Rabu, 15 Juni 2016

( cerbung ) sambas: CALYX #4

SAMBAS:
C A L Y X


         Canggung.
            Hawa mulai terasa panas—padahal baru pukul setengah tujuh pagi.
            “Maaf, mengganggu ya?” tanya Bastian, memecah keheningan. Ada jeda beberapa detik sebelum Sammy menjawab, “Ngga kok. Santai aja,”
            Agak ragu, Bastian melengos masuk. Wajahnya lesu, kantong matanya semakin menjorok ke dalam. Jika dia menangis, agaknya kantong mata itu bisa jadi danau. Kasihan. Mungkin kurang tidur.
            “Jadi,” sahutnya hati-hati, “lagi pada bicarain apa?”
            “Ah, nggak. Gue kebetulan mau ngajak Sarah jalan liburan ini.”
            “Wah, asik abis tuh kayaknya.” Terlihat bahwa ketertarikan Bastian hanya basa-basi belaka. Jauh dalam hatinya, aku tahu, ada api cemburu yang sedang memercik. “Ke mana?”
            “Merapi.”
            Hening kembali menyeruak.
            Aku angkat bicara, “Eh, Sam, gunung yang kamu maksud itu Merapi?” Aku pura-pura kaget. Untuk pertama kalinya ada rasa syukur atas keikutsertaan aku di klub teater SMA dulu—yang dipaksakan oleh guruku. “Ya ampun… Tau nggak sih? Bastian juga ngajak aku ke situ!” Sahutku pura-pura riang.
            Mata Sammy terbelalak, begitu juga dengan Bastian. Namun ada perbedaannya—wajah Sammy terlihat berat, sebaliknya wajah Bastian terlihat natural. Alami.
            “Jadi maksudmu… Gimana?”
            “Kita nggak mau liburan bareng aja? Bertiga?” sahut Bastian, “Biar tetep jalan bareng dua-duanya. Lagian, destinasi kita kan sama,”
           
---

            “Terus, Bu? Buruan ceritanya, jangan bengong gitu, dong!” Sahut salah seorang muridku yang paling bawel. Tersungging sebuah senyuman di wajahku.
            “Ini dongeng apa sih?”
            “Bu, ayo mulai dongeng lagi!”
            “Tunggu-tunggu deh—ini sebenarnya cerita rakyat apa gimana sih? Kok ada Prabu Siliwanginya?”
            “Apa legenda?”
            “Ya keleus legenda ada cerita roman ala-ala remaja labil gitu.”
            “Lah terus ini cerita apaan?”
            “Ssssttt, diam, diam!”
            “Setau gue ini cerita dari tahun 2007an.”
            “Lo semua diam atau gua jejek pala lo!”
            Seketika hening. Dasar, anak-anakku yang jahil.
            “Oke bu, maaf, kita diem,” sahut muridku yang paling bawel itu, “lanjutin dong Bu ceritanya. Hehehe,”
            Aku menghela nafas panjang. Bukan cerita yang gampang untuk diingat dan diungkapkan.

---

            “Kayaknya nggak deh,” aku berbisik. Sangat pelan, sepertinya hanya terdengar oleh diriku sendiri.
            “Apa?”
            “Nggak. Maaf, kalian pulang dulu ya, aku mau ke kamar. Capek,” sahutku seraya memasang muka pucat. Sekali lagi aku mensyukuri keikutsertaanku dalam klub teater sialan itu.
            Aku langsung berjalan perlahan menuju kamar. Pura-pura oyong, biar mereka percaya. Ha! Gampang sekali mereka dibohongi. Biarkan mereka pulang sendiri—toh mereka tahu jalan keluarnya dimana.
            Terduduk aku di pinggiran kasur. Pun orang pandir tahu, ada dua jawara yang sedang mengejar cinta dari entah siapa. Memperjuangkan cinta bayangan.
            Bayangan. Karena aku tidak ingin dikejar.
            Dari dalam kamar, aku bisa mendengar Bastian dan Sammy—yang sebelumnya belum saling mengenal tetapi tahu satu sama lain—berbincang bingung setengah berargumen tentang keanehanku pagi itu. Tak lama, terdengar suara pintu rumahku menutup. Mereka sudah pulang. Aku terlelap perlahan.
            Seharian itu kuhabiskan dalam tidur. Makan siang tidak, makan malam tidak. Terbangun aku sekitar pukul delapan malam. Menatap rembulan, bertanya pada bintang. Menangis sambil mengalunkan nyanyian untuk langit malam.
            Dengan kepedihan yang amat dalam, aku kembali dalam tidurku.

---

Dua puluh delapan Juli 2007—dan disinilah aku sekarang. Di basecamp Merapi bersama dua orang yang tak lain adalah; Sammy dan Bastian. Ya, hari ini kami akan bersama-sama mendaki Gunung Merapi via jalur pendakian Selo. Sungguh tak terduga memang tentang bagaimana bisa rencana ini terjalankan.
Bahkan hatiku masih bergejolak, menolak.
Selama dua jam pertama, Sammy memimpin di depan, aku di tengah, sementara Bastian di paling belakang­­—sekalian mengawasi jika ada barang yang jatuh. Setelah Pos 3—atau tak lain adalah Pasar Burbah, Sammy mulai menampakkan ekspresi lelah, namun Bastian tetap dengan wajah alaminya seperti biasa, aku tidak bisa membaca bahasa tubuhnya. Posisi pun berubah, Bastian paling depan, aku tetap di tengah, dan Sammy di paling belakang. Dari Pasar Burbah pula, medan  yang sangat curam berpasir dan mudah longsor.
            Setelah lima setengah jam kami bertiga mendaki, sampailah juga di puncak Gunung Merapi ini.
            Pada momentum seperti ini, aku tidak bisa pungkiri bagaimana Tuhan menjalankan tugasNya dengan amat sempurna.
            Indah dan memukau mata. Perpaduan warna yang indah adanya. Dengan sedikit bumbu dari awan dan panorama lainnya, voila! Mataku terpuaskan. Sejenak aku melupakan penat, pusing dan hiruk-pikuk kehidupanku dan berbisik, Indonesia…
            Sementara Sammy dan Bastian? Entahlah. Dari tadi mereka hanya saling lirik-lirikkan. Namun aku tak mau ambil pusing, dan memilih untuk menikmati pemandangan.
            Terdengar pekikkan ngeri dan takut dari pendaki lainnya. Setengah terkejut, aku menengok ke belakang penuh ragu, dan ini yang kutemukan;
            kuku Sammy memanjang. Wajahnya berubah beringas. Putih polos—matanya putih polos. Sangat. Di luar. Ekspektasi.

---

            Kelasku hening layaknya kosong melompong. Semua terpaku terkejut. Mataku sedang berusaha membendung air yang tak kunjung habis ini.
            “Bu…?” seorang murid perlahan menenangkanku.
            “Biarkan saya selesaikan cerita ini sampai habis.”

---

            Teriakanku menutup teriakan pendaki lain. Aku takut. Sekejap yang lalu aku memuji nama Tuhan, sekarang aku ingin merobek diri sambil mengutuk Tuhan.
            Apakah ini yang selalu dia maksud dengan maung?

            Tapi k e n a p a ?

            Bukankah dia telah melepas maungnya bersamaku?
            Suara gemuruh dari kawah dan asap membuat suasana semakin mengerikan.
            “Sam?” Aku berteriak kecil, tersedak oleh ludahku sendiri. Mendekatkan diri.
            Sementara Bastian hanya diam terpaku pada posisinya—ia kaget setengah mati.

            Lalu momen itu datang. Dalam sekedip mata, Sammy menyerang Bastian dengan wujud maungnya.
            Berteriak.
            Menutup mulut.
            Menangis histeris.

            Tubuh mereka yang sedang dalam posisi bersitegang, terlempar ke kawah.

---

            Kelasku kembali hening—layaknya kosong melompong. Salah seorang emosional. Salah seorang termangu. Ada yang menahan tangis, ada yang terbengong—masih bingung dengan alur ceritanya.
            Aku menatap satu persatu wajah murid-muridku sambil tersenyum. Wajah kecil yang lugu. Wajah bahagia masa remaja. Andai aku bisa menahan diri, andai…
            Bel berdering memecah hening. Meretas sendu. Menghapus duka.
            “Pelajaran Ibu sudah selesai. Selamat siang.” Aku berjalan menuju pintu keluar sambil menahan bendungan yang siap jebol di mataku. “Ah, ya, satu lagi. Di umur ibu yang sudah empat puluh delapan tahun dan belum punya pasangan dan tidak akan pernah ini, Ibu punya pesan,” kataku setengah berbisik menahan tangis, “Ibu sayang kalian. Seperti anak-anak sendiri. Pegang pesan ini sampai mati: jangan pernah terbuai perkataan orang, terutama orang yang kamu cinta. Saat akhirnya kamu meninggalkan atau ditinggalkan, kamu bisa apa? Kamu bisa mati nahas tanpa asa, sambil merenungi nasib.” Aku berjalan keluar sambil menghapus air mata duka lara yang membanjiri wajahku.

---

            Berdiri aku di depan pusara seorang teman, sahabat, kawan lama, dan kesayangan hati. Memakai setelan hitam pekat, dengan payung senada. Menatap nisan itu; Sebastian Badara.
            Menabur bunga dan rempah ke pusaramu bukanlah mimpiku dulu, Bastian. Bahkan aku kira hatiku jatuh pada Sammy.
            Itulah fase dari masalah ini sekarang. Bukan fructus—tidak ada buah yang bisa diambil dari masalah ini. Hampa. Kosong. Derita. Ini adalah calyx—kelopak. Semua masalah ini menumbuhkan kelompak yang menutup bungkus semuanya.
            Kuraih secarik kertas kecil dari kantong jaket. Sebuah surat dari Bastian yang diberikan sebelum kita memulai perjalanan siksaan menuju Merapi itu.
            Sebuah puisi.


Dia tak nyata
Hanya halusinasi belaka
Dia tak bisa digapai
Hanya pajangan tertata
Dia hadir
Namun dia tak tampak

Dia adalah bayangan
Yang selalu meradang dalam angan
Terbayang dan terjebak pada jiwa yang malang
Jiwa itu aku,
Seorang pengejar bulan
Berlari-larian menapak semu

d i a m

Namun seolah berjalan
Karena aku tidaklah bodoh,

Aku hanya

l e l a h

Pengejar. Ditulis saat mulut ingin menutur segala cerita dan telinga ingin mendengar sejelas-jelasnya. Untuk Sarah.



            Lama aku terdiam. Tersenyum.
            Aku tahu aku benar. Ini adalah kelopak yang menutup bungkus semuanya. Lebih tepatnya, menutup usiaku, bukan?
            Kubelai pisau kesayanganku. Pemberian Sammy.
            Senyumku makin lebar, diselingi isak tangis dan sesal.
            Dan ini untuk Sammy dan Bastian. Terima kasih untuk segala cerita dan kisah kasih lainnya. Bastian, jika aku harus mati di sebelah seseorang, orang itu adalah kamu.
           
            Sekejap, pisau itu menancap menuju tempatnya bersemayam.



T A M A T

           
           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar