Selasa, 22 November 2016

m i m p i


Namaku Layla,
dan aku hidup dalam sepi.

Setiap pagi kubiarkan Langit menegurku perlahan
"Selamat pagi, Layla, sudahkah kamu menemukan makna hidupmu?"
Kujawab perlahan, "Belum, Langit, bantulah aku,"

Langit tersenyum simpul dan berkata,
"Carilah sendiri."

Tetapi tidak ada yang peduli tentangku

Teman, orang tua, kekasih, hanya ilusi belaka
Tidak ada dan memang tak akan pernah ada
Aku tidak pernah bersama, sekalipun berdua
Sendiri di tengah ramainya Jakarta

Terbiasa aku hidup dalam sepi
Tapi tak pernah ada waktu untuk duka dan elegi
Siapa pula yang mau kusedihi?
Raga ini terbiasa hidup sendiri

Sepi,
Sepi sekali
Seperti mimpi yang tiada berhenti

Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Berpesan pada Langit yang tak pernah berdusta
Lirih terdengar, “Untuk apa,”
“Untuk apa!”

Tapi takkan pernah ku menuai murka
Hingga peluh di dahi kepala
Hingga penat di hati, walau tanpa nestapa
Ingin aku mendengar aksara yang bersuara

Aksara yang bersuara
Dari mereka yang tak sempat kucinta

Kata orang, tidak semua pertanyaan berpasangan dengan jawaban

Namaku Layla, dan aku kesepian

Kembali aku mengadah dan bertanya pada Langit,

"Apa makna hidupku?"

- telah dimusikalisasikan. https://www.youtube.com/watch?v=s1_ZDC67koI

Sabtu, 13 Agustus 2016

a n t a r a



antara sungai dan laut
kedua jiwa satu berpaut
bertumpu pada bahu dan perut
berdua dalam sakitnya pecut

antara langit dan bumi
ada rasa yang tak lagi terperi
hingga merpati tak tahan lagi
terbang ia namun tidak kembali

antara senja dan malam
firasat yang tak bisa dirangkai aksara
rasa yang terlanjur jatuh terlalu dalam
sendat luka amnesia

Minggu, 10 Juli 2016

Libur Telah Tiba: Jogjakarta!


Jogjakarta itu sama kayak Bandung;
nggak pernah ngebosenin.


Malam itu tanggal dua puluh tiga, pukul enam tiga puluh, gue terjebak macet parah.
Setengah jam lagi kereta berangkat, dan gue masih di tengah-tengah kemacetan dalam keadaan belum beli celana dalam kertas. Semua teman gue sudah sampai, bahkan katanya sudah pemeriksaan tiket.
Mati gue. Terjebak di kota orang tanpa pakaian dalam.
Gue pikir, nggak papa. Jogjakarta bukan pedalaman yang nggak ada di peta, pasti ada Ind*mar*t.
Pukul tujuh kurang delapan, gue baru sampai Stasiun Senen. Dasar gila.

Perjalanan dimulai.
Liburan pertama gue dengan teman-teman.

Awalnya begini:
Gue dan—sebut saja Sheren—merasa bosan di sekolah. Terjadi percakapan kecil yang biasanya tumbuh jadi wacana, seperti,
“Liburan bareng yuk!”
“Kemana?”
“Ke Jogja aja lah.”
“Ajak siapa aja?”
“Emang pada boleh? Yakin”
dan, saya juga nggak nyangka, kami benar-benar menghabiskan lima hari di Jogjakarta.


Kami berdelapan; saya, Anomali, Gerhana, Babigel, Sheren, Nani, dan Nainai memulai perjalanan di Stasiun Senen pukul tujuh malam. Bertujuh sih, soalnya Sheren nyusul tanggal dua puluh enam.

Sampai di Jogjakarta, tanggal dua puluh empat Juni, pukul tiga dini hari. Makan Indomie telor diiringi Milo panas. Bersama kesayangan-kesayangan, di kota Jogjakarta tersayang. Nggak ada duanya.




Buru-buru, kami memburu terbitnya mentari di Hutan Pinus Mangunan, Inogiri. Dari dulu kepengen banget ke hutan pinus, nggak pernah kesampean, eh, kesampean di Jogja.


sunrise di Hutan Pinus Mangunan, Inogiri.



Banyak hal-hal yang pasti tidak akan pernah gue lupakan di Jogjakarta. Wah, kalo dijelasin satu-satu, blog gue bisa diterbitin jadi buku, kali?

Seperti;

Hampir ketinggalan kereta pas pergi. Iya, yang udah gue ceritain tadi. Paniknya sampai ke ubun-ubun. Belum lagi, sampai kereta, nggak bisa tidur. Anomali, Gerhana, dan Babigel berisiknya setengah mati. Malu-maluin. Sampai ada orang yang negur. Yaiyalah, bayangin, satu gerbong lagi tidur, mereka bertiga ketawa-ketawa bertiga. Teriak-teriak, pula! Mana si Babigel pakai acara nangis segala. Bodo amat.

Daki gunung bareng. Gunung kecil sih, 1.800-an mdpl, nggak ada apa-apanya dibanding Gunung Papandayan, Merbabu, Bromo, atau gunung-gunung lain. Nama gunungnya Andong. Tapi, gimana? Kami masih remaja labil, beberapa dari kami nggak cukup kuat untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung lain yang lebih tinggi. Tapi agak kecewa sih. Sampai puncak super dingin, berangin, dan berkabut. Nggak kelihatan gunung di seberang. Lalu, Gunung Andong terkenal karena ada jalan yang sempit—cuma cukup satu orang—yang agak ngeri soalnya berbatu licin dan pinggir jurang. Bayangkan, gue lagi jalan pelan-pelan di daerah itu, tiba-tiba dengan bajingannya ada lebah gede yang nyengat leher gue. Saking paniknya, gue sampai diem doang. Nggak gerak. Takut. Dasar, lebah siake. Untung paniknya diem, kalo kepeleset? Mungkin nggak akan bisa nulis post-an ini di blog. Yang ada kalian melayat. ( kalo kalian mau )

berkabut!
bareng Anomali di Andong.










bareng Babigel setelah kesengat lebah!


Ini 'punggung' terjal dan sempit yang gue maksud.
















Hari terakhir, pagi sebelum pulang, gue, Anomali, Gerhana, dan Babigel pergi ke peternakan milik kenalan tantenya Babigel. Bau tahi. Iyalah, isinya sapi semua.
Ada anak sapi yang baru berumur 2 minggu. Dengan sok beraninya, Babigel maju mendekat. Tangan Babigel dihisap sama sapi. Liurnya kemana-mana. Nggak bisa lepas. Mampus. Kami juga menamakan sapi itu—yang kebetulan belum dikasih nama—Umami de Gery lé Holy. Umami karena, umh, begitulah, Gery, karena ada teman kami bernama sama yang kalo makan liurnya kemana-mana, persis sapi itu, dan Holy, eh, begitulah.

Lava tour. Wisata keliling Merapi pakai Jeep. Di tengah semuanya teriak-teriak seru, menjulurkan kepala ke atas Jeep, menikmati angin, eh, si Gerhana tiba-tiba diam. Terus tiba-tiba nangis! Astaga. Gue ngga ngerti lagi. Ditanya, jawabnya, “Gue juga nggak tahu kenapa gue nangis.” Bodo amat. Dasar, Gerhana.
Lalu percakapan ini terjadi di Merapi. Mas-mas guide nunjuk beberapa orang yang sedang foto sambil lompat ( foto  jumpshot ). Dia berkata, “Yak, jadi kalo fotonya begitu, hasilnya ntar kayak seakan-akan terbang gitu. Jadi kita harus terbang bentar, keren deh ntar, terus jatuh lagi.”
Terus gue sautin, “Iya mas, singkatnya, lompat.”
Mas-masnya benci sama gue.
Yah, sampai saatnya, kami foto lompat ramai-ramai. Ingin buat foto terlihat sekeren mungkin, gue dengan pede lompat setinggi mungkin dengan kaki super ngangkang. Selamat, Azmalaka! Setelah kejadian itu, saya harus menghabiskan beberapa waktu dengan celana robek depan sampai belakang.

penyebab celana saya robek.

Aduh, sekarang pukul sebelas malam. Seperti yang gue bilang, kalau semua diceritain, ntar diterbitin jadi novel aja sekalian.

Lima hari di Jogjakarta bersama teman-teman tercinta; tidak akan saya lupakan.


Terima kasih.

untitled #7

tak mau aku hidup layak kerikil,
dilihat namun diabaikan
tak guna hanya diinjak
diangkat lalu dilempar

tak mau aku hidup layak udara
ada namun rasa tak ada
banyak guna namun tak digubris
dirasa namun dibiarkan

Rabu, 15 Juni 2016

( cerbung ) sambas: CALYX #4

SAMBAS:
C A L Y X


         Canggung.
            Hawa mulai terasa panas—padahal baru pukul setengah tujuh pagi.
            “Maaf, mengganggu ya?” tanya Bastian, memecah keheningan. Ada jeda beberapa detik sebelum Sammy menjawab, “Ngga kok. Santai aja,”
            Agak ragu, Bastian melengos masuk. Wajahnya lesu, kantong matanya semakin menjorok ke dalam. Jika dia menangis, agaknya kantong mata itu bisa jadi danau. Kasihan. Mungkin kurang tidur.
            “Jadi,” sahutnya hati-hati, “lagi pada bicarain apa?”
            “Ah, nggak. Gue kebetulan mau ngajak Sarah jalan liburan ini.”
            “Wah, asik abis tuh kayaknya.” Terlihat bahwa ketertarikan Bastian hanya basa-basi belaka. Jauh dalam hatinya, aku tahu, ada api cemburu yang sedang memercik. “Ke mana?”
            “Merapi.”
            Hening kembali menyeruak.
            Aku angkat bicara, “Eh, Sam, gunung yang kamu maksud itu Merapi?” Aku pura-pura kaget. Untuk pertama kalinya ada rasa syukur atas keikutsertaan aku di klub teater SMA dulu—yang dipaksakan oleh guruku. “Ya ampun… Tau nggak sih? Bastian juga ngajak aku ke situ!” Sahutku pura-pura riang.
            Mata Sammy terbelalak, begitu juga dengan Bastian. Namun ada perbedaannya—wajah Sammy terlihat berat, sebaliknya wajah Bastian terlihat natural. Alami.
            “Jadi maksudmu… Gimana?”
            “Kita nggak mau liburan bareng aja? Bertiga?” sahut Bastian, “Biar tetep jalan bareng dua-duanya. Lagian, destinasi kita kan sama,”
           
---

            “Terus, Bu? Buruan ceritanya, jangan bengong gitu, dong!” Sahut salah seorang muridku yang paling bawel. Tersungging sebuah senyuman di wajahku.
            “Ini dongeng apa sih?”
            “Bu, ayo mulai dongeng lagi!”
            “Tunggu-tunggu deh—ini sebenarnya cerita rakyat apa gimana sih? Kok ada Prabu Siliwanginya?”
            “Apa legenda?”
            “Ya keleus legenda ada cerita roman ala-ala remaja labil gitu.”
            “Lah terus ini cerita apaan?”
            “Ssssttt, diam, diam!”
            “Setau gue ini cerita dari tahun 2007an.”
            “Lo semua diam atau gua jejek pala lo!”
            Seketika hening. Dasar, anak-anakku yang jahil.
            “Oke bu, maaf, kita diem,” sahut muridku yang paling bawel itu, “lanjutin dong Bu ceritanya. Hehehe,”
            Aku menghela nafas panjang. Bukan cerita yang gampang untuk diingat dan diungkapkan.

---

            “Kayaknya nggak deh,” aku berbisik. Sangat pelan, sepertinya hanya terdengar oleh diriku sendiri.
            “Apa?”
            “Nggak. Maaf, kalian pulang dulu ya, aku mau ke kamar. Capek,” sahutku seraya memasang muka pucat. Sekali lagi aku mensyukuri keikutsertaanku dalam klub teater sialan itu.
            Aku langsung berjalan perlahan menuju kamar. Pura-pura oyong, biar mereka percaya. Ha! Gampang sekali mereka dibohongi. Biarkan mereka pulang sendiri—toh mereka tahu jalan keluarnya dimana.
            Terduduk aku di pinggiran kasur. Pun orang pandir tahu, ada dua jawara yang sedang mengejar cinta dari entah siapa. Memperjuangkan cinta bayangan.
            Bayangan. Karena aku tidak ingin dikejar.
            Dari dalam kamar, aku bisa mendengar Bastian dan Sammy—yang sebelumnya belum saling mengenal tetapi tahu satu sama lain—berbincang bingung setengah berargumen tentang keanehanku pagi itu. Tak lama, terdengar suara pintu rumahku menutup. Mereka sudah pulang. Aku terlelap perlahan.
            Seharian itu kuhabiskan dalam tidur. Makan siang tidak, makan malam tidak. Terbangun aku sekitar pukul delapan malam. Menatap rembulan, bertanya pada bintang. Menangis sambil mengalunkan nyanyian untuk langit malam.
            Dengan kepedihan yang amat dalam, aku kembali dalam tidurku.

