Minggu, 31 Januari 2016

(bukan) Kisah Romantis


(bukan) Kisah Romantis


Lalu Millenia berkata, “saya suka seseorang.”

Keheningan tetap ada, tidak terusik oleh apapun—atau siapapun.

“Merupakan hal yang cukup unik, atau aneh, untuk spesies yang hampir bukan manusia seperti saya, mencintai seorang lelaki, sepertimu,” lanjutnya, “dan aku bisa gila. Jika—“

“Maaf Millenia. Jangan sekarang, mungkin lain kali,” jawabku muak.

“Tapi, astaga, Mario, bisakah kamu memberikan sedikit apresiasi untukku? Ini adalah kali pertama aku mengalah argumen denganmu, dan yang bisa kamu lakukan hanyalah membuatku sakit, la—“

“Kamu yang membuatku sakit, bang—maaf. Entahlah, aku sedah lelah, Millenia.”

Jangan berakhir.

Aku tak ingin berakhir.

Satu jam saja, ku ingin diam berdua, mengenang yang pernah ada.

“Nggak bisa Mar. Setiap kita membahas hal ini kamu selalu menghindar.”

Tapi kini tak mungkin lagi. 

Katamu, semua sudah tak berarti.

Satu jam saja,  itupun tak mungkin lagi.

“Millenia, aku memang belum siap menikah. Selama kita berpasangan, aku sudah bilang, aku belum tentu siap.”

Jangan berakhir.

Aku ingin sebentar lagi.

Semua mata di restoran tempat kami makan malam ini tertuju pada kami. Mata-mata itu, yang haus akan keingintahuan yang kurang pada waktunya, rasanya ingin kucolok satu persatu. Tak bisakah beri kami sedikit privasi?

Lagu yang dialunkan oleh Lala Karmela itu membuat suasana lebih panas.

Lalu, Millenia, yang kupacari sejak kelas dua SMP, tertawa renyah. “Mario, Mario. Ada-ada aja.” Aku diam. Lanjutnya, “yuk kita ulang dari awal. Namaku Millenia, dan aku adalah teman kencanmu. Kamu adalah?”

“Mario,” sahutku cepat, “Mario Lucas Sihombing, dan aku belum tentu siap pada akhirnya.”

“Senang bertemu denganmu, Mario,”

---

Bukan salahku. Aku memang sudah lelah dengannya. Penat kepalaku jika berbicara dengan dia, lebih baik mati saja.

Maksudku—dia yang mati.

Perlahan, aku mengambil keris kesayanganku dari bawah tempat tidur. Keris Sayang, malam ini kamu punya satu tugas. Bantu aku, ya?

Aku suka darah. Ini sebabnya, aku suka melihat wajah cantik Millenia tersayat-sayat. Aku melakukannya dengan perlahan, karena aku menikmatinya. Kau lihat itu, air mata yang tertahan? Ia begitu takut sampai-sampai tidak bisa keluar. Aku juga suka melihat takut, apalagi dalam diri Millenia.

Namun tiba-tiba mata Millenia berubah. Berubah menjadi merah dan garang.

Aku takut. Rasanya aku membuat kesalahan. Seluruh ruangan tiba-tiba gelap. Hening, tak terusik.

---


Mataku terbelalak lebar-lebar. Aku terbangun. Ternyata itu  hanya mimpi. Astaga, syukurlah. Aku takut setengah mati—mengingat aku tidak suka darah.

“Keris Sayang, malam ini kamu punya satu tugas. Bantu aku, ya?” aku bergidik. Suara Millenia, tepat di samping tempat tidurku.


Dia tertawa ceikikikan, dan aku tahu, bahwa aku akan ditemukan mati dengan wajah penuh sayatan-sayatan nahas pagi nanti.

Sabtu, 30 Januari 2016

Hidup Ini (Tidak) Indah

Hidup Ini Tidak Indah

Aku meringkuk dalam diam
Diiringi berisik jangrik malam
Jari tanganku membeku,
Kepalaku penat, ngilu

Gigiku menggertak,
Diikuti suara anjing menyalak
Bukankah aku Raja Kebangsatan,
Dan kamu Permaisurinya?

Masih berdiam tengah sepi
Ditemani seberkas cahaya ilahi
Bukankah ini menyenangkan, kawan?

Hidup ini indah, bukan?