Oke,
walaupun tahun lahirku sama dengan tahun rilisnya AADC, jangan anggap aku
nggatau apa-apa. Aku tau, suwer.
He.
Kilas
balik sebentar:
awal
tahun 2016, gue membuat semacam—bukan resolusi tahunan sih, lebih ke arah goals
atau tujuan atau target setahun ini. Salah satunya nonton AADC 2 bareng seorang
temen yang susah banget diajak pergi kemana-mana, apalagi ke mall, bioskop,
gitu-gitu.
Kemarin
akhirnya terwujud.
Jangan
harap terwujudnya mulus-mulus! Begini:
yah,
begitulah sekolahku, tugas makalah-video-laporan-kunjungan tiap minggu.
Alhasil, tiap weekend waktu selalu terpakai untuk membuat salah satu tugas itu.
Kemarin? Bikin video. Huh. Melelahkan.
Kemarin
pulang sekolah pukul 3 sore, itung-itung macet sampai rumah teman jam 5. Sampai
rumah (( w a c a n a n y a )) mau langsung set-set-set bikin tugas video itu.
Sayang, wacana. Makanan sudah disajikan. Jadilah kita makan. Setelah kenyang?
Ya mager lah! Leyeh-leyeh, males, bawaannya mau tidur.
Liat
jam: mampus. Jam enam. Mau nonton yang jam setengah delapan malam. Matilah.
Tugas
atau AADC?
YA
AADC LAH BUSET.
Langsung
semua berbenah—semua dalam artian gue, anomali, gerhana, nainai, dan ibunya
nainai—masuk mobil heboh-heboh.
Yak,
jam tujuh. Masih di Taman Mini, nonton (jadinya) jam delapan lewat lima belas. Mamam
tuh nonton.
TAPI
GUE ((KITA)) KAN GAK PANTANG MENYERAH?!?!?!?!? Jadi kita ngebut—oke, definisi
ngebut disini: berteriak-teriak pada ibunya nainai untuk ngebut, sampai membuat
U-turn sendiri di tengah-tengah jalan raya (?!?!?!) nyawaku hamper dipertaruhkan.
Kami
selamat sampai di Kemang Village. Tepat waktu.
Bukannya
senang lagi—bahagia.
Kami
berempat (ya, kita meninggalkan ibunya nainai di parkiran) berlarian, naik-naik
tangga jalan dengan cepat. Malu sih, tapi, ya udahlah? Mereka gak kenal ini.
Hehe.
Tebak
sampai atas bagaimana keadaannya? Kayak Jakarta kalo hati lagi sepi—rame.
Banget.
Kami
cuma bisa ketawa, sambil mengutuk semua yang bisa dilihat oleh mata. Akhirnya
kami memutuskan untuk kembali ke mobil bersama ibunya nainai, dan beliau
memutuskan untuk jalan menuju Plaza Senayan, mau nonton yang jam sembilan.
Baiklah, kami menurut (sambil tertawa bahagia karena pulang makin malam.)
Sampe
depan Plaza Senayan? BANTING SETIR LAGI, menuju Kuningan City. Mantap. Mau
nonton yang jam sembilan lewat dua puluh lima.
Tapi,
intuisi kami berkata bahwa studio akan penuh.
Lalu?
YA
BANTING SETIR LAGI.
Ke
Lotte Avenue, atau dikenal juga dengan Ciputra World—mau nonton yang jam
sepuluh.
Apa
daya ketika kami sampai di atas, semesta menolak?
Semesta
tidak memperbolehkan kita nonton AADC cepet-cepet, kayaknya. Kami nonton yang
jam sebelas malam.
Ya,
sebelas malam.
Dari
rencana setengah delapan.
Sepanjang
nunggu tiket yang dibeli dengan nekat itu, semua ngeracau sendiri;
“Mampus
gua,”
“Kayaknya
gua pulang tidur depan pager aja deh,”
“Woi
bokap gue udah nungguin pake golok depan pager,”
“Gue
bakal diakuin anak gak ya?”
“Kalo
hari Senin gue nggak masuk, kunjungin gue di San Diego Hills ya,”
gadeh,
lebay.
Tapi
akhirnya kami ngerasa: ya sudahlah, sekali-sekali ini. Belom pernah kan? Santai
aja. Asal jangan sering-sering.
Sampai
akhirnya kami nonton film itu.
SUMPAH
NGGAK NGERTI TU FILM TERKUTUK!!!!!
Gadeh.
Aku cinta AADC.
Tapi
ngga ngerti gitu lho?? Filmnya sedih tapi mereka lucu?? Jadi bingung mau mewek
atau ngakak??
Film selesai, kami pulang (( masih pulang bareng-bareng )) pukul 2 subuh. Hm.
Film selesai, kami pulang (( masih pulang bareng-bareng )) pukul 2 subuh. Hm.
Akhir
kata,
Adinia
Wirasti dan Dian Sastro,
kalian
kakakku ya?
bagaimana dengan bapak ivan apakah kamu dibunuh.
BalasHapus