Senin, 25 April 2016

Ada apa dengan Cinta?



Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi
Sepi dan sendiri, aku benci!
Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga di kala ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai!
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat,
menyulam jarring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya,
biar terdera?
Ataukah,
aku harus lari ke hutan
Lalu belok, ke pantai?

            Adalah puisi yang tidak lagi asing di kuping kita: yap! Ada Apa dengan Cinta (AADC).
            Film ini diproduksi dan dirilis di tahun yang sama ketika saya lahir, 2002. Terkejut? Terkejutkah?? Apakah….??? Apasih.
            Gue juga baru tahu tentang film ini beberapa tahun yang lalu, saat gue kelas lima SD. Tiba-tiba nemu DVD AADC di laci televisi ((yang ternyata punya n y o k a p)). Biasa, anak kecil kurang ajar dengan jiwa penasaran, liat-liat. Tapikan belom ngerti. Langsung gue pause. Matiin. hE.
            Terus kelas tujuh, tahun lalu—atau tepatnya satu setengah tahun lalu, nemu lagi deh DVD AADC itu. Masa-masa ABG labil udah agak ngerti lah hE jadi gue setel.
            Gue suka banget. Ngga boong. Jadi pengen lahir tahun 1990-an.


AYAH IBU MENGAPA KAMU  SEKALIAN KELAMAAN NGEBUAT AKU : (((


            Hehehe.
            Tapi serius. Belakangan, gue baru tahu kalo filmya dishoot di SMA Kolese Gonzaga (Oh Tuhan ???!?!?!!!???!?!!!!?!??!?!?!) pas masa-masa pembuatan AADC 2 itu masih gossip belaka. Langsung pengen buru-buru SMA, masuk Gonzaga, terus siapa tahu AADC 2 casting anak-anak Gonz.
            Mimpi.
            Tapikan mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. APASIH????????
            (( Now Playing: Laskar Pelangi-Nidji ))
            Oke. Tepat beberapa minggu setelah mimpi indah itu kurajut dalam kepala, ada kabar resmi bahwa AADC dua akan segera diproduksi. Castsnya? Mereka lagi. Yah, aku mau dong:(( mimpi adalah kunci kan?!?!?!
            Ini apasih mulai gajelas ya : ( pembaca, maafin ya…
            Aku sakit hati.
            Tapi bodo amat. Hehehe.
            Eh kemaren aja baru ke Toko Buku Gra**dia, Ada Apa dengan Cinta dibukukan ya? Tapi tipis banget novelnya huhu.
            Okelah. H-3 AADC 2.
            Semoga mimpi tetap menjadi kunci untuk menaklukkan dunia, ya.

( Haiku: 1 )



Kuingat peluk itu

Tiada dua

Biarkan rasa ini

Kamis, 14 April 2016

aku, kamu, kita; kopi susu

aku kopi, kamu susu

aku pahit, kamu manis

aku hitam, kamu putih

aku gelap, kamu gemilang

aku redup, kamu gemerlang

aku pagi, kamu malam

aku kebenaran, kamu dusta

aku keras, kamu dingin



kita adalah kopi susu

kita manis namun gurih

kita hitam campur putih

kita gelap, juga gemilang

kita redup, juga gemerlang

kita senja yang temaram

kita benar tapi dusta

kita keras lalu dingin


bersama,
kamu tahu,
kita indah

bersama,
kamu tahu,
kita satu.

21.17

Minggu, 03 April 2016

Cinta, Ekspektasi

Namanya Cinta,
Namanya Ekspektasi
  

Pada sebuah ruang gelap temaram, Cinta dan Ekspektasi bertemu
Berdua, dalam hening


Cinta dapat mendengar hembusan udara kosong yang berasal dari rongga hidung Ekspektasi
Ekspektasi dapat mendengar suara gesekkan tangan, hasil bertemunya telapak tangan dengan paha Cinta


Cinta mulai bersedandung kecil
“Karena langkah merapuh tanpa dirimu, karena hati tak letih,” Cinta tersenyum, “Tanpamu sepinya waktu merantai hati, bayangmu seakan-akan.”
Ekspektasi menyunggingkan sebuah senyum canggung pada Cinta.


Perlahan Ekspektasi menggeser bokongnya lebih dekat pada Cinta.


Satu per satu helai kain dari tubuh Cinta dilepaskan.
Ekspektasi melihat Cinta penuh kagum nan gairah, menelusur tubuh Cinta dengan ujung jarinya—halus
Cinta terdiam sebentar. “Biarkan aku,” Cinta melepas kancing kemeja Ekspektasi perlahan. Sama pelannya, Cinta menggerakan tangannya ke bawah pinggang Ekspektasi—tempat sebagian besar darahnya berhimpun saat itu—dan melepaskan apa saja yang ada disana. Dia rela.


Berdua dalam suatu ruang temaram, keduanya berdiri berhadapan tanpa sehelai kainpun pada tubuh masing-masing.


Keduanya tersenyum.


Ekspektasi mendekatkan tubuhnya pada tubuh Cinta.
Tepat pada momentum tubuh Ekspektasi dan Cinta tak lagi dua, melainkan satu, keduanya terlempar.
Jauh, sampai pada pojok tergelap ruang itu.


Keduanya mati. Tanpa asa.


Mereka juga sudah siap akan itu.
Siapapun sudah tahu, pun mereka sudah tahu,


Cinta dan Ekspektasi tidak akan pernah bersatu.