Jadi,
mau curhat.
Ergh-erm.
Kita semua tau kapasitas otak manusia ada batasnya.
Maksudnya—ya, katanya bahkan Albert Einstein yang
disebut-sebut sebagai orang terpintar sejagad ini hanya menggunakan 10% dari
otaknya—tapi bukan batasan itu yang gue maksud. Kayak, ya, nggak bisa menampung
terlalu banyak pelajaran atau informasi sekaligus, kan?
Tapi nggak goblok-goblok juga kaleee.
Gue rasa bahasa udah nggak
dipentingin lagi deh sekarang. Kenapa ya? Padahal kan, yang utama dari semuanya
adalah kita bisa berkomunikasi satu sama lain. Mau diapain itu pelajaran kalo
nggak bisa dimengerti karena bahasanya gajelas? Mau diapain itu informasi kalo
nggak bisa diomongin karena nggak bisa menyusun diksi dengan benar?
Bahkan
sekarang jurusan bahasa udah jarang. Kalopun ada, dibilang jurusan terbuang.
Padahal, dari jurusan ini timbul orang-orang besar—jurnalis, penulis, dst.
Sekolah gue
punya wadah kecil untuk anak-anak yang punya minat di bahasa, yaitu Jurnal
Club. Gue wakilnya, temen gue—sebut aja nabnab adalah ketuanya, dan rorel—sebut
saja begitu—adalah wakil dari pelaksananya.
Salah satu
pengalaman yang kami dapatkan bertiga adalah memeriksa, menyeleksi dan
mengoreksi hasil kerjaan anak-anak lain. Dan,
A S T A G H F I R U L L A H,
kalo itu
saya lakuin sendiri mungkin saya bisa gila. Sekian banyak artikel yang
dikumpul, sekian banyak cerpen yang dibuat, sekian banyak ulasan profil yang
akan dimuat—masa kapitalisasi aja salah? Nggak usah jauh-jauh deh, titik koma
aja salah. Kalimat nggak efektif semua, contoh: “saya sangat senang banget,” “saya
turun ke bawah,” atau bahkan nggak bisa ngebedain kami dan kita. Please, udah SMP lho!
Jadi, untuk itu, gue memutuskan
untuk menampar dan membuang mereka ke bara api, lalu meminta iblis untuk datang
dan membawa mereka ke kerak terdalam neraka untuk disiksa membuat pengajaran dan pembelajaran untuk Jurnal Club yang lebih baik.
Dah. Cuma pengen curhat gitu aja.
HEHEHE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar