Rabu, 02 Maret 2016

untitled #3

Waktu itu baru pukul lima pagi, matahari baru muncul dari peraduannya
Burung belum ada yang terbang, dinginnya atmosfir masih menusuk tulang
Mencabik diri, secara harafiah dan dalam majas, merobek daging

"Ngapain bangun pagi-pagi?" sapa Sang Cermin
Kuciptakankan sebuah senyum kecil, lalu kukedipkan mata
Berharap dia hilang dan tak lagi datang
Lenyap dalam angan-angan
Bersama desau angin yang berhembus kencang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar