Minggu, 28 Februari 2016

Jadi, mau curhat.
Ergh-erm.


Kita semua tau kapasitas otak manusia ada batasnya.
Maksudnya—ya, katanya bahkan Albert Einstein yang disebut-sebut sebagai orang terpintar sejagad ini hanya menggunakan 10% dari otaknya—tapi bukan batasan itu yang gue maksud. Kayak, ya, nggak bisa menampung terlalu banyak pelajaran atau informasi sekaligus, kan?
Tapi nggak goblok-goblok juga kaleee.
Gue rasa bahasa udah nggak dipentingin lagi deh sekarang. Kenapa ya? Padahal kan, yang utama dari semuanya adalah kita bisa berkomunikasi satu sama lain. Mau diapain itu pelajaran kalo nggak bisa dimengerti karena bahasanya gajelas? Mau diapain itu informasi kalo nggak bisa diomongin karena nggak bisa menyusun diksi dengan benar?
            Bahkan sekarang jurusan bahasa udah jarang. Kalopun ada, dibilang jurusan terbuang. Padahal, dari jurusan ini timbul orang-orang besar—jurnalis, penulis, dst.
            Sekolah gue punya wadah kecil untuk anak-anak yang punya minat di bahasa, yaitu Jurnal Club. Gue wakilnya, temen gue—sebut aja nabnab adalah ketuanya, dan rorel—sebut saja begitu—adalah wakil dari pelaksananya.
            Salah satu pengalaman yang kami dapatkan bertiga adalah memeriksa, menyeleksi dan mengoreksi hasil kerjaan anak-anak lain. Dan,



A S T A G H F I R U L L A H,



kalo itu saya lakuin sendiri mungkin saya bisa gila. Sekian banyak artikel yang dikumpul, sekian banyak cerpen yang dibuat, sekian banyak ulasan profil yang akan dimuat—masa kapitalisasi aja salah? Nggak usah jauh-jauh deh, titik koma aja salah. Kalimat nggak efektif semua, contoh: “saya sangat senang banget,” “saya turun ke bawah,” atau bahkan nggak bisa ngebedain kami dan kita. Please, udah SMP lho!
            Jadi, untuk itu, gue memutuskan untuk menampar dan membuang mereka ke bara api, lalu meminta iblis untuk datang dan membawa mereka ke kerak terdalam neraka untuk disiksa  membuat pengajaran dan pembelajaran untuk Jurnal Club yang lebih baik.


            Dah. Cuma pengen curhat gitu aja.

            HEHEHE.

warning: NSFW

"Hati-hati!" teriaknya
Bulan bintang di kepala
"Terus lagi!" teriaknya
Mules aku mendengarnya

"Plung, plung," keluar jua
Akhirnya habis juga
Isi perut tiada
Yang tertahan tak ada

( Betul, ini tentang zat ekskresi alias pup alias e'ek. Terima kasih karena telah menyia-nyiakan sekian detik dari hidup Anda. )

Selasa, 09 Februari 2016

Jangan Pergi Lagi,

Seketika itu juga aku melihat dirimu
Dan saat itu juga pikiranku berkelabat
Kamu manis, lugu
Kamu cantik, bersahabat

Lalu pun aku berlari ke arahmu
Pujangga ini rindu,
Walau kamu ‘tak mau

Tapi bilamana aku sampai, kau tiada
Kemana pula kamu berlabuh?
Jangan pergi lagi, Cinta,
Sini, cepat datang, berlabuh

Jangan pergi lagi, Cinta,

Kembalilah padaku