Minggu, 01 April 2018

/ perihal waktu /

Dimakan waktu, atau mungkin, termakan waktu?


Tiba-tiba tersadar, waktu cepat sekali melahap semesta. Seakan-akan waktu tidak pernah berjalan, merangkak, atau bahkan melata. Waktu selalu berlari, berlari, berlari; dengan kecepatan konstan, atau lebih cepat, atau lebih cepat lagi. Seperti mengejar sesuatu. Seperti dikejar sesuatu.

Waktu melahap semesta.

Gue ngerasa, baru 4 bulan berlangsung semenjak gue masuk dunia per-SMA-an, ternyata udah hampir setahun. Gue, yang awalnya menghindari interaksi sekaligus menghindari masalah, bersikap kaku dan enggan terhadap teman-teman dan kakak kelas, dan belum punya teman seperjuangan karena beda jurusan sendiri dari teman-teman yang satu SMP. Gue, sekarang, diintervensi oleh waktu untuk menjadi Arthur yang sudah naik level. Sudah mengikuti panitia ini-itu, sekawan dengan teman-teman seangkatan, di atas satu, atau di atas dua, memiliki kesempatan untuk punya pengalaman lebih atas ini-itu di sekolah daripada teman-teman lainnya.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya.

Minggu depan adalah minggu terakhir keterlibatan angkatan 29 (, kelas 3 SMA di sekolah gue,) sebelum berakhir di pelepasan atau graduation. Mereka akan menghadapi Ujian Nasional, setelah minggu kemarin sudah menguras darah melawan Ujian Sekolah Berbasis Nasional.

Faktanya, belum pernah gue merasakan ikatan yang begitu besar dan kuat dengan sekolah (yang lebih tepat disebut keluarga), yang bahkan berbeda angkatan. Dua tahun lebih tua. Berat rasanya, membayangkan sekolah tanpa angkatan 29. Mereka adalah jiwa-jiwa pertama yang berhasil menanamkan nilai-nilai dan budaya Gonzaga terhadap angkatan saya. (Maaf jika kata ganti orang pertama berganti-ganti antara saya, gue, atau aku. Hak penulis, oke?) Saya pribadi merasa, angkatan mereka adalah angkatan yang tidak hanya berkoar-koar, namun beraksi. Merekalah bukti nyata, living proof, bahwa budaya Gonzaga itu nyata. Bukan rekayasa. Melalui mereka, saya bisa melihat 4C+HS yang lebih, magis, daripada melalui siapapapun, baik merujuk per-pribadi atau angkatan.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun.

Aku menginginkan perpanjangan waktu. Sembilan hari seminggu, mungkin? Empat belas hari seminggu, enam minggu sebulan?

Aku tidak siap dengan laju waktu yang kurang ajar. Waktu berlari begitu cepat, mengingatkan saya akan kewajiban-kewajiban (atau paksaan-paksaan) yang menghadang. Semakin dekat dengan menjadi kakak kelas, semakin dekat dengan UAS, semakin dekat dengan nilai-nilai rendah, semakin dekat dengan kuliah, semakin dekat dengan skripsi, semakin dekat dengan sarjana, semakin dekat dengan bekerja, semakin dekat dengan pernikahan, semakin dekat dengan kematian.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun, dan mendekatkan manusia (atau hanya saya) dengan hal-hal yang tidak mereka (atau saya) inginkan.


“Tapi, hidup ini cair. Semesta bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur, tetapi penuh rahasia.” –oleh Dewi Lestari.


01/04/18 - 18:51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar