Minggu, 03 April 2016

Cinta, Ekspektasi

Namanya Cinta,
Namanya Ekspektasi
  

Pada sebuah ruang gelap temaram, Cinta dan Ekspektasi bertemu
Berdua, dalam hening


Cinta dapat mendengar hembusan udara kosong yang berasal dari rongga hidung Ekspektasi
Ekspektasi dapat mendengar suara gesekkan tangan, hasil bertemunya telapak tangan dengan paha Cinta


Cinta mulai bersedandung kecil
“Karena langkah merapuh tanpa dirimu, karena hati tak letih,” Cinta tersenyum, “Tanpamu sepinya waktu merantai hati, bayangmu seakan-akan.”
Ekspektasi menyunggingkan sebuah senyum canggung pada Cinta.


Perlahan Ekspektasi menggeser bokongnya lebih dekat pada Cinta.


Satu per satu helai kain dari tubuh Cinta dilepaskan.
Ekspektasi melihat Cinta penuh kagum nan gairah, menelusur tubuh Cinta dengan ujung jarinya—halus
Cinta terdiam sebentar. “Biarkan aku,” Cinta melepas kancing kemeja Ekspektasi perlahan. Sama pelannya, Cinta menggerakan tangannya ke bawah pinggang Ekspektasi—tempat sebagian besar darahnya berhimpun saat itu—dan melepaskan apa saja yang ada disana. Dia rela.


Berdua dalam suatu ruang temaram, keduanya berdiri berhadapan tanpa sehelai kainpun pada tubuh masing-masing.


Keduanya tersenyum.


Ekspektasi mendekatkan tubuhnya pada tubuh Cinta.
Tepat pada momentum tubuh Ekspektasi dan Cinta tak lagi dua, melainkan satu, keduanya terlempar.
Jauh, sampai pada pojok tergelap ruang itu.


Keduanya mati. Tanpa asa.


Mereka juga sudah siap akan itu.
Siapapun sudah tahu, pun mereka sudah tahu,


Cinta dan Ekspektasi tidak akan pernah bersatu.

2 komentar: