SAMBAS:
C A L Y X
Canggung.
Hawa mulai terasa panas—padahal baru
pukul setengah tujuh pagi.
“Maaf, mengganggu ya?” tanya
Bastian, memecah keheningan. Ada jeda beberapa detik sebelum Sammy menjawab,
“Ngga kok. Santai aja,”
Agak ragu, Bastian melengos masuk.
Wajahnya lesu, kantong matanya semakin menjorok ke dalam. Jika dia menangis,
agaknya kantong mata itu bisa jadi danau. Kasihan. Mungkin kurang tidur.
“Jadi,” sahutnya hati-hati, “lagi
pada bicarain apa?”
“Ah, nggak. Gue kebetulan mau ngajak
Sarah jalan liburan ini.”
“Wah, asik abis tuh kayaknya.”
Terlihat bahwa ketertarikan Bastian hanya basa-basi belaka. Jauh dalam hatinya,
aku tahu, ada api cemburu yang sedang memercik. “Ke mana?”
“Merapi.”
Hening kembali menyeruak.
Aku angkat bicara, “Eh, Sam, gunung
yang kamu maksud itu Merapi?” Aku pura-pura kaget. Untuk pertama kalinya ada
rasa syukur atas keikutsertaan aku di klub teater SMA dulu—yang dipaksakan oleh
guruku. “Ya ampun… Tau nggak sih? Bastian juga ngajak aku ke situ!” Sahutku
pura-pura riang.
Mata Sammy terbelalak, begitu juga
dengan Bastian. Namun ada perbedaannya—wajah Sammy terlihat berat, sebaliknya
wajah Bastian terlihat natural. Alami.
“Jadi maksudmu… Gimana?”
“Kita nggak mau liburan bareng aja?
Bertiga?” sahut Bastian, “Biar tetep jalan bareng dua-duanya. Lagian, destinasi
kita kan sama,”
---
“Terus, Bu? Buruan ceritanya, jangan
bengong gitu, dong!” Sahut salah seorang muridku yang paling bawel. Tersungging
sebuah senyuman di wajahku.
“Ini
dongeng apa sih?”
“Bu, ayo mulai dongeng lagi!”
“Tunggu-tunggu deh—ini sebenarnya cerita rakyat apa
gimana sih? Kok ada Prabu Siliwanginya?”
“Apa legenda?”
“Ya keleus legenda ada cerita roman ala-ala remaja labil
gitu.”
“Lah terus ini cerita apaan?”
“Ssssttt, diam, diam!”
“Setau
gue ini cerita dari tahun 2007an.”
“Lo semua diam atau gua jejek pala lo!”
Seketika hening. Dasar, anak-anakku
yang jahil.
“Oke bu, maaf, kita diem,” sahut
muridku yang paling bawel itu, “lanjutin dong Bu ceritanya. Hehehe,”
Aku menghela nafas panjang. Bukan
cerita yang gampang untuk diingat dan diungkapkan.
---
“Kayaknya nggak deh,” aku berbisik.
Sangat pelan, sepertinya hanya terdengar oleh diriku sendiri.
“Apa?”
“Nggak. Maaf, kalian pulang dulu ya,
aku mau ke kamar. Capek,” sahutku seraya memasang muka pucat. Sekali lagi aku
mensyukuri keikutsertaanku dalam klub teater sialan itu.
Aku langsung berjalan perlahan
menuju kamar. Pura-pura oyong, biar mereka percaya. Ha! Gampang sekali mereka dibohongi. Biarkan mereka pulang sendiri—toh
mereka tahu jalan keluarnya dimana.
Terduduk aku di pinggiran kasur. Pun
orang pandir tahu, ada dua jawara yang sedang mengejar cinta dari entah siapa.
Memperjuangkan cinta bayangan.
Bayangan. Karena aku tidak ingin
dikejar.
Dari dalam kamar, aku bisa mendengar
Bastian dan Sammy—yang sebelumnya belum saling mengenal tetapi tahu satu sama
lain—berbincang bingung setengah berargumen tentang keanehanku pagi itu. Tak
lama, terdengar suara pintu rumahku menutup. Mereka sudah pulang. Aku terlelap
perlahan.
Seharian itu kuhabiskan dalam tidur.
Makan siang tidak, makan malam tidak. Terbangun aku sekitar pukul delapan malam.
Menatap rembulan, bertanya pada bintang. Menangis sambil mengalunkan nyanyian
untuk langit malam.
Dengan kepedihan yang amat dalam,
aku kembali dalam tidurku.
---
Dua puluh delapan Juli 2007—dan disinilah aku
sekarang. Di basecamp Merapi bersama dua orang yang tak lain adalah; Sammy dan
Bastian. Ya, hari ini kami akan bersama-sama mendaki Gunung Merapi via jalur
pendakian Selo. Sungguh tak terduga memang tentang bagaimana bisa rencana ini terjalankan.
Bahkan hatiku masih bergejolak, menolak.
Selama dua jam pertama, Sammy memimpin di depan,
aku di tengah, sementara Bastian di paling belakang—sekalian mengawasi jika
ada barang yang jatuh. Setelah Pos 3—atau tak lain adalah Pasar Burbah, Sammy
mulai menampakkan ekspresi lelah, namun Bastian tetap dengan wajah alaminya
seperti biasa, aku tidak bisa membaca bahasa tubuhnya. Posisi pun berubah,
Bastian paling depan, aku tetap di tengah, dan Sammy di paling belakang. Dari
Pasar Burbah pula, medan yang sangat
curam berpasir dan mudah longsor.
Setelah lima setengah jam kami
bertiga mendaki, sampailah juga di puncak Gunung Merapi ini.
Pada
momentum seperti ini, aku tidak bisa pungkiri bagaimana Tuhan menjalankan
tugasNya dengan amat sempurna.
Indah dan memukau mata. Perpaduan
warna yang indah adanya. Dengan sedikit bumbu dari awan dan panorama lainnya,
voila! Mataku terpuaskan. Sejenak aku melupakan penat, pusing dan hiruk-pikuk
kehidupanku dan berbisik, Indonesia…
Sementara Sammy dan Bastian?
Entahlah. Dari tadi mereka hanya saling lirik-lirikkan. Namun aku tak mau ambil
pusing, dan memilih untuk menikmati pemandangan.
Terdengar pekikkan ngeri dan takut
dari pendaki lainnya. Setengah terkejut, aku menengok ke belakang penuh ragu,
dan ini yang kutemukan;
kuku Sammy memanjang. Wajahnya
berubah beringas. Putih polos—matanya putih polos. Sangat. Di luar. Ekspektasi.
---
Kelasku hening layaknya kosong
melompong. Semua terpaku terkejut. Mataku sedang berusaha membendung air yang
tak kunjung habis ini.
“Bu…?” seorang murid perlahan
menenangkanku.
“Biarkan saya selesaikan cerita ini
sampai habis.”
---
Teriakanku menutup teriakan pendaki
lain. Aku takut. Sekejap yang lalu aku memuji nama Tuhan, sekarang aku ingin
merobek diri sambil mengutuk Tuhan.
Apakah ini yang selalu dia maksud
dengan maung?
Tapi
k e n a p a ?
Bukankah dia telah melepas maungnya
bersamaku?
Suara gemuruh dari kawah dan asap
membuat suasana semakin mengerikan.
“Sam?” Aku berteriak kecil, tersedak
oleh ludahku sendiri. Mendekatkan diri.
Sementara Bastian hanya diam terpaku
pada posisinya—ia kaget setengah mati.
Lalu momen itu datang. Dalam sekedip
mata, Sammy menyerang Bastian dengan wujud maungnya.
Berteriak.
Menutup mulut.
Menangis histeris.
Tubuh mereka yang sedang dalam
posisi bersitegang, terlempar ke kawah.
---
Kelasku kembali hening—layaknya
kosong melompong. Salah seorang emosional. Salah seorang termangu. Ada yang
menahan tangis, ada yang terbengong—masih bingung dengan alur ceritanya.
Aku menatap satu persatu wajah
murid-muridku sambil tersenyum. Wajah kecil yang lugu. Wajah bahagia masa
remaja. Andai aku bisa menahan diri, andai…
Bel berdering memecah hening.
Meretas sendu. Menghapus duka.
“Pelajaran Ibu sudah selesai.
Selamat siang.” Aku berjalan menuju pintu keluar sambil menahan bendungan yang
siap jebol di mataku. “Ah, ya, satu lagi. Di umur ibu yang sudah empat puluh
delapan tahun dan belum punya pasangan dan tidak akan pernah ini, Ibu punya
pesan,” kataku setengah berbisik menahan tangis, “Ibu sayang kalian. Seperti
anak-anak sendiri. Pegang pesan ini sampai mati: jangan pernah terbuai
perkataan orang, terutama orang yang kamu cinta. Saat akhirnya kamu
meninggalkan atau ditinggalkan, kamu bisa apa? Kamu bisa mati nahas tanpa asa,
sambil merenungi nasib.” Aku berjalan keluar sambil menghapus air mata duka
lara yang membanjiri wajahku.
---
Berdiri aku di depan pusara seorang
teman, sahabat, kawan lama, dan kesayangan hati. Memakai setelan hitam pekat,
dengan payung senada. Menatap nisan itu; Sebastian Badara.
Menabur bunga dan rempah ke pusaramu
bukanlah mimpiku dulu, Bastian. Bahkan aku kira hatiku jatuh pada Sammy.
Itulah fase dari masalah ini
sekarang. Bukan fructus—tidak ada buah yang bisa diambil dari masalah ini.
Hampa. Kosong. Derita. Ini adalah calyx—kelopak. Semua masalah ini menumbuhkan
kelompak yang menutup bungkus semuanya.
Kuraih secarik kertas kecil dari
kantong jaket. Sebuah surat dari Bastian yang diberikan sebelum kita memulai
perjalanan siksaan menuju Merapi itu.
Sebuah puisi.
Dia tak nyata
Hanya halusinasi belaka
Dia tak bisa digapai
Hanya pajangan tertata
Dia hadir
Namun dia tak tampak
Dia adalah bayangan
Yang selalu meradang dalam angan
Terbayang dan terjebak pada jiwa yang malang
Jiwa itu aku,
Seorang pengejar bulan
Berlari-larian menapak semu
d i a m
Namun seolah berjalan
Karena aku tidaklah bodoh,
Aku hanya
l e l a h
Pengejar. Ditulis saat mulut ingin menutur segala cerita dan
telinga ingin mendengar sejelas-jelasnya. Untuk Sarah.
Lama aku terdiam. Tersenyum.
Aku tahu aku benar. Ini adalah
kelopak yang menutup bungkus semuanya. Lebih tepatnya, menutup usiaku, bukan?
Kubelai pisau kesayanganku.
Pemberian Sammy.
Senyumku makin lebar, diselingi isak
tangis dan sesal.
Dan ini untuk Sammy dan Bastian.
Terima kasih untuk segala cerita dan kisah kasih lainnya. Bastian, jika aku
harus mati di sebelah seseorang, orang itu adalah kamu.
Sekejap, pisau itu menancap menuju
tempatnya bersemayam.
T A M A T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar