Dimakan waktu, atau
mungkin, termakan waktu?
Tiba-tiba tersadar, waktu cepat sekali melahap semesta.
Seakan-akan waktu tidak pernah berjalan, merangkak, atau bahkan melata. Waktu
selalu berlari, berlari, berlari; dengan kecepatan konstan, atau lebih cepat,
atau lebih cepat lagi. Seperti mengejar sesuatu. Seperti dikejar sesuatu.
Waktu melahap
semesta.
Gue ngerasa, baru 4 bulan berlangsung semenjak gue
masuk dunia per-SMA-an, ternyata udah hampir setahun. Gue, yang awalnya
menghindari interaksi sekaligus menghindari masalah, bersikap kaku dan enggan
terhadap teman-teman dan kakak kelas, dan belum punya teman seperjuangan karena
beda jurusan sendiri dari teman-teman yang satu SMP. Gue, sekarang,
diintervensi oleh waktu untuk menjadi Arthur yang sudah naik level. Sudah
mengikuti panitia ini-itu, sekawan dengan teman-teman seangkatan, di atas satu,
atau di atas dua, memiliki kesempatan untuk punya pengalaman lebih atas ini-itu
di sekolah daripada teman-teman lainnya.
Waktu, berhasil,
melahap semesta dengan kecepatan cahaya.
Minggu depan adalah minggu terakhir keterlibatan
angkatan 29 (, kelas 3 SMA di sekolah gue,) sebelum berakhir di pelepasan atau graduation. Mereka akan menghadapi Ujian
Nasional, setelah minggu kemarin sudah menguras darah melawan Ujian Sekolah
Berbasis Nasional.
Faktanya, belum pernah gue merasakan ikatan yang
begitu besar dan kuat dengan sekolah (yang lebih tepat disebut keluarga), yang
bahkan berbeda angkatan. Dua tahun lebih tua. Berat rasanya, membayangkan
sekolah tanpa angkatan 29. Mereka adalah jiwa-jiwa pertama yang berhasil
menanamkan nilai-nilai dan budaya Gonzaga terhadap angkatan saya. (Maaf jika kata ganti orang pertama
berganti-ganti antara saya, gue, atau aku. Hak penulis, oke?) Saya pribadi
merasa, angkatan mereka adalah angkatan yang tidak hanya berkoar-koar, namun
beraksi. Merekalah bukti nyata, living
proof, bahwa budaya Gonzaga itu nyata. Bukan rekayasa. Melalui mereka, saya
bisa melihat 4C+HS yang lebih, magis, daripada melalui siapapapun, baik merujuk
per-pribadi atau angkatan.
Waktu, berhasil,
melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun.
Aku menginginkan perpanjangan waktu. Sembilan hari
seminggu, mungkin? Empat belas hari seminggu, enam minggu sebulan?
Aku tidak siap dengan laju waktu yang kurang ajar.
Waktu berlari begitu cepat, mengingatkan saya akan kewajiban-kewajiban (atau
paksaan-paksaan) yang menghadang. Semakin dekat dengan menjadi kakak kelas,
semakin dekat dengan UAS, semakin dekat dengan nilai-nilai rendah, semakin
dekat dengan kuliah, semakin dekat dengan skripsi, semakin dekat dengan
sarjana, semakin dekat dengan bekerja, semakin dekat dengan pernikahan, semakin
dekat dengan kematian.
Waktu, berhasil,
melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun, dan mendekatkan
manusia (atau hanya saya) dengan hal-hal yang tidak mereka (atau saya)
inginkan.
“Tapi,
hidup ini cair. Semesta bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari
kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih
diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur, tetapi penuh
rahasia.” –oleh Dewi Lestari.
01/04/18 - 18:51