(bukan) Kisah Romantis
Lalu Millenia berkata, “saya
suka seseorang.”
Keheningan tetap ada, tidak
terusik oleh apapun—atau siapapun.
“Merupakan hal yang cukup
unik, atau aneh, untuk spesies yang hampir bukan manusia seperti saya,
mencintai seorang lelaki, sepertimu,” lanjutnya, “dan aku bisa gila. Jika—“
“Maaf Millenia. Jangan
sekarang, mungkin lain kali,” jawabku muak.
“Tapi, astaga, Mario, bisakah
kamu memberikan sedikit apresiasi untukku? Ini adalah kali pertama aku mengalah
argumen denganmu, dan yang bisa kamu lakukan hanyalah membuatku sakit, la—“
“Kamu yang membuatku sakit,
bang—maaf. Entahlah, aku sedah lelah, Millenia.”
Jangan berakhir.
Aku tak ingin berakhir.
Satu jam saja, ku ingin diam
berdua, mengenang yang pernah ada.
“Nggak bisa Mar. Setiap kita
membahas hal ini kamu selalu menghindar.”
Tapi kini tak mungkin
lagi.
Katamu, semua sudah tak
berarti.
Satu jam saja, itupun
tak mungkin lagi.
“Millenia, aku memang belum
siap menikah. Selama kita berpasangan, aku sudah bilang, aku belum tentu siap.”
Jangan berakhir.
Aku ingin sebentar lagi.
Semua mata di restoran tempat
kami makan malam ini tertuju pada kami. Mata-mata itu, yang haus akan
keingintahuan yang kurang pada waktunya, rasanya ingin kucolok satu persatu.
Tak bisakah beri kami sedikit privasi?
Lagu yang dialunkan oleh Lala
Karmela itu membuat suasana lebih panas.
Lalu, Millenia, yang kupacari
sejak kelas dua SMP, tertawa renyah. “Mario, Mario. Ada-ada aja.” Aku diam.
Lanjutnya, “yuk kita ulang dari awal. Namaku Millenia, dan aku adalah teman
kencanmu. Kamu adalah?”
“Mario,” sahutku cepat,
“Mario Lucas Sihombing, dan aku belum tentu siap pada akhirnya.”
“Senang bertemu denganmu,
Mario,”
---
Bukan salahku. Aku memang
sudah lelah dengannya. Penat kepalaku jika berbicara dengan dia, lebih baik
mati saja.
Maksudku—dia yang mati.
Perlahan, aku mengambil keris
kesayanganku dari bawah tempat tidur. Keris Sayang, malam ini kamu punya satu
tugas. Bantu aku, ya?
Aku suka darah. Ini sebabnya,
aku suka melihat wajah cantik Millenia tersayat-sayat. Aku melakukannya dengan
perlahan, karena aku menikmatinya. Kau lihat itu, air mata yang tertahan? Ia
begitu takut sampai-sampai tidak bisa keluar. Aku juga suka melihat takut,
apalagi dalam diri Millenia.
Namun tiba-tiba mata Millenia
berubah. Berubah menjadi merah dan garang.
Aku takut. Rasanya aku
membuat kesalahan. Seluruh ruangan tiba-tiba gelap. Hening, tak terusik.
---
Mataku terbelalak
lebar-lebar. Aku terbangun. Ternyata itu hanya mimpi. Astaga, syukurlah.
Aku takut setengah mati—mengingat aku tidak suka darah.
“Keris Sayang, malam ini kamu
punya satu tugas. Bantu aku, ya?” aku bergidik. Suara Millenia, tepat di
samping tempat tidurku.
Dia
tertawa ceikikikan, dan aku tahu, bahwa aku akan ditemukan mati dengan wajah
penuh sayatan-sayatan nahas pagi nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar