Jumat, 06 Mei 2016

untitled #5

Karena hidup tidak selamanya mulus,
tidak juga selamanya tulus.

Menjalaninya tidak mudah,
berdosa kadang sudah lumrah.

Lelah sudah jadi biasa,
pun mau mati tak bisa.

Penat sudah permanen di kening,
air ekskresi tidak lagi bening.

04/05 '16
dalam sebuah Avanza sewaan yang melaju perlahan

Minggu, 01 Mei 2016

Ada apa dengan Cinta? #2

Oke, walaupun tahun lahirku sama dengan tahun rilisnya AADC, jangan anggap aku nggatau apa-apa. Aku tau, suwer.

He.

Kilas balik sebentar:
awal tahun 2016, gue membuat semacam—bukan resolusi tahunan sih, lebih ke arah goals atau tujuan atau target setahun ini. Salah satunya nonton AADC 2 bareng seorang temen yang susah banget diajak pergi kemana-mana, apalagi ke mall, bioskop, gitu-gitu.
Kemarin akhirnya terwujud.
Jangan harap terwujudnya mulus-mulus! Begini:
yah, begitulah sekolahku, tugas makalah-video-laporan-kunjungan tiap minggu. Alhasil, tiap weekend waktu selalu terpakai untuk membuat salah satu tugas itu. Kemarin? Bikin video. Huh. Melelahkan.
Kemarin pulang sekolah pukul 3 sore, itung-itung macet sampai rumah teman jam 5. Sampai rumah (( w a c a n a n y a )) mau langsung set-set-set bikin tugas video itu. Sayang, wacana. Makanan sudah disajikan. Jadilah kita makan. Setelah kenyang? Ya mager lah! Leyeh-leyeh, males, bawaannya mau tidur.
Liat jam: mampus. Jam enam. Mau nonton yang jam setengah delapan malam. Matilah.

Tugas atau AADC?

YA AADC LAH BUSET.

Langsung semua berbenah—semua dalam artian gue, anomali, gerhana, nainai, dan ibunya nainai—masuk mobil heboh-heboh.
Yak, jam tujuh. Masih di Taman Mini, nonton (jadinya) jam delapan lewat lima belas. Mamam tuh nonton.
TAPI GUE ((KITA)) KAN GAK PANTANG MENYERAH?!?!?!?!? Jadi kita ngebut—oke, definisi ngebut disini: berteriak-teriak pada ibunya nainai untuk ngebut, sampai membuat U-turn sendiri di tengah-tengah jalan raya (?!?!?!) nyawaku hamper dipertaruhkan.
Kami selamat sampai di Kemang Village. Tepat waktu.
Bukannya senang lagi—bahagia.
Kami berempat (ya, kita meninggalkan ibunya nainai di parkiran) berlarian, naik-naik tangga jalan dengan cepat. Malu sih, tapi, ya udahlah? Mereka gak kenal ini. Hehe.
Tebak sampai atas bagaimana keadaannya? Kayak Jakarta kalo hati lagi sepi—rame. Banget.
Kami cuma bisa ketawa, sambil mengutuk semua yang bisa dilihat oleh mata. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil bersama ibunya nainai, dan beliau memutuskan untuk jalan menuju Plaza Senayan, mau nonton yang jam sembilan. Baiklah, kami menurut (sambil tertawa bahagia karena pulang makin malam.)
Sampe depan Plaza Senayan? BANTING SETIR LAGI, menuju Kuningan City. Mantap. Mau nonton yang jam sembilan lewat dua puluh lima.
Tapi, intuisi kami berkata bahwa studio akan penuh.
Lalu?
YA BANTING SETIR LAGI.
Ke Lotte Avenue, atau dikenal juga dengan Ciputra World—mau nonton yang jam sepuluh.
Apa daya ketika kami sampai di atas, semesta menolak?
Semesta tidak memperbolehkan kita nonton AADC cepet-cepet, kayaknya. Kami nonton yang jam sebelas malam.
Ya, sebelas malam.
Dari rencana setengah delapan.
Sepanjang nunggu tiket yang dibeli dengan nekat itu, semua ngeracau sendiri;
“Mampus gua,”
“Kayaknya gua pulang tidur depan pager aja deh,”
“Woi bokap gue udah nungguin pake golok depan pager,”
“Gue bakal diakuin anak gak ya?”
“Kalo hari Senin gue nggak masuk, kunjungin gue di San Diego Hills ya,”
gadeh, lebay.

Tapi akhirnya kami ngerasa: ya sudahlah, sekali-sekali ini. Belom pernah kan? Santai aja. Asal jangan sering-sering.

Sampai akhirnya kami nonton film itu.
SUMPAH NGGAK NGERTI TU FILM TERKUTUK!!!!!
Gadeh. Aku cinta AADC.
Tapi ngga ngerti gitu lho?? Filmnya sedih tapi mereka lucu?? Jadi bingung mau mewek atau ngakak??
Film selesai, kami pulang (( masih pulang bareng-bareng )) pukul 2 subuh. Hm.

Akhir kata,
Adinia Wirasti dan Dian Sastro,

kalian kakakku ya?