Minggu, 20 Maret 2016

( cerbung ) sambas: FOLIA #3

SAMBAS :
F O L I A



Jakarta, 1 Juli 2011
12.46 WIB: Sarah, angkat telponku! Sudah dua hari kamu nggak balas SMSku. Kamu kemana?
12.50 WIB: Sarah, balas!
12.29 WIB: Sarah. Jawab aku sekarang.
19.57 WIB: ?
19.57 WIB: Sarah, AKHIRNYA! Kenapa kamu gak bales SMSku, sih?
           
Karena kamu telah berbohong padaku, bodoh.

            Aku bukan tipe perempuan yang bisa dibohongi. Apalagi dibodohi. Entah kenapa, dari dulu, aku punya naluri yang tinggi serta firasat yang hampir selalu akurat,biasa dikatakan kemampuan berintuisi. Ada saja yang datang dan memberi tahu kejujuran yang sebenarnya terjadi. Dan kali ini, kedatangan Wendy membuka semuanya.

20.24 WIB: Km kuliah dmn, hah?
20.25 WIB: Maksudmu apa sih, Sayang, kan kamu sudah tahu aku kuliah di
Atma Jaya?
20.29 WIB: Km bohong sekali lg kita bubar. Kamu kuliah dmn?
20.31 WIB: Kamu udah tahu ya?
20.31 WIB: Maafin aku, Sar… Aku terpaksa bohongin kamu.

            Setelah membaca kalimat SMS yang terpampang di layar telepon lipat kunoku itu, lantas aku tertawa. Tertawa sangat lebar, hingga aku sendiri bingung kenapa pipiku basah. Air dari mana ini? Ah, dari mataku. Aku menangis. Menangis dalam diam. Ditemani jangkrik malam. Dalam suasana suram. Wah, berima.

---

             Bisik-bisik mulai terdengar dari seluruh penjuru kelas. Awalnya  bisikan, namun berakhir dengan kegaduhan.
“Masih mau diceritain, gak? Kalo nggak ibu keluar nih,” kalimat andalanku sejak aku pertama kali mengajar menjadi guru itu berhasil membuat sekelas menjadi hening seperti semula. Aku diam, mereka diam. Hening berkepanjangan itu dipecah oleh suara Eme dari ujung kelas.
“Terus, gimana Bu?”
Aku lalu menarik nafas panjang, dan mataku perlahan mengarah ke kiri bawah, yang mengindikasikan bahwa aku sedang mengenang sebuah peristiwa dari masa lampau.

---

Aku tidak menggubris semua telpon dan SMS dari nomor berakhiran 807,
nomor Sammy. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku akhir-akhir ini dalam diam. Entah sudah berapa orang yang menanyakan ada apa denganku, namun aku lelah. Aku butuh sendiri.
            Lamunan kosongku terputuskan oleh suara nyaring dering telepon yang berasal dari arah meja belajarku, Ibu menelpon.
“Sarah?”
“…”
“Sarah, kamu kenapa, Nak?”
Aku menceritakan semuanya kepada Ibu. Dia kecewa. Dia marah. Dia menumpahkan semua luapan emosinya. Dia kecewa karena sebelumnya dia telah merestui hubungan kami berdua, namun lelaki berengsek itu menghancurkan semua kepercayaan yang telah Ibuku berikan.
“Kepercayaan itu harganya mahal, Nak. Sekali dia berbohong, apa bakal Ibu percaya lagi padanya seperti semula?” Kalimat Ibuku itu terus terngiang-ngiang dalam benakku, membuatku terus berpikir, sampai aku—baik fisik maupun batinku lelah.
Sedangkan ayahku? Ah tak perlu ditanya, bahkan dia mungkin tak tahu hubunganku dengan Saammy. Ayahku memang aneh, makanya aku menobatkannya sebagai Ayah ter-aneh di dunia.
Saat itu usiaku genap delapan tahun. Ayah-ayah pada umumumnya mungkin akan memberikan boneka baru, baju baru, kado lumrah untuk anak perempuan seusiaku. Namum berbeda dengan ayahku, dia justru datang ke kamar tidurku membawa gunting, bukan, itu bukan praktek pembunuhan. Dia berjalan pelan-pelan menghampiriku, mengucapkan selamat ulang tahun dengan seringaian lebar, kemudian dia menggunting beberapa helai rambutku, dengan tujuan entah apa.
Ketika mulut polos dan inosenku menanyakan untuk apa dia menggunting rambutku, ia menjawab, “Agar jika kamu meninggal duluan, ayah akan membuatkan kloningan dirimu,” sambil tersenyum kecut.
Dulu aku belum mengerti. Namun setelah aku mengerti maksud dari kloning—menghidupkan kembali apa yang telah tiada—aku setengah percaya bahwa ayahku akan benar-benar akan membuat kloningan diriku.
Bahkan, menghidupkan aku kembali dengan mengloningkan diriku lebih mudah dari menghidupkan lagi bara cinta yang sudah padam.
Ayahku memang memiliki obsesi yang aneh terhadap dunia IPA. Dia selalu menciptakan penemuan-penemuan aneh yang ‘tak pernah aku dan Ibuku pahami. Dia selalu larut dalam pemahamannya sendiri, dan cenderung mengabaikan dunia luar, persis seperti yang terjadi sekarang.


---

Berhubung liburan semester telah tiba, maka disinilah aku sekarang. Pulang ke Jakarta. Menikmati senja di ibukota ditemani secangkir kopi yang kurasa mulai mendingin—kelamaan kubiarkan, selagi aku memikirkan masalahku yang makin lama makin bejibun.
Ibukota.
Ibukota itu seperti rumah yang tak nyaman lagi ditinggali, namun dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang tanpa peduli datang dan kemudian pergi, karena bagi mereka, ibukota adalah lebih dari itu. Begitu juga bagiku. Namun secara otomatis, otakku terputar untuk kembali memikirkan masalahku, daripada memusingkan masalah tentang ibukota.
Cahaya matahari mulai perlahan menghilang dari pandanganku, senja.
Aku suka senja, aku suka caranya menjemput malam. Dia menghadirkan keindahan dalam bentuk matahari tenggelam.
Aku suka senja, dengan warna-warni kehitaman, mendatangkan pilunya malam, kesendirian dalam kelam.
Aku suka senja, ia membawaku ke dimensi kegelapan, pekat dengan datangnya malam.
Ayahku selalu mengajarkanku, bahwa setiap peristiwa penting yang berkelanjutan dalam hidup bisa dibagi menjadi empat; radix, yang adalah akar, awal dari segala masalah, caulis, yang adalah batang, dimana masalah mulai menegang, folia, yang adalah daun, masalah sudah mulau bercabang dan akan berakhir, serta fructus, yang adalah buah, dimana masalah berakhir dengan akhir yang bahagia dengan buah-buah kehidupan yang bisa dipetik.
Aku harap ini adalah bagian folia. Aku ingin semuanya segera berakhir.
Bel rumahku menganggu lamunanku.
Agak tergesa, aku berjalan meninggalkan balkon kamar, bergegas membukakan pintu bagi entah siapa yang berada di balik pintu sana.
Aku terkejut. Oh tidak, drama kehidupan ini sedang membuat sekuel, rupanya?
“Lah, Bas? Ngapain kamu disini?”

---

Setelah itu kami berbincang-bincang di ruang tamu, dan Bastian mengutarakan tujuannya datang ke rumahku. Namun yang membuatku bingung, darimana dia tahu kalau aku sedang berlibur ke Jakarta?
Bastian baru saja pulang beberapa menit yang lalu. Aku memutuskan untuk mengisi kekosongan dengan membawa secangkir kopi dan sebuah novel karangan salah seorang Sastrawan Indonesia, lagi-lagi menuju balkon kamarku, menikmati malam ibukota yang lama tak kujumpa. Malam. Aku lebih suka malam, yang menghadirkan sepi mencekam. Namun menyisipkan kenyamanan, walaupun dalam kesendirian.
“Jadi, daripada liburan kali ini lo kurang kerjaan di rumah, gue ajak lo buat kita mendaki gunung Merapi bareng-bareng, nanti ada teman-teman gue juga,”tawar Bastian.
“Hah? Kita? Daki gunung barengan?” tanyaku masih tak yakin.
“Iya. Semua perlengkapan, tenda dan lainnya, udah beres di tangan teman gue. Gimana?”
Lamunanku terpecah, baru menyadari satu hal. Sejak kapan pula Bastian tahu kalau aku ini pecinta alam?
Entahlah. Aku lelah. Aku butuh sendiri.

---

Pagi ini ada yang berbeda. Aku merasakan sesuatu yang ganjil dari arah kakiku. Ah, ya, aku ketiduran di sofa ruang tamu kemarin malam, karena menunggu kedua orangtuaku pulang. Aku lantas melihat keganjilan apa yang ada di kakiku.
Terperanjat kaget.
Itu hal yang pertama kulakukan, dan buru-buru membenarkan posisi menjadi duduk bersila di sofa—setengah jijik.
Ada Sammy. Sedang mencium kakiku. Dengan sebuket bunga di sebelahnya, serta sebuah tulisan “Maaf” diantara bunga-bunga itu.
“Sar... Aku minta maaf,” kata Sammy perlahan
Aku diam tak berkutik.
“Sumpah, Sar, tanggepin lah! Maafin aku.” Sammy mengatakannya dengan penuh penekanan. Aku melempar pandangan menuju jam dinding, jam lima pagi. Siapa lagi lelaki yang datang mau jam lima pagi, meminta maaf sambil mencium kaki, serta membawakan sebuket bunga? Hanya Sammy seorang.
Salahkan hatiku yang sangat mudah tersentuh ini. Setengah emosional, setengah tanpa emosi. Karena, secara perlahan, bibirku tertarik membentuk lengkungan. Setelah itu aku tertawa lebar, Sammy ikut tertawa bersamaku.
Mengapa kami tertawa?
Kami memutuskan untuk membuat sarapan dengan kemampuan memasak alakadarnya.
“Aku udah mikir buat perbaikin hubungan kita. Aku mau kita ulang dari awal lagi, Sar. Kita lupain semua masalah yang udah lewat,” katanya sambil tersenyum sok misterius, “karena itu aku punya rencana, aku mau ajak kamu buat mendaki Gunung Merbabu sama-sama, menjadi awal dari kita yang baru, sekalian refreshing dari kepenatan kita masing-masing,” lalu ia tersenyum lebar.
Aku mengernyit bingung—sekaligus panic karena Bastian juga mengajakku.
Sammy seolah paham bahasa tubuhku. “Aku tau lah minat kamu. Kamu masuk ke GWB UNS‘kan? Organisasi pecinta alam itu?”

Lalu, pintu rumahku terbuka.
“Sar?”
Itu Bastian.


bersambung

Jumat, 18 Maret 2016

Bulan, Langit, Malam

Malam itu bulan sedang terluka
Langit malam sedang berduka
Seorang anak manusia sedang menderita
Punya kawan tidak, sepi tanpa bahu untuk menopang dan cinta untuk bersua

Malam itu bulan sedang terluka
Langit malam sedang berduka
Para jangkrik dan kunang malam sedang menghibur
Seorang anak manusia yang menderita

Malam itu bulan sedang terluka
Langit malam sedang berduka
Cerita, curahan, dan doa naik ke angkasa
Seiring nyanyian pilu terdengar dari seorang anak manusia yang menderita

Malam itu bulan sedang terluka
Langit malam sedang berduka
Seorang anak manusia ingin memusnahkan jarak
Untuk memeluk bulan lebih dalam

Malam itu bulan sedang terluka
Langit malam sedang berduka
Tetes air mata yang keluar dari seorang anak manusia
Membuat angkasa menderukan hujan yang pilu, buat kelu

Malam itu bulan tidak lagi terluka
Langit malam jadi bersuka
Karena anak manusia tidak lagi ada
Sudah bersama bulan, bintang, dan langit di angkasa sana

Supernova?

Tahukan, gimana rasanya baca novel serial? Mau tahu akhir ceritanya, tapi nggak pengen cerita itu sendiri berakhir.

Gue ngerasain itu cuma di novel serial Supernova karya Dee Lestari.
Novel serial yang gue baca selain Supernova enggak banyak, paling-paling The Hunger Games dan Divergent. Eh, sama Saman-nya Ayu Utami. Tapi belum baca lanjutannya sih, Larung. Hehehe. Tapi nggak kerasa feel-nya.

Gue mulai baca Supernova kelas tujuh, umur gue 12 (tahun. Masak bulan.) Belum ulang tahun ke-13 waktu itu, baru mau. Jadi sekitar pertengahan November 2014, gue pergi ke toko buku Gramedia tanpa tujuan mau beli buku apa. Tiba-tiba ngeliat serial buku Supernova di tempat paling depan. Kebetulan Gelombang baru mau rilis kalo nggak salah. Ngeliat covernya sih kayak keren-keren gitu, jadi beli Ksatria Putri dan Bintang Jatuh dan Akar. Begitu baca, wah, nggak bisa ngomong lagi deh. Rasanya tiba-tiba jadi manusia dewasa. Kayak, tiba-tiba aja gitu. Umur gue sendiri sekarang 14, tergolong muda sih buat baca semuanya. Setau gue bahkan, dari tiga angkatan SMP sekolah gue cuma 4 orang yang baca semua, termasuk gue.

Langsung deh cerita ke sini-situ tentang Supernova (, dan enggak ada yang tertarik. Bukan karena enggak bagus, tapi mereka bilang baca sebentar saja sudah pusing, astagfirullah, berikan aku ketabahan. Yea. Gak selebay itu.) Eeeeh, ulang tahun yang nggak jauh(-jauh amat) dari November malah dikasih Petir, Partikel, dan Gelombang sama temanku. Senang.
Setelah selesai membaca semuanya, gue nggak sabar banget baca yang keenam. Buku terakhir. Lagi nggak sabar-sabarnya, ngintip instagram Mak Dee Lestari, dan TERNYATA??!?!?!!! ada foto kertas besar, kosong, yang katanya akan menjadi kumpulan inti-inti awal dari serial Supernova terakhir, Inteligensi Embun Pagi (IEP). KoSOnG?! Astaga. Nggaququ.
Nggak kehitung berapa kali gue baca ulang buku-buku Supernova sambil nunggu IEP. Gara-gara bete banget, sempet ngambek gitu kan. Rasanya kalo datang ke toko buku dan ngeliat barisan buku Supernova, bawaannya dengki. Biasanya sih aku lirik sinis, terus ngomong dalem hati. Diem lo semua, pengkhianat! Gausah liat-liat gue. Lagian lama banget rilisnya (lah lo siapa Thur???). Huh.
Sampe akhirnya, eeeeeeeeeh, ada desas-desus IEP mau keluar. Seneng banget. Nggak bohong. Temanku yang dapat tiket gratis ke launching IEP sekaligus penutup resmi dari Supernova di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia karena menang lomba fotografi ngajak aku dan kedua temanku (yap, kita berempatlah yang baca Supernova dari tiga angkatan) untuk ikut. Gangerti lagi, seneng banget. Mana ada musikalisasi yang dibawakan sama Dee Lestarinya sendiri, Joko Anwar, Chicco Jericho, banyak deh!

Hari H. Nyampe-nyampe kecepetan sejam. Ganjil kali ya ngeliat empat orang anak kecil—badan gue gede banget sih, kayak anak kuliahan, tapi kan, gitu deh—dateng ke acara peluncuran buku IEP. Sampai-sampai, tiga orang jurnalis dari H* Onl*** yang duduk di sebelah kita sambil nunggu buka percakapan. Begini;

Jurnalis 1: kalian—semuanya, udah pada baca Supernova?
Berempat: udah kak. Hehehe.
Jurnalis 2: wih, umur berapa?
Berempat: 14. (ada juga yang menyahut 13)
Jurnalis 1, 2, 3: terkejut setengah mati.
Hehehe, nggak deng, hiperbolis lu Thur!!!!!
Jurnalis 1: baca apalagi selain Dewi Lestari?
Gue: Ayu Utami kak, yang Saman.
Temen 1: aku juga.
Jurnalis 3: mereka bukan anak-anak. Mereka udah baca begituan.
Jurnalis 1: begituan apa?
Jurnalis 3: tersenyum canggung karena salah tingkah.
Sampai akhirnya, kita dimintain alamat blog dan nama sosial medianya.
Singkat cerita, setelah segala hal yang kulalui, akhirnya gue mulai baca Inteligensi Embun Pagi.

Dag-dig-dug juga sih. Tebel abis, 700 halaman. Gue suka baca, but I’m not a fast reader. At least, nggak selalu. Buku ini habis di tanganku selama tiga hari membaca.

Nggak tahu ya, perasaanku campur aduk.  Seneng iya, sedih iya, kecewa iya, semangat iya, emosi iya. Rasanya pengen ganti alur ceritanya biar perasaannya jadi seneng aja.
Aduh. Rasanya ngeliat halaman terakhir dan terpampang di bagian bawah:

TAMAT

itu gimana sih? Gue ngerasa sangat… hampa. Kurang. Kesel. Akhirnya gue tutup bukunya, sedikit kecewa, sedikit bahagia, sambil ngomong dalam hati, “Seenggaknya gue udah tahu akhirnya gimana.”

Akhirnya, gue cuma mau bilang, membaca Supernova adalah salah satu hal paling berkesan di hati gue sih hehe. Terima kasih banyak Mak Dee atas semua kerja kerasnya. Love u! He.

Rabu, 16 Maret 2016

untitled #4


Aku benci kisah romansa
Seperti membuatku terbuang tanpa asa
Kisah tak jelas tentang asmara
Buatku ingin mati tanpa kepala

Aku ingin merasakan samsara
Dan hidup abadi tanpa sengsara
Apakah akan ada racikan derita?
Akankah aku hidup bahagia?

Tanpamu aku hanyalah surat tanpa tujuan
Terbang ke angkasa, jatuh di hadapan
Hanya selapis batin yang memisahkan aku dan engkau
Tetap aku berteriak—tanpa suara—parau

Tanpamu, hidupku hanyalah rangkaian kata-kata cinta tanpa penerima
Tanpa bisa menggapai apalagi bersua
Kau bukanlah lagi keheningan yang berteriak sebelum suara
Jembatan ilalang terlanjur ada di antara kita


Rabu, 09 Maret 2016

ada kunang disana

ada berjuta bintang malam ini ;

Sang Ratu Malam sedang bahagia,
menunjukkan angkasa seluruh mukanya
terlihat anggun mempesona,
anggun s'bagai purnama

tertidur aku, walau tak enak di dada
tanpa cinta atau rasa

namun tenang, ada kunang disana

menungguku, setia
melihatku dalam suasana
menunggu asa
yang tak juga ada

namun tenang, ada kunang disana

menungguku, setia

Selasa, 08 Maret 2016

( cerbung ) sambas: CAULIS #2

SAMBAS:
C A U L I S



Berlari dan berteriak. Itu hal pertama yang terlintas di pikiranku.
      Tongkat besi kecil dan pecut terlempar keluar dari tas Sammy. Presiden Amerika Serikat adalah Donald Trump. Dunia ini menjadi damai. Indonesia bebas korupsi dan polusi.  Eropa beriklim tropis.
      Hal-hal di atas adalah daftar hal yang mustahil terjadi, dan salah satunya terjadi barusan saja, depan mataku.   

---

“Aku keturunan Sultan Prabu Siliwangi. Kamu tahu mitos tentang Maung?”suara Sammy terdengar samar-samar dari tempatku termangu.
Maung itu adalah semacam jelmaan harimau, yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi ke beberapa keturunannya.
      “Ya. Pernah denger.”
      “Maung yang hitam tadi lepas. Yang putih ada di belakang kamu. Aku suruh dia buat jagain kamu.”
      Pembicaraan paling aneh, menakutkan, dan sangat diluar dugaanku itu terjadi beberapa waktu yang lalu.
      “K-k-kamu. Prabu Siliwa-wangi. Maung... Maung? Belakangku?”
      “Sarah, tenang. Tenang. Aku dan Maung‘nggak seseram yang kamu bayangkan.”
      Punggungku malah semakin tidak nyaman, menari-nari selagi bulu kudukku ereksi.
      Lalu akupun berlari ke hutan lalu belok ke pantai menuju rumahku—yang sebenarnya cukup jauh dari sini—lalu terjatuh di tengah jalan, terlalu lemah dan syok menghadapi kenyataan.
      Mungkin aku yang bodoh atau Sammy yang pintar, ia mengejarku dengan motor scoopynya.
      Muak aku dengan Sammy.
      Aku terus berlari, sampai suara motor yang dikeluarkan secara khas oleh motor Sammy terdengar samar, sampai akhirnya lenyap dalam suara jangkrik malam. Aku tengokkan badanku ke belakang. Bagus. Dia berhenti mengejar.
      Hidupku tentram untuk beberapa saat.
      Dan di saat-saat seperti ini, Bastian, secara ajaib, mulai menghubungiku lagi—berbasa-basi tentang hidup dan lain sebagainya.
      Namun rasa itu masih ada. Rasa labil yang kurasakan beberapa hari ini: Sammy atau Bastian.
      Ditambah dengan kenyataan bahwa Sammy adalah individual turunan Prabu Siliwangi, yang bisa mengancam nyawaku, membuatku semakin labil.
      Tapi rasa ini juga—yang membuatku menerima Sammy sebagai ‘pacar’ku beberapa hari yang lalu—rasa benci padanya, yang malah membuatku sayang. Ada apa denganku?

---

      “Kapan kamu bisa temenin aku ngelepas Maung?”
      Tidak mungkin. Apa maksud dia berkata demikian?
      “Aku memang hanya satu-satunya keturunan Prabu Siliwangi yang masih punya Maung, yang bisa muncul kapanpun. Tapi demi kamu, ‘nggak apa-apa, aku rela melepas Maung. Asal kamu tetap sama aku. Janji?”
      Ya. Tidak. Ya. Tidak. Ya. Ya! Katanya, pilihan terbaik itu adalah menerima, dan sekarang giliran hati kecilku bicara. Aku akan tetap bersama Sammy.
      “Benar ya, kata orang-orang, bahwa orang yang sedang dimabuk asmara pasti rela melakukan hal-hal gila untuk pujaan hatinya,” kataku sambil tersenyum kecil.
      “Aku anggap itu sebagai ‘ya’,” balasnya, yang disusul dengan kekehan.
      “Yaudah deh. Kapan kamu mau ngelepas Maungnya?”
      “Secepatnya.”
      “Bukannya harus pake ritual segala, ya?” tanyaku.
      “Nanti kamu tunggu hasil akhirnya aja. Sisanya aku yang urus,” tukasnya, sambil merangkulku hangat.
      Hari demi hari terlewati tanpa momen yang berarti. Hubunganku dan Sammy berlangsung stabil, malah cenderung monoton. Sedangkan Bastian,terkadang, muncul di hidupku dan mengusik hatiku.
      Ujian Nasional sudah kulewati. Tempatku untuk lanjut menuntut ilmu jatuh pada Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Hal ini otomatis dapat membuat jiwaku dan Sammy merenggang—ya,secara harafiah karena jarak. Walaupun kata Joko Pinurbo, “Jarak itu tidak ada, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan,” tapi tetap saja ini menjadi awal sebuah kendala baru bagi kami.
      Sammy yang semakin overprotective dan aku yang cuek bebek, menjadi sebuah permasalahan yang sangat bertolak-belakang. Pernah kali itu, aku sibuk dalam organisasi di kampus, sehingga HP kumatikan, betapa kagetnya diriku saat ternyata dia menghubungi semua temanku, menanyakan tentang kabarku seharian ini.
      Sebenarnya, selain karena perasaan sayang dan janjiku padanya, hal yang membuatku terikat dengan Sammy adalah karena restu Ibuku perihal jaminan hidup. Hal ini dikarenakan oleh Sammy yang mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas ternama, Atma Jaya.
      Namun hal yang membuatku bingung adalah kenapa Sammy memiliki banyak waktu luang, di tengah ketatnya peraturan universitas swasta?
      Pertanyaanku itu terjawab setelah Wendy, teman perempuan Sammy yang satu universitas denganku, datang ke kos-kosanku siang tadi.
      “Sejauh ini, kamu gimana sama Sammy? Bukannya sejarah dia nakal-nakal gitu, ya?” katanya.
      “Ah, enggak, sama aku ‘sih baik-baik aja,”
      “Memangnya kamu konek, apa, sama dia?” tanyanya, “kamu ‘kan sastra banget, sedangkan dia anak Teknik?”
      Deg.
      “Ha? Maksudnya?”
      “Ya iya, ‘kan dia jurusan Teknik di Universitas Mpu Tantural?”
      “Engga, bahkan! Wong dia anak kedokteran di Atma Jaya?”
      “Sarah, Sarah,” ejeknya sambil terkekeh kecil, “mau aja kamu dibohongin sama manusia seperti itu.”


Bersambung.

Aku Ingin Bebas

aku ingin bebas
berlarian dalam hutan
menyatukan kaki dengan rerumputan basah
menari-nari dalam hujan

aku ingin bebas
merajut asa dalam hati
tertawa lepas
melihat matahari yang baru pulang

aku ingin bebas
tertidur dalam harapan
berlari menerjang angin
pergi dari semua dan tak kembali lagi

aku ingin berteriak
"aku ingin bebas!"
dan aku ingin bebas

Rabu, 02 Maret 2016

untitled #3

Waktu itu baru pukul lima pagi, matahari baru muncul dari peraduannya
Burung belum ada yang terbang, dinginnya atmosfir masih menusuk tulang
Mencabik diri, secara harafiah dan dalam majas, merobek daging

"Ngapain bangun pagi-pagi?" sapa Sang Cermin
Kuciptakankan sebuah senyum kecil, lalu kukedipkan mata
Berharap dia hilang dan tak lagi datang
Lenyap dalam angan-angan
Bersama desau angin yang berhembus kencang


untitled #2

tak ada yang lebih indah
dari kumpulan delusi
berkumpul jadi serpihan ilusi
yang terbawa dalam mimpi

karena hidup ini
tidak selamanya mulus,
karena hidup ini
tidak selamanya tulus

karena sayang,
hidup ini bukan delusi
bukan juga ilusi
apalagi mimpi

karena sayang,
hidup ini pahit

Selasa, 01 Maret 2016

untitled #1

Malam ini dingin
Di tepian, tempatku berada,
gigiku menggertak
Mataku sembab
Hatiku takut

Aku hanya ingin berlari,
berlari dari bayang-bayang
bayang kuasa malam yang pilu
bayang makhluk itu, yang malu

Tapi hati ini merindu
Hati ini tak mampu

senja;

Perlahan aku mengangkat tatapku
dan membuka mata
Menatap indahnya Jakarta kala sore
Lalu cahaya matahari perlahan menghilang dari pandanganku, 

senja.

Aku suka senja, 
aku suka caranya menjemput malam. 
Dia menghadirkan keindahan dalam bentuk matahari tenggelam.

Aku suka senja, 
dengan warna-warni kehitaman, 
mendatangkan pilunya malam, 
kesendirian dalam kelam.


Aku suka senja, 
ia membawaku ke dimensi kegelapan, 
pekat dengan datangnya malam.

( cerbung ) sambas : RADIX #1

SAMBAS:
RADIX

“Bu, jadi mantan itu contoh peyorasi ya, Bu?” tanya salah seorang murid ditengah kericuhan kelas.
“Ih, tuh pinter, tumben tau!” sergahku langsung.
“Iya dong, saya emang pinter, Bu. Lagian, peyorasi kan maknanya makin jelek, sebelas dua belas tuh sama yang namanya ‘mantan’ ,” Emeryn menyambar dengan menggebu-gebu.
“HOOOOO APAAN SIH EME,” sorak satu kelas yang membuatku sontak menoleh.
 “Lagi mikirin mantan, ya?” candaku lagi.              
 “HOOOOO APAAN SIH IBU”, sorak satu kelas, lagi.
Spontan, aku menyilangkan kedua tanganku di dada sambil berkata, “Udah?”, sekelas langsung diam, “udah arisannya?”
“UDAAAAAHHHHHHH,” serbu mereka, kompak. Dasar, anak-anak jahanam.
Entah mengapa, karena seluruh bahasan tentang mantan ini, malah membuatku terenyak kembali ke putaran arus waktu beberapa tahun yang lalu.
Masih dua SMA. Belum tepat, sebenarnya, untuk begitu-begini, tapi aku malah tenggelam dalam cinta segitiga, antara aku dan dua-manusia-yang-entah-dimana-keberadaannya-sekarang.

---

Namaku Sarah Wayne. Umurku masih 16 tahun, sebentar lagi 17. Hidupku sibuk disana-sini, aku termasuk anak aktif dan populer di sekolah, maupun di lingkungan luar. Seperti nanti sore, aku akan mengikuti rapat KAJ yang diikuti oleh seluruh remaja Katholik se-Jakarta yang bersekolah di SMA Negri.
Aku bukan tipe anak yang religius, tapi lumayanlah, menghabiskan waktu luang sambil cuci mata, ngeliatin cowo-cowo baru. Jadi fresh, gitu.
Kayak yang itu, yang duduk di pojokkan, sendirian. Mukanya, sih, lumayan ya. Keliatannya ‘sih, dia ganteng-ganteng pemalu. Kakinya panjang, kayaknya tinggi. Anak kuliahan, keliatan dari mukanya yang udah terbebani. Tapi yasudahlah, itu hak dia, ‘kan, untuk duduk sendirian?
Rapat kali ini berlangsung sangat lama, baru selesai pukul delapan malam. Saat aku sedang hendak mencari angkutan umum untuk pulang, terdengar suara Mas Danang, salah satu senior, memanggilku.
“Sarah”, panggilnya,”Mau dianterin pulang ‘ngga? Tapi bukan sama gue,” tawarnya. Lah, kok gitu?
“Lah, sama siapa dong?” tanyaku, bingung. Mas Danang lalu tersenyum kocak, sambil menunjuk cowo di sebelahnya. Ah, familiar. Eh, itu ‘kan cowo tadi?
“Kenalin, ini Sammy. Sammy Harmono, anak baru di sini. Mau kenalan sama lo, tapi malu,” ujarnya sambil terkekeh licik. Sammy terlihat panik-panik malu. Ih, kok lucu sih do’i?
Entah ada setan macam apa, aku hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Lantas, Mas Danang menyeringai, lalu bersorak, “Cieee, langsung iya aja nih. Cihuy!” Dasar, Mas-Mas jahanam.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Sammy semakin dekat. Kami bertukar nomor telepon seluler, dan saling SMS-an. Kata teman-teman, ‘sih, dia sedang berusaha mendekatiku. Namun, dalam jangka waktu yang bersamaan pula, ada salah seorang teman SD-ku yang juga mendekatiku.
Namanya Bastian, anaknya kalem. Menurut rumor, ‘sih, dia sudah menyukaiku sejak jaman batu, sejak Adam dan Hawa diciptakan. Luaama banget, tapi aku-nya aja yang nggak sadar, atau aku-nya yang ‘nggak peka ya?
Mereka berdua sama-sama sering main ke rumah, dan aku juga sering berinteraksi dengan keduanya. Keduanya sama-sama baik, sama-sama ganteng, apalagi perhatian. Keduanya juga sama-sama serius dalam berhubungan.
Bastian cenderung lebih ke sifat apa adanya, sementara Sammy cenderung agresif.  Seperti kali ini, Bastian justru membawaku ke sebuah taman di dekat sekolahku. Sebenernya ‘sih aku tahu, itu ‘kan Taman Suropati. Siapa juga lagian yang nggak tahu Taman Suropati? Bastian mau sok suprise gitu walaupun memang agak gagal ‘sih, tapi yang penting ada usahanya ‘kan?
Jangan harap jika Bastian bak pangeran berkuda putih yang ada di dongeng-dongeng, yang serba romantis abis. Dia bahkan jemput hanya bermodalkan motor. Helm nya cuman satu pula. Bagian sok romantisnya mungkin pas dia kasih helm dia ke aku. Udah. Iya. Jadi dia nya ‘nggak pake helm. Terus akhirnya kita ditilang deh. Iya, pake acara ditilang segala. Karena kata polisinya, sama aja dia mencelakakan diri sendiri. Hampir aja aku nyeletuk kalo itu dia lagi sok romantis, tapi liat muka Bastian yang udah kucel abis, aku mengurungkan niat.
Sammy? Ya, gitu-gitu aja. Agak misterius, ‘sih, kalo lagi jalan sama dia, dia suka tiba-tiba hilang di tengah keramaian. Lalu anehnya, setiap kami gereja bareng, dia ‘nggak pernah mau masuk ke dalam gereja. Aneh, ‘kan? ‘Ngga jelas abis. Orang dia berkegiatan di KAJ, aktif di gereja, tapi dia ‘nggak mau masuk ruang kebaktian.
Nyokap ‘sih, lebih milih ke Sammy, sementara hati terdalamku mengatakan, “Bastian.” Kata nya, dari auranya bisa keliatan yang baik maupun yang jahat.

Dua hari setelah hari ulang tahunku, ada sesuatu yang cukup mengejutkan. Ada dua jiwa yang menyatakan perasaannya di hadapanku.
Yang berbeda kali ini adalah, Bastian yang romantis nya selalu gagal, kali ini kuanggap berhasil. Pasalnya, dia dengan niat menggebu membawa semacam bongkahan parsel dengan tema lumba-lumba. Entah dari mana dia tahu jika aku suka lumba-lumba. Rangkaian boneka sampai pajangan dengan tema lumba-lumba berjejer di hadapanku, yang membuatku tersentuh akan keteguhan tekadnya.
GILAK.
GILAK!
BODOHNYA AKU, TERKADANG HATI INI MEMILIH UNTUK MENARUH KESENANGAN ORANG LAIN DI ATAS PERASAAN TERDALAMKU.
AKU.
PILIH.
SAMMY.
Gilak. Gilaak, sumpah, gue juga bingung kenapa gue milih Sammy ya?
Astaghfirullah, gue terbutakan.
Hidup ini memang 'ngga jelas adanya. Kenapa aku pilih Sammy? 'Ngga tau. Kenapa aku 'ngga pilih Bas? 'Ngga tau. Tapi, campur tangan emosi dan perasaan terkadang diperlukan dalam hidup. Bawa-bawa perasaan. Yah, sesi baper dimulai, teman. Deal with it.

---

Awalnya, hari ini kukira akan menjadi hari yang menyenangkan. Pasalnya, aku dan Sammy pergi bareng, walau cuman makan di kantin gereja, ‘sih. Tapi, hari ini justru menjadi awal dari segala tanda tanya besar di otakku.
Dia menjemputku. Kita pergi. Kita makan. Iya, di kantin gereja. Awalnya, semua menyenangkan.  Sampai dia pergi, dan tak kembali, meninggalkan tas kebanggaannya denganku sendiri. Di kantin.
Semua terjadi sangat cepat. Teman-temannya secara ajaib berlarian ke arah tempat dudukku. Menggapai-gapai segala hal yang bisa mereka ambil, termasuk tas Sammy.
Lalu, benda itu terjatuh dari tas Sammy, yang disusul dengan teriakkan panik teman-teman Sammy. Muka-muka itu. Muka-muka itu geram, dan tidak menginginkanku untuk tahu.
Apa gerangan benda itu?

 Bersambung