---

Dua puluh delapan Juli 2007—dan disinilah aku sekarang. Di basecamp Merapi bersama dua orang yang tak lain adalah; Sammy dan Bastian. Ya, hari ini kami akan bersama-sama mendaki Gunung Merapi via jalur pendakian Selo. Sungguh tak terduga memang tentang bagaimana bisa rencana ini terjalankan.
Bahkan hatiku masih bergejolak, menolak.
Selama dua jam pertama, Sammy memimpin di depan, aku di tengah, sementara Bastian di paling belakang­­—sekalian mengawasi jika ada barang yang jatuh. Setelah Pos 3—atau tak lain adalah Pasar Burbah, Sammy mulai menampakkan ekspresi lelah, namun Bastian tetap dengan wajah alaminya seperti biasa, aku tidak bisa membaca bahasa tubuhnya. Posisi pun berubah, Bastian paling depan, aku tetap di tengah, dan Sammy di paling belakang. Dari Pasar Burbah pula, medan  yang sangat curam berpasir dan mudah longsor.
            Setelah lima setengah jam kami bertiga mendaki, sampailah juga di puncak Gunung Merapi ini.
            Pada momentum seperti ini, aku tidak bisa pungkiri bagaimana Tuhan menjalankan tugasNya dengan amat sempurna.
            Indah dan memukau mata. Perpaduan warna yang indah adanya. Dengan sedikit bumbu dari awan dan panorama lainnya, voila! Mataku terpuaskan. Sejenak aku melupakan penat, pusing dan hiruk-pikuk kehidupanku dan berbisik, Indonesia…
            Sementara Sammy dan Bastian? Entahlah. Dari tadi mereka hanya saling lirik-lirikkan. Namun aku tak mau ambil pusing, dan memilih untuk menikmati pemandangan.
            Terdengar pekikkan ngeri dan takut dari pendaki lainnya. Setengah terkejut, aku menengok ke belakang penuh ragu, dan ini yang kutemukan;
            kuku Sammy memanjang. Wajahnya berubah beringas. Putih polos—matanya putih polos. Sangat. Di luar. Ekspektasi.

---

            Kelasku hening layaknya kosong melompong. Semua terpaku terkejut. Mataku sedang berusaha membendung air yang tak kunjung habis ini.
            “Bu…?” seorang murid perlahan menenangkanku.
            “Biarkan saya selesaikan cerita ini sampai habis.”

---

            Teriakanku menutup teriakan pendaki lain. Aku takut. Sekejap yang lalu aku memuji nama Tuhan, sekarang aku ingin merobek diri sambil mengutuk Tuhan.
            Apakah ini yang selalu dia maksud dengan maung?

            Tapi k e n a p a ?

            Bukankah dia telah melepas maungnya bersamaku?
            Suara gemuruh dari kawah dan asap membuat suasana semakin mengerikan.
            “Sam?” Aku berteriak kecil, tersedak oleh ludahku sendiri. Mendekatkan diri.
            Sementara Bastian hanya diam terpaku pada posisinya—ia kaget setengah mati.

            Lalu momen itu datang. Dalam sekedip mata, Sammy menyerang Bastian dengan wujud maungnya.
            Berteriak.
            Menutup mulut.
            Menangis histeris.

            Tubuh mereka yang sedang dalam posisi bersitegang, terlempar ke kawah.

---

            Kelasku kembali hening—layaknya kosong melompong. Salah seorang emosional. Salah seorang termangu. Ada yang menahan tangis, ada yang terbengong—masih bingung dengan alur ceritanya.
            Aku menatap satu persatu wajah murid-muridku sambil tersenyum. Wajah kecil yang lugu. Wajah bahagia masa remaja. Andai aku bisa menahan diri, andai…
            Bel berdering memecah hening. Meretas sendu. Menghapus duka.
            “Pelajaran Ibu sudah selesai. Selamat siang.” Aku berjalan menuju pintu keluar sambil menahan bendungan yang siap jebol di mataku. “Ah, ya, satu lagi. Di umur ibu yang sudah empat puluh delapan tahun dan belum punya pasangan dan tidak akan pernah ini, Ibu punya pesan,” kataku setengah berbisik menahan tangis, “Ibu sayang kalian. Seperti anak-anak sendiri. Pegang pesan ini sampai mati: jangan pernah terbuai perkataan orang, terutama orang yang kamu cinta. Saat akhirnya kamu meninggalkan atau ditinggalkan, kamu bisa apa? Kamu bisa mati nahas tanpa asa, sambil merenungi nasib.” Aku berjalan keluar sambil menghapus air mata duka lara yang membanjiri wajahku.

---

            Berdiri aku di depan pusara seorang teman, sahabat, kawan lama, dan kesayangan hati. Memakai setelan hitam pekat, dengan payung senada. Menatap nisan itu; Sebastian Badara.
            Menabur bunga dan rempah ke pusaramu bukanlah mimpiku dulu, Bastian. Bahkan aku kira hatiku jatuh pada Sammy.
            Itulah fase dari masalah ini sekarang. Bukan fructus—tidak ada buah yang bisa diambil dari masalah ini. Hampa. Kosong. Derita. Ini adalah calyx—kelopak. Semua masalah ini menumbuhkan kelompak yang menutup bungkus semuanya.
            Kuraih secarik kertas kecil dari kantong jaket. Sebuah surat dari Bastian yang diberikan sebelum kita memulai perjalanan siksaan menuju Merapi itu.
            Sebuah puisi.


Dia tak nyata
Hanya halusinasi belaka
Dia tak bisa digapai
Hanya pajangan tertata
Dia hadir
Namun dia tak tampak

Dia adalah bayangan
Yang selalu meradang dalam angan
Terbayang dan terjebak pada jiwa yang malang
Jiwa itu aku,
Seorang pengejar bulan
Berlari-larian menapak semu

d i a m

Namun seolah berjalan
Karena aku tidaklah bodoh,

Aku hanya

l e l a h

Pengejar. Ditulis saat mulut ingin menutur segala cerita dan telinga ingin mendengar sejelas-jelasnya. Untuk Sarah.



            Lama aku terdiam. Tersenyum.
            Aku tahu aku benar. Ini adalah kelopak yang menutup bungkus semuanya. Lebih tepatnya, menutup usiaku, bukan?
            Kubelai pisau kesayanganku. Pemberian Sammy.
            Senyumku makin lebar, diselingi isak tangis dan sesal.
            Dan ini untuk Sammy dan Bastian. Terima kasih untuk segala cerita dan kisah kasih lainnya. Bastian, jika aku harus mati di sebelah seseorang, orang itu adalah kamu.
           
            Sekejap, pisau itu menancap menuju tempatnya bersemayam.



T A M A T

           
           



Jumat, 10 Juni 2016

untitled #6

bumi sunyi sepi
badan terurai kelai
hati sedih tak lagi terperi
diam diri sampai selesai hari

Jumat, 06 Mei 2016

untitled #5

Karena hidup tidak selamanya mulus,
tidak juga selamanya tulus.

Menjalaninya tidak mudah,
berdosa kadang sudah lumrah.

Lelah sudah jadi biasa,
pun mau mati tak bisa.

Penat sudah permanen di kening,
air ekskresi tidak lagi bening.

04/05 '16
dalam sebuah Avanza sewaan yang melaju perlahan

Minggu, 01 Mei 2016

Ada apa dengan Cinta? #2

Oke, walaupun tahun lahirku sama dengan tahun rilisnya AADC, jangan anggap aku nggatau apa-apa. Aku tau, suwer.

He.

Kilas balik sebentar:
awal tahun 2016, gue membuat semacam—bukan resolusi tahunan sih, lebih ke arah goals atau tujuan atau target setahun ini. Salah satunya nonton AADC 2 bareng seorang temen yang susah banget diajak pergi kemana-mana, apalagi ke mall, bioskop, gitu-gitu.
Kemarin akhirnya terwujud.
Jangan harap terwujudnya mulus-mulus! Begini:
yah, begitulah sekolahku, tugas makalah-video-laporan-kunjungan tiap minggu. Alhasil, tiap weekend waktu selalu terpakai untuk membuat salah satu tugas itu. Kemarin? Bikin video. Huh. Melelahkan.
Kemarin pulang sekolah pukul 3 sore, itung-itung macet sampai rumah teman jam 5. Sampai rumah (( w a c a n a n y a )) mau langsung set-set-set bikin tugas video itu. Sayang, wacana. Makanan sudah disajikan. Jadilah kita makan. Setelah kenyang? Ya mager lah! Leyeh-leyeh, males, bawaannya mau tidur.
Liat jam: mampus. Jam enam. Mau nonton yang jam setengah delapan malam. Matilah.

Tugas atau AADC?

YA AADC LAH BUSET.

Langsung semua berbenah—semua dalam artian gue, anomali, gerhana, nainai, dan ibunya nainai—masuk mobil heboh-heboh.
Yak, jam tujuh. Masih di Taman Mini, nonton (jadinya) jam delapan lewat lima belas. Mamam tuh nonton.
TAPI GUE ((KITA)) KAN GAK PANTANG MENYERAH?!?!?!?!? Jadi kita ngebut—oke, definisi ngebut disini: berteriak-teriak pada ibunya nainai untuk ngebut, sampai membuat U-turn sendiri di tengah-tengah jalan raya (?!?!?!) nyawaku hamper dipertaruhkan.
Kami selamat sampai di Kemang Village. Tepat waktu.
Bukannya senang lagi—bahagia.
Kami berempat (ya, kita meninggalkan ibunya nainai di parkiran) berlarian, naik-naik tangga jalan dengan cepat. Malu sih, tapi, ya udahlah? Mereka gak kenal ini. Hehe.
Tebak sampai atas bagaimana keadaannya? Kayak Jakarta kalo hati lagi sepi—rame. Banget.
Kami cuma bisa ketawa, sambil mengutuk semua yang bisa dilihat oleh mata. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil bersama ibunya nainai, dan beliau memutuskan untuk jalan menuju Plaza Senayan, mau nonton yang jam sembilan. Baiklah, kami menurut (sambil tertawa bahagia karena pulang makin malam.)
Sampe depan Plaza Senayan? BANTING SETIR LAGI, menuju Kuningan City. Mantap. Mau nonton yang jam sembilan lewat dua puluh lima.
Tapi, intuisi kami berkata bahwa studio akan penuh.
Lalu?
YA BANTING SETIR LAGI.
Ke Lotte Avenue, atau dikenal juga dengan Ciputra World—mau nonton yang jam sepuluh.
Apa daya ketika kami sampai di atas, semesta menolak?
Semesta tidak memperbolehkan kita nonton AADC cepet-cepet, kayaknya. Kami nonton yang jam sebelas malam.
Ya, sebelas malam.
Dari rencana setengah delapan.
Sepanjang nunggu tiket yang dibeli dengan nekat itu, semua ngeracau sendiri;
“Mampus gua,”
“Kayaknya gua pulang tidur depan pager aja deh,”
“Woi bokap gue udah nungguin pake golok depan pager,”
“Gue bakal diakuin anak gak ya?”
“Kalo hari Senin gue nggak masuk, kunjungin gue di San Diego Hills ya,”
gadeh, lebay.

Tapi akhirnya kami ngerasa: ya sudahlah, sekali-sekali ini. Belom pernah kan? Santai aja. Asal jangan sering-sering.

Sampai akhirnya kami nonton film itu.
SUMPAH NGGAK NGERTI TU FILM TERKUTUK!!!!!
Gadeh. Aku cinta AADC.
Tapi ngga ngerti gitu lho?? Filmnya sedih tapi mereka lucu?? Jadi bingung mau mewek atau ngakak??
Film selesai, kami pulang (( masih pulang bareng-bareng )) pukul 2 subuh. Hm.

Akhir kata,
Adinia Wirasti dan Dian Sastro,

kalian kakakku ya?