Namanya Cinta,
Namanya Ekspektasi
Pada sebuah ruang gelap temaram, Cinta dan
Ekspektasi bertemu
Berdua, dalam hening
Cinta dapat mendengar hembusan udara kosong yang
berasal dari rongga hidung Ekspektasi
Ekspektasi dapat mendengar suara gesekkan tangan,
hasil bertemunya telapak tangan dengan paha Cinta
Cinta mulai bersedandung kecil
“Karena langkah merapuh tanpa dirimu, karena
hati tak letih,” Cinta tersenyum, “Tanpamu sepinya waktu merantai hati,
bayangmu seakan-akan.”
Ekspektasi menyunggingkan sebuah senyum canggung
pada Cinta.
Perlahan Ekspektasi menggeser bokongnya lebih
dekat pada Cinta.
Satu per satu helai kain dari tubuh Cinta
dilepaskan.
Ekspektasi melihat Cinta penuh kagum nan gairah,
menelusur tubuh Cinta dengan ujung jarinya—halus
Cinta terdiam sebentar. “Biarkan aku,” Cinta
melepas kancing kemeja Ekspektasi perlahan. Sama pelannya, Cinta menggerakan
tangannya ke bawah pinggang Ekspektasi—tempat sebagian besar darahnya berhimpun
saat itu—dan melepaskan apa saja yang ada disana. Dia rela.
Berdua dalam suatu ruang temaram, keduanya
berdiri berhadapan tanpa sehelai kainpun pada tubuh masing-masing.
Keduanya tersenyum.
Ekspektasi mendekatkan tubuhnya pada tubuh
Cinta.
Tepat pada momentum tubuh Ekspektasi dan Cinta
tak lagi dua, melainkan satu, keduanya terlempar.
Jauh, sampai pada pojok tergelap ruang itu.
Keduanya mati. Tanpa asa.
Mereka juga sudah siap akan itu.
Siapapun sudah tahu, pun mereka sudah tahu,
Cinta dan Ekspektasi tidak akan pernah bersatu.
waaahhh
BalasHapusINI BAGUS BANGET APAAN??!>!>?
BalasHapus