Minggu, 20 Maret 2016

( cerbung ) sambas: FOLIA #3

SAMBAS :
F O L I A



Jakarta, 1 Juli 2011
12.46 WIB: Sarah, angkat telponku! Sudah dua hari kamu nggak balas SMSku. Kamu kemana?
12.50 WIB: Sarah, balas!
12.29 WIB: Sarah. Jawab aku sekarang.
19.57 WIB: ?
19.57 WIB: Sarah, AKHIRNYA! Kenapa kamu gak bales SMSku, sih?
           
Karena kamu telah berbohong padaku, bodoh.

            Aku bukan tipe perempuan yang bisa dibohongi. Apalagi dibodohi. Entah kenapa, dari dulu, aku punya naluri yang tinggi serta firasat yang hampir selalu akurat,biasa dikatakan kemampuan berintuisi. Ada saja yang datang dan memberi tahu kejujuran yang sebenarnya terjadi. Dan kali ini, kedatangan Wendy membuka semuanya.

20.24 WIB: Km kuliah dmn, hah?
20.25 WIB: Maksudmu apa sih, Sayang, kan kamu sudah tahu aku kuliah di
Atma Jaya?
20.29 WIB: Km bohong sekali lg kita bubar. Kamu kuliah dmn?
20.31 WIB: Kamu udah tahu ya?
20.31 WIB: Maafin aku, Sar… Aku terpaksa bohongin kamu.

            Setelah membaca kalimat SMS yang terpampang di layar telepon lipat kunoku itu, lantas aku tertawa. Tertawa sangat lebar, hingga aku sendiri bingung kenapa pipiku basah. Air dari mana ini? Ah, dari mataku. Aku menangis. Menangis dalam diam. Ditemani jangkrik malam. Dalam suasana suram. Wah, berima.

---

             Bisik-bisik mulai terdengar dari seluruh penjuru kelas. Awalnya  bisikan, namun berakhir dengan kegaduhan.
“Masih mau diceritain, gak? Kalo nggak ibu keluar nih,” kalimat andalanku sejak aku pertama kali mengajar menjadi guru itu berhasil membuat sekelas menjadi hening seperti semula. Aku diam, mereka diam. Hening berkepanjangan itu dipecah oleh suara Eme dari ujung kelas.
“Terus, gimana Bu?”
Aku lalu menarik nafas panjang, dan mataku perlahan mengarah ke kiri bawah, yang mengindikasikan bahwa aku sedang mengenang sebuah peristiwa dari masa lampau.

---

Aku tidak menggubris semua telpon dan SMS dari nomor berakhiran 807,
nomor Sammy. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku akhir-akhir ini dalam diam. Entah sudah berapa orang yang menanyakan ada apa denganku, namun aku lelah. Aku butuh sendiri.
            Lamunan kosongku terputuskan oleh suara nyaring dering telepon yang berasal dari arah meja belajarku, Ibu menelpon.
“Sarah?”
“…”
“Sarah, kamu kenapa, Nak?”
Aku menceritakan semuanya kepada Ibu. Dia kecewa. Dia marah. Dia menumpahkan semua luapan emosinya. Dia kecewa karena sebelumnya dia telah merestui hubungan kami berdua, namun lelaki berengsek itu menghancurkan semua kepercayaan yang telah Ibuku berikan.
“Kepercayaan itu harganya mahal, Nak. Sekali dia berbohong, apa bakal Ibu percaya lagi padanya seperti semula?” Kalimat Ibuku itu terus terngiang-ngiang dalam benakku, membuatku terus berpikir, sampai aku—baik fisik maupun batinku lelah.
Sedangkan ayahku? Ah tak perlu ditanya, bahkan dia mungkin tak tahu hubunganku dengan Saammy. Ayahku memang aneh, makanya aku menobatkannya sebagai Ayah ter-aneh di dunia.
Saat itu usiaku genap delapan tahun. Ayah-ayah pada umumumnya mungkin akan memberikan boneka baru, baju baru, kado lumrah untuk anak perempuan seusiaku. Namum berbeda dengan ayahku, dia justru datang ke kamar tidurku membawa gunting, bukan, itu bukan praktek pembunuhan. Dia berjalan pelan-pelan menghampiriku, mengucapkan selamat ulang tahun dengan seringaian lebar, kemudian dia menggunting beberapa helai rambutku, dengan tujuan entah apa.
Ketika mulut polos dan inosenku menanyakan untuk apa dia menggunting rambutku, ia menjawab, “Agar jika kamu meninggal duluan, ayah akan membuatkan kloningan dirimu,” sambil tersenyum kecut.
Dulu aku belum mengerti. Namun setelah aku mengerti maksud dari kloning—menghidupkan kembali apa yang telah tiada—aku setengah percaya bahwa ayahku akan benar-benar akan membuat kloningan diriku.
Bahkan, menghidupkan aku kembali dengan mengloningkan diriku lebih mudah dari menghidupkan lagi bara cinta yang sudah padam.
Ayahku memang memiliki obsesi yang aneh terhadap dunia IPA. Dia selalu menciptakan penemuan-penemuan aneh yang ‘tak pernah aku dan Ibuku pahami. Dia selalu larut dalam pemahamannya sendiri, dan cenderung mengabaikan dunia luar, persis seperti yang terjadi sekarang.


---

Berhubung liburan semester telah tiba, maka disinilah aku sekarang. Pulang ke Jakarta. Menikmati senja di ibukota ditemani secangkir kopi yang kurasa mulai mendingin—kelamaan kubiarkan, selagi aku memikirkan masalahku yang makin lama makin bejibun.
Ibukota.
Ibukota itu seperti rumah yang tak nyaman lagi ditinggali, namun dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang tanpa peduli datang dan kemudian pergi, karena bagi mereka, ibukota adalah lebih dari itu. Begitu juga bagiku. Namun secara otomatis, otakku terputar untuk kembali memikirkan masalahku, daripada memusingkan masalah tentang ibukota.
Cahaya matahari mulai perlahan menghilang dari pandanganku, senja.
Aku suka senja, aku suka caranya menjemput malam. Dia menghadirkan keindahan dalam bentuk matahari tenggelam.
Aku suka senja, dengan warna-warni kehitaman, mendatangkan pilunya malam, kesendirian dalam kelam.
Aku suka senja, ia membawaku ke dimensi kegelapan, pekat dengan datangnya malam.
Ayahku selalu mengajarkanku, bahwa setiap peristiwa penting yang berkelanjutan dalam hidup bisa dibagi menjadi empat; radix, yang adalah akar, awal dari segala masalah, caulis, yang adalah batang, dimana masalah mulai menegang, folia, yang adalah daun, masalah sudah mulau bercabang dan akan berakhir, serta fructus, yang adalah buah, dimana masalah berakhir dengan akhir yang bahagia dengan buah-buah kehidupan yang bisa dipetik.
Aku harap ini adalah bagian folia. Aku ingin semuanya segera berakhir.
Bel rumahku menganggu lamunanku.
Agak tergesa, aku berjalan meninggalkan balkon kamar, bergegas membukakan pintu bagi entah siapa yang berada di balik pintu sana.
Aku terkejut. Oh tidak, drama kehidupan ini sedang membuat sekuel, rupanya?
“Lah, Bas? Ngapain kamu disini?”

---

Setelah itu kami berbincang-bincang di ruang tamu, dan Bastian mengutarakan tujuannya datang ke rumahku. Namun yang membuatku bingung, darimana dia tahu kalau aku sedang berlibur ke Jakarta?
Bastian baru saja pulang beberapa menit yang lalu. Aku memutuskan untuk mengisi kekosongan dengan membawa secangkir kopi dan sebuah novel karangan salah seorang Sastrawan Indonesia, lagi-lagi menuju balkon kamarku, menikmati malam ibukota yang lama tak kujumpa. Malam. Aku lebih suka malam, yang menghadirkan sepi mencekam. Namun menyisipkan kenyamanan, walaupun dalam kesendirian.
“Jadi, daripada liburan kali ini lo kurang kerjaan di rumah, gue ajak lo buat kita mendaki gunung Merapi bareng-bareng, nanti ada teman-teman gue juga,”tawar Bastian.
“Hah? Kita? Daki gunung barengan?” tanyaku masih tak yakin.
“Iya. Semua perlengkapan, tenda dan lainnya, udah beres di tangan teman gue. Gimana?”
Lamunanku terpecah, baru menyadari satu hal. Sejak kapan pula Bastian tahu kalau aku ini pecinta alam?
Entahlah. Aku lelah. Aku butuh sendiri.

---

Pagi ini ada yang berbeda. Aku merasakan sesuatu yang ganjil dari arah kakiku. Ah, ya, aku ketiduran di sofa ruang tamu kemarin malam, karena menunggu kedua orangtuaku pulang. Aku lantas melihat keganjilan apa yang ada di kakiku.
Terperanjat kaget.
Itu hal yang pertama kulakukan, dan buru-buru membenarkan posisi menjadi duduk bersila di sofa—setengah jijik.
Ada Sammy. Sedang mencium kakiku. Dengan sebuket bunga di sebelahnya, serta sebuah tulisan “Maaf” diantara bunga-bunga itu.
“Sar... Aku minta maaf,” kata Sammy perlahan
Aku diam tak berkutik.
“Sumpah, Sar, tanggepin lah! Maafin aku.” Sammy mengatakannya dengan penuh penekanan. Aku melempar pandangan menuju jam dinding, jam lima pagi. Siapa lagi lelaki yang datang mau jam lima pagi, meminta maaf sambil mencium kaki, serta membawakan sebuket bunga? Hanya Sammy seorang.
Salahkan hatiku yang sangat mudah tersentuh ini. Setengah emosional, setengah tanpa emosi. Karena, secara perlahan, bibirku tertarik membentuk lengkungan. Setelah itu aku tertawa lebar, Sammy ikut tertawa bersamaku.
Mengapa kami tertawa?
Kami memutuskan untuk membuat sarapan dengan kemampuan memasak alakadarnya.
“Aku udah mikir buat perbaikin hubungan kita. Aku mau kita ulang dari awal lagi, Sar. Kita lupain semua masalah yang udah lewat,” katanya sambil tersenyum sok misterius, “karena itu aku punya rencana, aku mau ajak kamu buat mendaki Gunung Merbabu sama-sama, menjadi awal dari kita yang baru, sekalian refreshing dari kepenatan kita masing-masing,” lalu ia tersenyum lebar.
Aku mengernyit bingung—sekaligus panic karena Bastian juga mengajakku.
Sammy seolah paham bahasa tubuhku. “Aku tau lah minat kamu. Kamu masuk ke GWB UNS‘kan? Organisasi pecinta alam itu?”

Lalu, pintu rumahku terbuka.
“Sar?”
Itu Bastian.


bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar