SAMBAS :
F O L I A
Jakarta,
1 Juli 2011
12.46
WIB: Sarah, angkat telponku! Sudah dua hari kamu nggak balas SMSku. Kamu
kemana?
12.50
WIB: Sarah, balas!
12.29
WIB: Sarah. Jawab aku sekarang.
19.57
WIB: ?
19.57
WIB: Sarah, AKHIRNYA! Kenapa kamu gak bales SMSku, sih?
Karena kamu telah berbohong
padaku, bodoh.
Aku bukan tipe perempuan yang bisa
dibohongi. Apalagi dibodohi. Entah kenapa, dari dulu, aku punya naluri yang
tinggi serta firasat yang hampir selalu akurat,biasa dikatakan kemampuan
berintuisi. Ada saja yang datang dan memberi tahu kejujuran yang sebenarnya
terjadi. Dan kali ini, kedatangan Wendy membuka semuanya.
20.24
WIB: Km kuliah dmn, hah?
20.25
WIB: Maksudmu apa sih, Sayang, kan kamu sudah tahu aku kuliah di
Atma
Jaya?
20.29
WIB: Km bohong sekali lg kita bubar. Kamu kuliah dmn?
20.31
WIB: Kamu udah tahu ya?
20.31
WIB: Maafin aku, Sar… Aku terpaksa bohongin kamu.
Setelah membaca kalimat SMS yang
terpampang di layar telepon lipat kunoku itu, lantas aku tertawa. Tertawa
sangat lebar, hingga aku sendiri bingung kenapa pipiku basah. Air dari mana
ini? Ah, dari mataku. Aku menangis. Menangis dalam diam. Ditemani jangkrik
malam. Dalam suasana suram. Wah, berima.
---
Bisik-bisik mulai terdengar dari seluruh
penjuru kelas. Awalnya bisikan, namun
berakhir dengan kegaduhan.
“Masih mau diceritain, gak? Kalo nggak ibu keluar
nih,” kalimat andalanku sejak aku pertama kali mengajar menjadi guru itu
berhasil membuat sekelas menjadi hening seperti semula. Aku diam, mereka diam.
Hening berkepanjangan itu dipecah oleh suara Eme dari ujung kelas.
“Terus, gimana Bu?”
Aku lalu menarik nafas panjang, dan mataku perlahan
mengarah ke kiri bawah, yang mengindikasikan bahwa aku sedang mengenang sebuah
peristiwa dari masa lampau.
---
Aku tidak menggubris semua telpon dan SMS dari
nomor berakhiran 807,
nomor
Sammy. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku akhir-akhir ini dalam diam. Entah
sudah berapa orang yang menanyakan ada apa denganku, namun aku lelah. Aku butuh
sendiri.
Lamunan
kosongku terputuskan oleh suara nyaring dering telepon yang berasal dari arah
meja belajarku, Ibu menelpon.
“Sarah?”
“…”
“Sarah, kamu kenapa, Nak?”
Aku menceritakan semuanya kepada Ibu. Dia kecewa.
Dia marah. Dia menumpahkan semua luapan emosinya. Dia kecewa karena sebelumnya
dia telah merestui hubungan kami berdua, namun lelaki berengsek itu
menghancurkan semua kepercayaan yang telah Ibuku berikan.
“Kepercayaan itu harganya
mahal, Nak. Sekali dia berbohong, apa bakal Ibu percaya lagi padanya seperti
semula?” Kalimat
Ibuku itu terus terngiang-ngiang dalam benakku, membuatku terus berpikir,
sampai aku—baik fisik maupun batinku lelah.
Sedangkan ayahku? Ah tak perlu ditanya, bahkan dia
mungkin tak tahu hubunganku dengan Saammy. Ayahku memang aneh, makanya aku
menobatkannya sebagai Ayah ter-aneh di dunia.
Saat itu usiaku genap delapan tahun. Ayah-ayah pada
umumumnya mungkin akan memberikan boneka baru, baju baru, kado lumrah untuk
anak perempuan seusiaku. Namum berbeda dengan ayahku, dia justru datang ke
kamar tidurku membawa gunting, bukan, itu bukan praktek pembunuhan. Dia
berjalan pelan-pelan menghampiriku, mengucapkan selamat ulang tahun dengan
seringaian lebar, kemudian dia menggunting beberapa helai rambutku, dengan
tujuan entah apa.
Ketika mulut polos dan inosenku menanyakan untuk
apa dia menggunting rambutku, ia menjawab, “Agar jika kamu meninggal duluan,
ayah akan membuatkan kloningan dirimu,” sambil tersenyum kecut.
Dulu aku belum mengerti. Namun setelah aku mengerti
maksud dari kloning—menghidupkan kembali
apa yang telah tiada—aku setengah percaya bahwa ayahku akan benar-benar
akan membuat kloningan diriku.
Bahkan, menghidupkan aku
kembali dengan mengloningkan diriku lebih mudah dari menghidupkan lagi bara
cinta yang sudah padam.
Ayahku memang memiliki obsesi yang aneh terhadap
dunia IPA. Dia selalu menciptakan penemuan-penemuan aneh yang ‘tak pernah aku
dan Ibuku pahami. Dia selalu larut dalam pemahamannya sendiri, dan cenderung
mengabaikan dunia luar, persis seperti yang terjadi sekarang.
---
Berhubung liburan semester telah tiba, maka
disinilah aku sekarang. Pulang ke Jakarta. Menikmati senja di ibukota ditemani
secangkir kopi yang kurasa mulai mendingin—kelamaan kubiarkan, selagi aku
memikirkan masalahku yang makin lama makin bejibun.
Ibukota.
Ibukota itu seperti rumah yang tak nyaman lagi
ditinggali, namun dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang tanpa peduli datang dan kemudian
pergi, karena bagi mereka, ibukota adalah lebih dari itu. Begitu juga bagiku.
Namun secara otomatis, otakku terputar untuk kembali memikirkan masalahku,
daripada memusingkan masalah tentang ibukota.
Cahaya matahari mulai perlahan menghilang dari
pandanganku, senja.
Aku suka senja, aku suka
caranya menjemput malam. Dia menghadirkan keindahan dalam bentuk matahari tenggelam.
Aku suka senja, dengan
warna-warni kehitaman, mendatangkan pilunya malam, kesendirian dalam kelam.
Aku suka senja, ia
membawaku ke dimensi kegelapan, pekat dengan datangnya malam.
Ayahku selalu mengajarkanku, bahwa setiap peristiwa
penting yang berkelanjutan dalam hidup bisa dibagi menjadi empat; radix, yang adalah akar, awal dari segala
masalah, caulis, yang adalah batang, dimana masalah mulai menegang, folia, yang
adalah daun, masalah sudah mulau bercabang dan akan berakhir, serta fructus,
yang adalah buah, dimana masalah berakhir dengan akhir yang bahagia dengan
buah-buah kehidupan yang bisa dipetik.
Aku harap ini adalah bagian
folia. Aku ingin semuanya segera berakhir.
Bel rumahku menganggu lamunanku.
Agak tergesa, aku berjalan meninggalkan balkon
kamar, bergegas membukakan pintu bagi entah siapa yang berada di balik pintu
sana.
Aku terkejut. Oh
tidak, drama kehidupan ini sedang membuat sekuel, rupanya?
“Lah, Bas? Ngapain kamu disini?”
---
Setelah itu kami berbincang-bincang di ruang tamu,
dan Bastian mengutarakan tujuannya datang ke rumahku. Namun yang membuatku
bingung, darimana dia tahu kalau aku sedang berlibur ke Jakarta?
Bastian baru saja pulang beberapa menit yang lalu.
Aku memutuskan untuk mengisi kekosongan dengan membawa secangkir kopi dan
sebuah novel karangan salah seorang Sastrawan Indonesia, lagi-lagi menuju
balkon kamarku, menikmati malam ibukota yang lama tak kujumpa. Malam. Aku lebih
suka malam, yang menghadirkan sepi mencekam. Namun menyisipkan kenyamanan,
walaupun dalam kesendirian.
“Jadi, daripada liburan kali ini lo kurang kerjaan
di rumah, gue ajak lo buat kita mendaki gunung Merapi bareng-bareng, nanti ada
teman-teman gue juga,”tawar Bastian.
“Hah? Kita? Daki gunung barengan?” tanyaku masih
tak yakin.
“Iya. Semua perlengkapan, tenda dan lainnya, udah
beres di tangan teman gue. Gimana?”
Lamunanku terpecah, baru menyadari satu hal. Sejak
kapan pula Bastian tahu kalau aku ini pecinta alam?
Entahlah. Aku lelah. Aku
butuh sendiri.
---
Pagi ini ada yang berbeda. Aku merasakan sesuatu
yang ganjil dari arah kakiku. Ah, ya, aku ketiduran di sofa ruang tamu kemarin
malam, karena menunggu kedua orangtuaku pulang. Aku lantas melihat keganjilan
apa yang ada di kakiku.
Terperanjat kaget.
Itu hal yang pertama kulakukan, dan buru-buru membenarkan
posisi menjadi duduk bersila di sofa—setengah jijik.
Ada Sammy. Sedang mencium kakiku. Dengan sebuket
bunga di sebelahnya, serta sebuah tulisan “Maaf”
diantara bunga-bunga itu.
“Sar... Aku minta maaf,” kata Sammy perlahan
Aku diam tak berkutik.
“Sumpah, Sar, tanggepin lah! Maafin aku.” Sammy
mengatakannya dengan penuh penekanan. Aku melempar pandangan menuju jam
dinding, jam lima pagi. Siapa lagi lelaki
yang datang mau jam lima pagi, meminta maaf sambil mencium kaki, serta
membawakan sebuket bunga? Hanya Sammy seorang.
Salahkan hatiku yang sangat mudah tersentuh ini. Setengah emosional, setengah tanpa emosi.
Karena, secara perlahan, bibirku tertarik membentuk lengkungan. Setelah itu aku
tertawa lebar, Sammy ikut tertawa bersamaku.
Mengapa
kami tertawa?
Kami memutuskan untuk membuat sarapan dengan
kemampuan memasak alakadarnya.
“Aku udah mikir buat perbaikin hubungan kita. Aku
mau kita ulang dari awal lagi, Sar. Kita lupain semua masalah yang udah lewat,”
katanya sambil tersenyum sok misterius, “karena itu aku punya rencana, aku mau
ajak kamu buat mendaki Gunung Merbabu sama-sama, menjadi awal dari kita yang
baru, sekalian refreshing dari kepenatan kita masing-masing,” lalu ia tersenyum
lebar.
Aku mengernyit bingung—sekaligus panic karena
Bastian juga mengajakku.
Sammy seolah paham bahasa tubuhku. “Aku tau lah
minat kamu. Kamu masuk ke GWB UNS‘kan? Organisasi pecinta alam itu?”
Lalu, pintu rumahku terbuka.
“Sar?”
Itu Bastian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar