Minggu, 01 April 2018

untitled #9


katanya ingin kesetaraan
tetapi ingin diangkat sampai ke awan

katanya ingin kesamaan hak
tetapi ingin ditinggikan sambil bergejolak

katanya ingin dihargai
tapi menjatuhkan lain pribadi

katanya kita semua sama,
katanya jaman emansipasi,

tapi saat sudah sama rata
malah menjatuhkan derajat diri lelaki

[  wanita memang patut diagungkan, namun sama halnya bagi pria. maka jangan mengangkat derajat wanita sampai langit ketujuh, melainkan samakan derajatnya dengan lelaki. karena lelaki tidak melulu bejat, dan sisanya tidak semua penyuka sesama.  ]


Selamat Hari Wanita Internasional, H+24.

/ perihal waktu /

Dimakan waktu, atau mungkin, termakan waktu?


Tiba-tiba tersadar, waktu cepat sekali melahap semesta. Seakan-akan waktu tidak pernah berjalan, merangkak, atau bahkan melata. Waktu selalu berlari, berlari, berlari; dengan kecepatan konstan, atau lebih cepat, atau lebih cepat lagi. Seperti mengejar sesuatu. Seperti dikejar sesuatu.

Waktu melahap semesta.

Gue ngerasa, baru 4 bulan berlangsung semenjak gue masuk dunia per-SMA-an, ternyata udah hampir setahun. Gue, yang awalnya menghindari interaksi sekaligus menghindari masalah, bersikap kaku dan enggan terhadap teman-teman dan kakak kelas, dan belum punya teman seperjuangan karena beda jurusan sendiri dari teman-teman yang satu SMP. Gue, sekarang, diintervensi oleh waktu untuk menjadi Arthur yang sudah naik level. Sudah mengikuti panitia ini-itu, sekawan dengan teman-teman seangkatan, di atas satu, atau di atas dua, memiliki kesempatan untuk punya pengalaman lebih atas ini-itu di sekolah daripada teman-teman lainnya.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya.

Minggu depan adalah minggu terakhir keterlibatan angkatan 29 (, kelas 3 SMA di sekolah gue,) sebelum berakhir di pelepasan atau graduation. Mereka akan menghadapi Ujian Nasional, setelah minggu kemarin sudah menguras darah melawan Ujian Sekolah Berbasis Nasional.

Faktanya, belum pernah gue merasakan ikatan yang begitu besar dan kuat dengan sekolah (yang lebih tepat disebut keluarga), yang bahkan berbeda angkatan. Dua tahun lebih tua. Berat rasanya, membayangkan sekolah tanpa angkatan 29. Mereka adalah jiwa-jiwa pertama yang berhasil menanamkan nilai-nilai dan budaya Gonzaga terhadap angkatan saya. (Maaf jika kata ganti orang pertama berganti-ganti antara saya, gue, atau aku. Hak penulis, oke?) Saya pribadi merasa, angkatan mereka adalah angkatan yang tidak hanya berkoar-koar, namun beraksi. Merekalah bukti nyata, living proof, bahwa budaya Gonzaga itu nyata. Bukan rekayasa. Melalui mereka, saya bisa melihat 4C+HS yang lebih, magis, daripada melalui siapapapun, baik merujuk per-pribadi atau angkatan.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun.

Aku menginginkan perpanjangan waktu. Sembilan hari seminggu, mungkin? Empat belas hari seminggu, enam minggu sebulan?

Aku tidak siap dengan laju waktu yang kurang ajar. Waktu berlari begitu cepat, mengingatkan saya akan kewajiban-kewajiban (atau paksaan-paksaan) yang menghadang. Semakin dekat dengan menjadi kakak kelas, semakin dekat dengan UAS, semakin dekat dengan nilai-nilai rendah, semakin dekat dengan kuliah, semakin dekat dengan skripsi, semakin dekat dengan sarjana, semakin dekat dengan bekerja, semakin dekat dengan pernikahan, semakin dekat dengan kematian.

Waktu, berhasil, melahap semesta dengan kecepatan cahaya tanpa tahu ampun, dan mendekatkan manusia (atau hanya saya) dengan hal-hal yang tidak mereka (atau saya) inginkan.


“Tapi, hidup ini cair. Semesta bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur, tetapi penuh rahasia.” –oleh Dewi Lestari.


01/04/18 - 18:51

Rabu, 22 November 2017

fresh start!

"Mas, itu emang mas akrab sama semuanya, apa ngasal aja dadah-dadah?" tanya pengemudi transportasi online--tepatnya mobil--setelah puas tertawa cekikikan melihatku dadah-dadah di sepanjang kantin, pintu keluar, sampai warung samping sekolah.
Sambil tersenyum antara bangga, lucu, dan agar mendramatisir keadaan saja, saya membalas, "Ini memang budaya, Pak, di sini. Deket nggak deket, kakak kelas maupun adik kelas, semua 'izin' kalo mau pulang. Biar lebih akrab, biar kekeluargaannya terasa."

Sudah hampir satu semester saya memasuki rumah baru, keluarga baru: Kolese Gonzaga. Selalu lucu, bahwa sekolah ini jauh lebih pantas disebut keluarga daripada sekolah. Kita diubah dan dibentuk menjadi manusia yang lebih baik dan utuh, diajarkan untuk hidup sebagai manusia bukan robot.

Kembali teringat bagaimana saya bisa masuk dan bersekolah di sini. Dari TK, SD, sampai SMP, saya mengemban ilmu di sekolah yang sama—dan itu terasa monoton, membosankan, dan membebankan. Saya bosan dengan lingkungan yang itu-itu saja, bosan dengan teman yang dia-dia lagi, dan melihat pola hidup yang sama selama kurang lebih sebelas tahun. Saya memutuskan untuk memilih sekolah yang terlihat bahagia, sekolah saya yang sekarang.

Semua orang tidak pernah berhenti bahagia. Tentu saja, siapa yang tidak bahagia dengan keluarganya sendiri?

Kami diajarkan untuk pintar-pintar membagi waktu. Sekolah di sini terasa seperti bekerja sambil belajar, bukan belajar sambil bekerja. Kepanitiaan, kegiatan komunitas, dan berbagai acara menerjang setiap minggunya. Hari-hari saya diisi dengan kegiatan ini-itu, dari yang paling kecil sampai yang besar sekalipun. Dengan keadaan seperti ini, ditambah dengan sekian banyak pelajaran, ulangan, dan tugas yang menunggu, seharusnya orang akan merasa tertekan. Tapi tidak demikian di sini. Memang, pasti ada rasa tekanan, tapi selalu ada tempat di lubuk hati murid Gonzaga untuk kebahagiaan. Selalu.

Banyak perubahan yang terjadi pada saya selama (menuju) enam bulan pertama di Gonzaga. Mungkin lain kali saya akan bercerita, namun sekarang ratusan tugas menunggu untuk dijamah.


22/11 – 20.53