Minggu, 10 Juli 2016

Libur Telah Tiba: Jogjakarta!


Jogjakarta itu sama kayak Bandung;
nggak pernah ngebosenin.


Malam itu tanggal dua puluh tiga, pukul enam tiga puluh, gue terjebak macet parah.
Setengah jam lagi kereta berangkat, dan gue masih di tengah-tengah kemacetan dalam keadaan belum beli celana dalam kertas. Semua teman gue sudah sampai, bahkan katanya sudah pemeriksaan tiket.
Mati gue. Terjebak di kota orang tanpa pakaian dalam.
Gue pikir, nggak papa. Jogjakarta bukan pedalaman yang nggak ada di peta, pasti ada Ind*mar*t.
Pukul tujuh kurang delapan, gue baru sampai Stasiun Senen. Dasar gila.

Perjalanan dimulai.
Liburan pertama gue dengan teman-teman.

Awalnya begini:
Gue dan—sebut saja Sheren—merasa bosan di sekolah. Terjadi percakapan kecil yang biasanya tumbuh jadi wacana, seperti,
“Liburan bareng yuk!”
“Kemana?”
“Ke Jogja aja lah.”
“Ajak siapa aja?”
“Emang pada boleh? Yakin”
dan, saya juga nggak nyangka, kami benar-benar menghabiskan lima hari di Jogjakarta.


Kami berdelapan; saya, Anomali, Gerhana, Babigel, Sheren, Nani, dan Nainai memulai perjalanan di Stasiun Senen pukul tujuh malam. Bertujuh sih, soalnya Sheren nyusul tanggal dua puluh enam.

Sampai di Jogjakarta, tanggal dua puluh empat Juni, pukul tiga dini hari. Makan Indomie telor diiringi Milo panas. Bersama kesayangan-kesayangan, di kota Jogjakarta tersayang. Nggak ada duanya.




Buru-buru, kami memburu terbitnya mentari di Hutan Pinus Mangunan, Inogiri. Dari dulu kepengen banget ke hutan pinus, nggak pernah kesampean, eh, kesampean di Jogja.


sunrise di Hutan Pinus Mangunan, Inogiri.



Banyak hal-hal yang pasti tidak akan pernah gue lupakan di Jogjakarta. Wah, kalo dijelasin satu-satu, blog gue bisa diterbitin jadi buku, kali?

Seperti;

Hampir ketinggalan kereta pas pergi. Iya, yang udah gue ceritain tadi. Paniknya sampai ke ubun-ubun. Belum lagi, sampai kereta, nggak bisa tidur. Anomali, Gerhana, dan Babigel berisiknya setengah mati. Malu-maluin. Sampai ada orang yang negur. Yaiyalah, bayangin, satu gerbong lagi tidur, mereka bertiga ketawa-ketawa bertiga. Teriak-teriak, pula! Mana si Babigel pakai acara nangis segala. Bodo amat.

Daki gunung bareng. Gunung kecil sih, 1.800-an mdpl, nggak ada apa-apanya dibanding Gunung Papandayan, Merbabu, Bromo, atau gunung-gunung lain. Nama gunungnya Andong. Tapi, gimana? Kami masih remaja labil, beberapa dari kami nggak cukup kuat untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung lain yang lebih tinggi. Tapi agak kecewa sih. Sampai puncak super dingin, berangin, dan berkabut. Nggak kelihatan gunung di seberang. Lalu, Gunung Andong terkenal karena ada jalan yang sempit—cuma cukup satu orang—yang agak ngeri soalnya berbatu licin dan pinggir jurang. Bayangkan, gue lagi jalan pelan-pelan di daerah itu, tiba-tiba dengan bajingannya ada lebah gede yang nyengat leher gue. Saking paniknya, gue sampai diem doang. Nggak gerak. Takut. Dasar, lebah siake. Untung paniknya diem, kalo kepeleset? Mungkin nggak akan bisa nulis post-an ini di blog. Yang ada kalian melayat. ( kalo kalian mau )

berkabut!
bareng Anomali di Andong.










bareng Babigel setelah kesengat lebah!


Ini 'punggung' terjal dan sempit yang gue maksud.
















Hari terakhir, pagi sebelum pulang, gue, Anomali, Gerhana, dan Babigel pergi ke peternakan milik kenalan tantenya Babigel. Bau tahi. Iyalah, isinya sapi semua.
Ada anak sapi yang baru berumur 2 minggu. Dengan sok beraninya, Babigel maju mendekat. Tangan Babigel dihisap sama sapi. Liurnya kemana-mana. Nggak bisa lepas. Mampus. Kami juga menamakan sapi itu—yang kebetulan belum dikasih nama—Umami de Gery lé Holy. Umami karena, umh, begitulah, Gery, karena ada teman kami bernama sama yang kalo makan liurnya kemana-mana, persis sapi itu, dan Holy, eh, begitulah.

Lava tour. Wisata keliling Merapi pakai Jeep. Di tengah semuanya teriak-teriak seru, menjulurkan kepala ke atas Jeep, menikmati angin, eh, si Gerhana tiba-tiba diam. Terus tiba-tiba nangis! Astaga. Gue ngga ngerti lagi. Ditanya, jawabnya, “Gue juga nggak tahu kenapa gue nangis.” Bodo amat. Dasar, Gerhana.
Lalu percakapan ini terjadi di Merapi. Mas-mas guide nunjuk beberapa orang yang sedang foto sambil lompat ( foto  jumpshot ). Dia berkata, “Yak, jadi kalo fotonya begitu, hasilnya ntar kayak seakan-akan terbang gitu. Jadi kita harus terbang bentar, keren deh ntar, terus jatuh lagi.”
Terus gue sautin, “Iya mas, singkatnya, lompat.”
Mas-masnya benci sama gue.
Yah, sampai saatnya, kami foto lompat ramai-ramai. Ingin buat foto terlihat sekeren mungkin, gue dengan pede lompat setinggi mungkin dengan kaki super ngangkang. Selamat, Azmalaka! Setelah kejadian itu, saya harus menghabiskan beberapa waktu dengan celana robek depan sampai belakang.

penyebab celana saya robek.

Aduh, sekarang pukul sebelas malam. Seperti yang gue bilang, kalau semua diceritain, ntar diterbitin jadi novel aja sekalian.

Lima hari di Jogjakarta bersama teman-teman tercinta; tidak akan saya lupakan.


Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar