SAMBAS:
C A U L I S
Berlari dan berteriak. Itu hal pertama
yang terlintas di pikiranku.
Tongkat
besi kecil dan pecut terlempar keluar dari tas Sammy. Presiden Amerika Serikat
adalah Donald Trump. Dunia ini menjadi damai. Indonesia bebas korupsi dan polusi.
Eropa beriklim tropis.
Hal-hal
di atas adalah daftar hal yang mustahil terjadi, dan salah satunya terjadi
barusan saja, depan mataku.
---
“Aku keturunan Sultan Prabu Siliwangi.
Kamu tahu mitos tentang Maung?”suara Sammy terdengar samar-samar dari tempatku termangu.
Maung itu adalah semacam jelmaan harimau, yang diwariskan
oleh Prabu Siliwangi ke beberapa keturunannya.
“Ya.
Pernah denger.”
“Maung
yang hitam tadi lepas. Yang putih ada di belakang kamu. Aku suruh dia buat jagain
kamu.”
Pembicaraan
paling aneh, menakutkan, dan sangat diluar dugaanku itu terjadi beberapa waktu
yang lalu.
“K-k-kamu.
Prabu Siliwa-wangi. Maung... Maung? Belakangku?”
“Sarah,
tenang. Tenang. Aku dan Maung‘nggak seseram yang kamu bayangkan.”
Punggungku malah semakin tidak nyaman,
menari-nari selagi bulu kudukku ereksi.
Lalu
akupun berlari ke hutan lalu belok ke pantai menuju rumahku—yang
sebenarnya cukup jauh dari sini—lalu terjatuh di tengah jalan, terlalu lemah
dan syok menghadapi kenyataan.
Mungkin
aku yang bodoh atau Sammy yang pintar, ia mengejarku dengan motor scoopynya.
Muak aku dengan Sammy.
Aku
terus berlari, sampai suara motor yang dikeluarkan secara khas oleh motor Sammy
terdengar samar, sampai akhirnya lenyap dalam suara jangkrik malam. Aku tengokkan
badanku ke belakang. Bagus. Dia berhenti mengejar.
Hidupku tentram untuk beberapa saat.
Dan
di saat-saat seperti ini, Bastian, secara ajaib, mulai menghubungiku
lagi—berbasa-basi tentang hidup dan lain sebagainya.
Namun
rasa itu masih ada. Rasa labil yang kurasakan beberapa hari ini: Sammy atau
Bastian.
Ditambah
dengan kenyataan bahwa Sammy adalah individual turunan Prabu Siliwangi, yang
bisa mengancam nyawaku, membuatku semakin labil.
Tapi
rasa ini juga—yang membuatku menerima Sammy sebagai ‘pacar’ku beberapa hari
yang lalu—rasa benci padanya, yang malah membuatku sayang. Ada apa denganku?
---
“Kapan kamu bisa temenin aku
ngelepas Maung?”
Tidak mungkin. Apa maksud dia berkata demikian?
“Aku
memang hanya satu-satunya keturunan Prabu Siliwangi yang masih punya Maung,
yang bisa muncul kapanpun. Tapi demi kamu, ‘nggak apa-apa, aku rela melepas
Maung. Asal kamu tetap sama aku. Janji?”
Ya. Tidak. Ya. Tidak. Ya. Ya! Katanya,
pilihan terbaik itu adalah menerima, dan sekarang giliran hati kecilku bicara.
Aku akan tetap bersama Sammy.
“Benar ya, kata orang-orang,
bahwa orang yang sedang dimabuk asmara pasti rela melakukan hal-hal gila untuk
pujaan hatinya,” kataku sambil tersenyum kecil.
“Aku anggap itu sebagai ‘ya’,”
balasnya, yang disusul dengan kekehan.
“Yaudah deh. Kapan kamu mau
ngelepas Maungnya?”
“Secepatnya.”
“Bukannya harus pake ritual
segala, ya?” tanyaku.
“Nanti kamu tunggu hasil
akhirnya aja. Sisanya aku yang urus,” tukasnya, sambil merangkulku hangat.
Hari demi hari terlewati tanpa
momen yang berarti. Hubunganku dan Sammy berlangsung stabil, malah cenderung
monoton. Sedangkan Bastian,terkadang, muncul di hidupku dan mengusik hatiku.
Ujian Nasional sudah kulewati.
Tempatku untuk lanjut menuntut ilmu jatuh pada Universitas Sebelas Maret,
Surakarta, Jawa Tengah. Hal ini otomatis dapat membuat jiwaku dan Sammy
merenggang—ya,secara harafiah karena jarak. Walaupun kata Joko Pinurbo, “Jarak itu tidak ada, pertemuan dan
perpisahan dilahirkan oleh perasaan,” tapi tetap saja ini menjadi awal
sebuah kendala baru bagi kami.
Sammy yang semakin overprotective dan aku yang cuek bebek, menjadi sebuah permasalahan
yang sangat bertolak-belakang. Pernah kali itu, aku sibuk dalam organisasi di
kampus, sehingga HP kumatikan, betapa kagetnya diriku saat ternyata dia
menghubungi semua temanku, menanyakan tentang kabarku seharian ini.
Sebenarnya, selain karena
perasaan sayang dan janjiku padanya, hal yang membuatku terikat dengan Sammy
adalah karena restu Ibuku perihal jaminan hidup. Hal ini dikarenakan oleh Sammy
yang mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas ternama, Atma Jaya.
Namun hal yang membuatku bingung
adalah kenapa Sammy memiliki banyak waktu luang, di tengah ketatnya peraturan
universitas swasta?
Pertanyaanku itu terjawab
setelah Wendy, teman perempuan Sammy yang satu universitas denganku, datang ke
kos-kosanku siang tadi.
“Sejauh ini, kamu gimana sama
Sammy? Bukannya sejarah dia nakal-nakal gitu, ya?” katanya.
“Ah, enggak, sama aku ‘sih
baik-baik aja,”
“Memangnya kamu konek, apa, sama
dia?” tanyanya, “kamu ‘kan sastra banget, sedangkan dia anak Teknik?”
Deg.
“Ha? Maksudnya?”
“Ya iya, ‘kan dia jurusan Teknik
di Universitas Mpu Tantural?”
“Engga, bahkan! Wong dia anak kedokteran di Atma Jaya?”
“Sarah, Sarah,” ejeknya sambil terkekeh kecil, “mau aja kamu dibohongin sama manusia seperti itu.”
Bersambung.
Bersambung.
Di depan matamu donald trump menjabat????
BalasHapusdAFUQ INI GURUMU???!!!
BalasHapusk e n a p a