"Selamat malam, Putri,"
Selagi mata
Menutup selamanya
Jumat, 29 April 2016
Senin, 25 April 2016
Ada apa dengan Cinta?
Ku
lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku
lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi
Sepi
dan sendiri, aku benci!
Aku
ingin bingar
Aku
mau di pasar
Bosan
aku dengan penat,
dan
enyah saja kau pekat
Seperti
berjelaga di kala ku sendiri
Pecahkan
saja gelasnya biar ramai!
Biar
mengaduh sampai gaduh
Ada
malaikat,
menyulam
jarring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa
tak goyangkan saja loncengnya,
biar
terdera?
Ataukah,
aku
harus lari ke hutan
Lalu
belok, ke pantai?
Adalah
puisi yang tidak lagi asing di kuping kita: yap! Ada Apa dengan Cinta (AADC).
Film
ini diproduksi dan dirilis di tahun yang sama ketika saya lahir, 2002. Terkejut?
Terkejutkah?? Apakah….??? Apasih.
Gue
juga baru tahu tentang film ini beberapa tahun yang lalu, saat gue kelas lima
SD. Tiba-tiba nemu DVD AADC di laci televisi ((yang ternyata punya n y o k a
p)). Biasa, anak kecil kurang ajar dengan jiwa penasaran, liat-liat. Tapikan
belom ngerti. Langsung gue pause. Matiin. hE.
Terus
kelas tujuh, tahun lalu—atau tepatnya satu setengah tahun lalu, nemu lagi deh
DVD AADC itu. Masa-masa ABG labil udah agak ngerti lah hE jadi gue setel.
Gue
suka banget. Ngga boong. Jadi pengen lahir tahun 1990-an.
AYAH
IBU MENGAPA KAMU SEKALIAN KELAMAAN NGEBUAT AKU : (((
Hehehe.
Tapi
serius. Belakangan, gue baru tahu kalo filmya dishoot di SMA Kolese Gonzaga (Oh
Tuhan ???!?!?!!!???!?!!!!?!??!?!?!) pas masa-masa pembuatan AADC 2 itu masih
gossip belaka. Langsung pengen buru-buru SMA, masuk Gonzaga, terus siapa tahu
AADC 2 casting anak-anak Gonz.
Mimpi.
Tapikan
mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. APASIH????????
((
Now Playing: Laskar Pelangi-Nidji ))
Oke.
Tepat beberapa minggu setelah mimpi indah itu kurajut dalam kepala, ada kabar
resmi bahwa AADC dua akan segera diproduksi. Castsnya? Mereka lagi. Yah, aku
mau dong:(( mimpi adalah kunci kan?!?!?!
Ini
apasih mulai gajelas ya : ( pembaca, maafin ya…
Aku
sakit hati.
Tapi
bodo amat. Hehehe.
Eh
kemaren aja baru ke Toko Buku Gra**dia, Ada Apa dengan Cinta dibukukan ya? Tapi
tipis banget novelnya huhu.
Okelah.
H-3 AADC 2.
Semoga
mimpi tetap menjadi kunci untuk menaklukkan dunia, ya.
Kamis, 14 April 2016
aku, kamu, kita; kopi susu
aku kopi, kamu susu
aku pahit, kamu manis
aku hitam, kamu putih
aku gelap, kamu gemilang
aku redup, kamu gemerlang
aku pagi, kamu malam
aku kebenaran, kamu dusta
aku keras, kamu dingin
kita adalah kopi susu
kita manis namun gurih
kita hitam campur putih
kita gelap, juga gemilang
kita redup, juga gemerlang
kita senja yang temaram
kita benar tapi dusta
kita keras lalu dingin
bersama,
kamu tahu,
kita indah
bersama,
kamu tahu,
kita satu.
21.17
aku pahit, kamu manis
aku hitam, kamu putih
aku gelap, kamu gemilang
aku redup, kamu gemerlang
aku pagi, kamu malam
aku kebenaran, kamu dusta
aku keras, kamu dingin
kita adalah kopi susu
kita manis namun gurih
kita hitam campur putih
kita gelap, juga gemilang
kita redup, juga gemerlang
kita senja yang temaram
kita benar tapi dusta
kita keras lalu dingin
bersama,
kamu tahu,
kita indah
bersama,
kamu tahu,
kita satu.
21.17
Minggu, 03 April 2016
Cinta, Ekspektasi
Namanya Cinta,
Namanya Ekspektasi
Pada sebuah ruang gelap temaram, Cinta dan
Ekspektasi bertemu
Berdua, dalam hening
Cinta dapat mendengar hembusan udara kosong yang
berasal dari rongga hidung Ekspektasi
Ekspektasi dapat mendengar suara gesekkan tangan,
hasil bertemunya telapak tangan dengan paha Cinta
Cinta mulai bersedandung kecil
“Karena langkah merapuh tanpa dirimu, karena
hati tak letih,” Cinta tersenyum, “Tanpamu sepinya waktu merantai hati,
bayangmu seakan-akan.”
Ekspektasi menyunggingkan sebuah senyum canggung
pada Cinta.
Perlahan Ekspektasi menggeser bokongnya lebih
dekat pada Cinta.
Satu per satu helai kain dari tubuh Cinta
dilepaskan.
Ekspektasi melihat Cinta penuh kagum nan gairah,
menelusur tubuh Cinta dengan ujung jarinya—halus
Cinta terdiam sebentar. “Biarkan aku,” Cinta
melepas kancing kemeja Ekspektasi perlahan. Sama pelannya, Cinta menggerakan
tangannya ke bawah pinggang Ekspektasi—tempat sebagian besar darahnya berhimpun
saat itu—dan melepaskan apa saja yang ada disana. Dia rela.
Berdua dalam suatu ruang temaram, keduanya
berdiri berhadapan tanpa sehelai kainpun pada tubuh masing-masing.
Keduanya tersenyum.
Ekspektasi mendekatkan tubuhnya pada tubuh
Cinta.
Tepat pada momentum tubuh Ekspektasi dan Cinta
tak lagi dua, melainkan satu, keduanya terlempar.
Jauh, sampai pada pojok tergelap ruang itu.
Keduanya mati. Tanpa asa.
Mereka juga sudah siap akan itu.
Siapapun sudah tahu, pun mereka sudah tahu,
Cinta dan Ekspektasi tidak akan pernah bersatu.
Langganan:
Komentar (Atom)