Jogjakarta
itu sama kayak Bandung;
nggak
pernah ngebosenin.
Malam
itu tanggal dua puluh tiga, pukul enam tiga puluh, gue terjebak macet parah.
Setengah
jam lagi kereta berangkat, dan gue masih di tengah-tengah kemacetan dalam
keadaan belum beli celana dalam kertas. Semua teman gue sudah sampai, bahkan
katanya sudah pemeriksaan tiket.
Mati
gue. Terjebak di kota orang tanpa pakaian dalam.
Gue
pikir, nggak papa. Jogjakarta bukan pedalaman yang nggak ada di peta, pasti
ada Ind*mar*t.
Pukul
tujuh kurang delapan, gue baru sampai Stasiun Senen. Dasar gila.
Perjalanan
dimulai.
Liburan
pertama gue dengan teman-teman.
Awalnya
begini:
Gue
dan—sebut saja Sheren—merasa bosan di sekolah. Terjadi percakapan kecil yang
biasanya tumbuh jadi wacana, seperti,
“Liburan
bareng yuk!”
“Kemana?”
“Ke
Jogja aja lah.”
“Ajak
siapa aja?”
“Emang
pada boleh? Yakin”
dan,
saya juga nggak nyangka, kami benar-benar menghabiskan lima hari di Jogjakarta.
Kami
berdelapan; saya, Anomali, Gerhana, Babigel, Sheren, Nani, dan Nainai memulai
perjalanan di Stasiun Senen pukul tujuh malam. Bertujuh sih, soalnya Sheren
nyusul tanggal dua puluh enam.
Sampai di Jogjakarta, tanggal dua puluh empat Juni, pukul
tiga dini hari. Makan Indomie telor diiringi Milo panas. Bersama
kesayangan-kesayangan, di kota Jogjakarta tersayang. Nggak ada duanya.
Buru-buru, kami memburu terbitnya mentari di Hutan Pinus
Mangunan, Inogiri. Dari dulu kepengen banget ke hutan pinus, nggak pernah
kesampean, eh, kesampean di Jogja.
![]() |
| sunrise di Hutan Pinus Mangunan, Inogiri. |
Banyak hal-hal yang pasti tidak akan pernah gue lupakan di
Jogjakarta. Wah, kalo dijelasin satu-satu, blog gue bisa diterbitin jadi buku,
kali?
Seperti;
Hampir ketinggalan kereta pas pergi. Iya, yang udah gue
ceritain tadi. Paniknya sampai ke ubun-ubun. Belum lagi, sampai kereta, nggak
bisa tidur. Anomali, Gerhana, dan Babigel berisiknya setengah mati.
Malu-maluin. Sampai ada orang yang negur. Yaiyalah, bayangin, satu gerbong lagi
tidur, mereka bertiga ketawa-ketawa bertiga. Teriak-teriak, pula! Mana si
Babigel pakai acara nangis segala. Bodo amat.
Daki gunung bareng. Gunung kecil sih, 1.800-an mdpl, nggak
ada apa-apanya dibanding Gunung Papandayan, Merbabu, Bromo, atau gunung-gunung
lain. Nama gunungnya Andong. Tapi, gimana? Kami masih remaja labil, beberapa dari kami nggak cukup kuat untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung lain yang lebih tinggi. Tapi agak kecewa sih. Sampai puncak super dingin, berangin, dan berkabut.
Nggak kelihatan gunung di seberang. Lalu, Gunung Andong terkenal karena ada
jalan yang sempit—cuma cukup satu orang—yang agak ngeri soalnya berbatu licin
dan pinggir jurang. Bayangkan, gue lagi jalan pelan-pelan di daerah itu,
tiba-tiba dengan bajingannya ada lebah gede yang nyengat leher gue. Saking
paniknya, gue sampai diem doang. Nggak gerak. Takut. Dasar, lebah siake. Untung
paniknya diem, kalo kepeleset? Mungkin nggak akan bisa nulis post-an ini di
blog. Yang ada kalian melayat. ( kalo kalian mau )
![]() |
| berkabut! |
Hari terakhir, pagi sebelum pulang, gue, Anomali, Gerhana, dan Babigel pergi ke peternakan milik kenalan tantenya Babigel. Bau tahi. Iyalah, isinya sapi semua.
Ada anak sapi yang baru berumur 2 minggu. Dengan sok
beraninya, Babigel maju mendekat. Tangan Babigel dihisap sama sapi. Liurnya
kemana-mana. Nggak bisa lepas. Mampus. Kami juga menamakan sapi itu—yang
kebetulan belum dikasih nama—Umami de Gery lé Holy. Umami karena, umh,
begitulah, Gery, karena ada teman kami bernama sama yang kalo makan liurnya
kemana-mana, persis sapi itu, dan Holy, eh, begitulah.
Lava tour. Wisata keliling Merapi pakai Jeep. Di tengah
semuanya teriak-teriak seru, menjulurkan kepala ke atas Jeep, menikmati angin,
eh, si Gerhana tiba-tiba diam. Terus tiba-tiba nangis! Astaga. Gue ngga ngerti
lagi. Ditanya, jawabnya, “Gue juga nggak tahu kenapa gue nangis.” Bodo amat.
Dasar, Gerhana.
Lalu percakapan ini terjadi di Merapi. Mas-mas guide nunjuk
beberapa orang yang sedang foto sambil lompat ( foto jumpshot ). Dia berkata, “Yak, jadi kalo
fotonya begitu, hasilnya ntar kayak seakan-akan terbang gitu. Jadi kita harus
terbang bentar, keren deh ntar, terus jatuh lagi.”
Terus gue sautin, “Iya mas, singkatnya, lompat.”
Mas-masnya benci sama gue.
Yah, sampai saatnya, kami foto lompat ramai-ramai. Ingin
buat foto terlihat sekeren mungkin, gue dengan pede lompat setinggi mungkin
dengan kaki super ngangkang. Selamat, Azmalaka! Setelah kejadian itu, saya
harus menghabiskan beberapa waktu dengan celana robek depan sampai belakang.
![]() |
| penyebab celana saya robek. |
Aduh, sekarang pukul sebelas malam. Seperti yang gue bilang,
kalau semua diceritain, ntar diterbitin jadi novel aja sekalian.
Lima hari di Jogjakarta bersama teman-teman tercinta; tidak akan saya lupakan.
Terima kasih.






