh.
“Lagi mikirin mantan, ya?” candaku lagi.
“HOOOOO APAAN SIH IBU”, sorak satu kelas,
lagi.
Spontan, aku menyilangkan kedua tanganku
di dada sambil berkata, “Udah?”, sekelas langsung diam, “udah arisannya?”
“UDAAAAAHHHHHHH,” serbu mereka, kompak.
Dasar, anak-anak jahanam.
Entah mengapa, karena seluruh bahasan tentang
mantan ini, malah membuatku terenyak kembali ke putaran arus waktu beberapa
tahun yang lalu.
Masih dua SMA. Belum tepat, sebenarnya,
untuk begitu-begini, tapi aku malah tenggelam dalam cinta segitiga, antara aku
dan dua-manusia-yang-entah-dimana-keberadaannya-sekarang.
---
Namaku Sarah Wayne. Umurku masih 16
tahun, sebentar lagi 17. Hidupku sibuk disana-sini, aku termasuk anak aktif dan
populer di sekolah, maupun di lingkungan luar. Seperti nanti sore, aku akan
mengikuti rapat KAJ yang diikuti oleh seluruh remaja Katholik se-Jakarta yang
bersekolah di SMA Negri.
Aku bukan tipe anak yang religius, tapi
lumayanlah, menghabiskan waktu luang sambil cuci mata, ngeliatin cowo-cowo
baru. Jadi fresh, gitu.
Kayak yang itu, yang duduk di pojokkan,
sendirian. Mukanya, sih, lumayan ya. Keliatannya ‘sih, dia ganteng-ganteng
pemalu. Kakinya panjang, kayaknya tinggi. Anak kuliahan, keliatan dari mukanya
yang udah terbebani. Tapi yasudahlah, itu hak dia, ‘kan, untuk duduk sendirian?
Rapat kali ini berlangsung sangat lama,
baru selesai pukul delapan malam. Saat aku sedang hendak mencari angkutan umum
untuk pulang, terdengar suara Mas Danang, salah satu senior, memanggilku.
“Sarah”, panggilnya,”Mau dianterin pulang ‘ngga? Tapi bukan
sama gue,” tawarnya. Lah, kok gitu?
“Lah, sama siapa dong?” tanyaku, bingung. Mas Danang lalu
tersenyum kocak, sambil menunjuk cowo di sebelahnya. Ah, familiar. Eh, itu ‘kan
cowo tadi?
“Kenalin, ini Sammy. Sammy Harmono, anak baru di sini. Mau
kenalan sama lo, tapi malu,” ujarnya
sambil terkekeh licik. Sammy terlihat panik-panik malu. Ih, kok lucu sih do’i?
Entah ada setan macam apa, aku hanya
mengangguk tanpa berkata-kata. Lantas, Mas Danang menyeringai, lalu bersorak, “Cieee, langsung iya aja nih. Cihuy!” Dasar, Mas-Mas jahanam.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Sammy
semakin dekat. Kami bertukar nomor telepon seluler, dan saling SMS-an. Kata
teman-teman, ‘sih, dia sedang berusaha mendekatiku. Namun, dalam jangka waktu
yang bersamaan pula, ada salah seorang teman SD-ku yang juga mendekatiku.
Namanya Bastian, anaknya kalem. Menurut
rumor, ‘sih, dia sudah menyukaiku sejak jaman batu, sejak Adam dan Hawa
diciptakan. Luaama banget, tapi aku-nya aja yang nggak sadar, atau aku-nya yang
‘nggak peka ya?
Mereka berdua sama-sama sering main ke
rumah, dan aku juga sering berinteraksi dengan keduanya. Keduanya sama-sama
baik, sama-sama ganteng, apalagi perhatian. Keduanya juga sama-sama serius
dalam berhubungan.
Bastian cenderung lebih ke sifat apa
adanya, sementara Sammy cenderung agresif.
Seperti kali ini, Bastian justru membawaku ke sebuah taman di dekat
sekolahku. Sebenernya ‘sih aku tahu, itu
‘kan Taman Suropati. Siapa juga lagian yang nggak tahu Taman Suropati? Bastian
mau sok suprise gitu walaupun memang agak gagal ‘sih, tapi yang penting ada
usahanya ‘kan?
Jangan harap jika Bastian bak pangeran
berkuda putih yang ada di dongeng-dongeng, yang serba romantis abis. Dia bahkan
jemput hanya bermodalkan motor. Helm nya cuman satu pula. Bagian sok
romantisnya mungkin pas dia kasih helm dia ke aku. Udah. Iya. Jadi dia nya
‘nggak pake helm. Terus akhirnya kita ditilang deh. Iya, pake acara ditilang
segala. Karena kata polisinya, sama aja dia mencelakakan diri sendiri. Hampir
aja aku nyeletuk kalo itu dia lagi sok romantis, tapi liat muka Bastian yang
udah kucel abis, aku mengurungkan niat.
Sammy? Ya, gitu-gitu aja. Agak misterius,
‘sih, kalo lagi jalan sama dia, dia suka tiba-tiba hilang di tengah keramaian.
Lalu anehnya, setiap kami gereja bareng, dia ‘nggak pernah mau masuk ke dalam
gereja. Aneh, ‘kan? ‘Ngga jelas abis. Orang dia berkegiatan di KAJ, aktif di
gereja, tapi dia ‘nggak mau masuk ruang kebaktian.
Nyokap ‘sih, lebih milih ke Sammy,
sementara hati terdalamku mengatakan, “Bastian.”
Kata nya, dari auranya bisa keliatan yang baik maupun yang jahat.
Dua hari setelah hari ulang tahunku, ada
sesuatu yang cukup mengejutkan. Ada dua jiwa yang menyatakan perasaannya di
hadapanku.
Yang berbeda kali ini adalah, Bastian
yang romantis nya selalu gagal, kali ini kuanggap berhasil. Pasalnya, dia
dengan niat menggebu membawa semacam bongkahan parsel dengan tema lumba-lumba.
Entah dari mana dia tahu jika aku suka lumba-lumba. Rangkaian boneka sampai
pajangan dengan tema lumba-lumba berjejer di hadapanku, yang membuatku
tersentuh akan keteguhan tekadnya.
GILAK.
GILAK!
BODOHNYA AKU,
TERKADANG HATI INI MEMILIH UNTUK MENARUH KESENANGAN ORANG LAIN DI ATAS PERASAAN
TERDALAMKU.
AKU.
PILIH.
SAMMY.
Gilak. Gilaak,
sumpah, gue juga bingung kenapa gue milih Sammy ya?
Astaghfirullah, gue
terbutakan.
Hidup ini memang 'ngga jelas adanya. Kenapa aku pilih Sammy? 'Ngga tau. Kenapa aku 'ngga pilih Bas? 'Ngga
tau. Tapi, campur tangan emosi dan perasaan terkadang diperlukan dalam
hidup. Bawa-bawa perasaan. Yah, sesi baper
dimulai, teman. Deal with it.
---
Awalnya, hari ini kukira akan menjadi
hari yang menyenangkan. Pasalnya, aku dan Sammy pergi bareng, walau cuman makan
di kantin gereja, ‘sih. Tapi, hari ini justru menjadi awal dari segala tanda
tanya besar di otakku.
Dia menjemputku. Kita pergi. Kita makan.
Iya, di kantin gereja. Awalnya, semua menyenangkan. Sampai dia pergi, dan tak kembali,
meninggalkan tas kebanggaannya denganku sendiri. Di kantin.
Semua terjadi sangat cepat.
Teman-temannya secara ajaib berlarian ke arah tempat dudukku. Menggapai-gapai
segala hal yang bisa mereka ambil, termasuk tas Sammy.
Lalu, benda itu terjatuh dari tas Sammy,
yang disusul dengan teriakkan panik teman-teman Sammy. Muka-muka itu. Muka-muka itu geram, dan tidak menginginkanku untuk
tahu.
Apa gerangan benda itu?
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar