Minggu, 30 Juli 2017

spontanitas hati, satu.

Terduduk pada ilalang, pikirku terus melayang

Terbayang dewi yang sedang di awang-awang

Tersenyum dan terbesat hal yang seharusnya sudah dibuang:


Apa kabar?

perpisahan,


            Akhirnya setelah sebelas tahun menimba ilmu di tempat yang sama, gue pindah sekolah juga. Heu.
            Jujur, kalo bisa pindah sekolah dari 5000 tahun yang lalu, pasti gue udah pindah. Tapi, kadang gue mikir juga: kalau gue nggak sekolah di sini, jadi kayak apa gue sekarang? Perokok? Anti sosial? Ambisius nilai akademis? Pergaulan bebas? Nggak ada yang tahu. Yang jelas, seburuk-buruknya keadaan gue di sekolah ini, gue senang dengan semua pengalaman di sini.
            Sejak 3000 windu yang lalu, gue bersumpah dengan diri gue sendiri: Arthur, kamu nggak perlu nangis di perpisahan sekolah. Kamu nggak butuh sekolah ini, manusia di sekolah ini sederajat dengan limbah pabrik, kamu akan pindah sekolah dan melupakan semua masa lalu kamu di sini. Gue memang punya dua kepribadian: super perasa atau tidak perasa sama sekali. All or nothing.
            Malu rasanya saat tetes air pertama berjalan perlahan, dari ekor mata, ke pipi, bertahan di rahang, lalu jatuh. Kenapa kamu selemah ini, Thur?
            Tapi memang nggak bisa disangkal. Semua kejadian di sekolah ini nggak ada duanya. Air mata pertama jatuh saat gue berjalan ke tiga orang ‘mentor’ gue di kelas 9 yang terasa seperti neraka ini. Dengan haru, gue mengucapkan terima kasih karena mereka nggak berhenti-berhentinya ngajarin gue. Gue nggak akan survive kelas 9 tanpa mereka.
            Tetes setelahnya jatuh untuk sahabat, musuh, teman, bestfriend, ayah, partner, sekaligus peliharaan. Dua belas tahun kami bersama—sejak playgroup sampai SMP—yang nggak selalu dihiasi dengan persahabatan. Bahkan sejak empat bulan sebelum perpisahan, gue sama dia nggak ngomong lagi. Berawal dari nggak ngomong, dengki sendiri, sampai akhirnya api kebencian mulai muncul. Kami sama-sama bertahan pada pendirian kami: gengsi. Tapi hari itu, saat dia lagi duduk di belakang kerumunan yang sedang foto-foto, gue nggak bisa nahan diri untuk nggak nyamperin dia. Tanpa kata-kata, tanpa saling tatap mata, kami berpelukan. Lama sekali. Mata yang semula kering, basah lagi gara-gara dia. Tanpa suara, kami merenggangkan pelukan, tersenyum, dan berpisah.
            Idih, nista, baru nyadar. Kenapa jadi mellow banget sih ini tulisan?

( Tulisan yang sebetulnya belum selesai ditulis ini diunggah saat penulis sudah memasuki sekolah baru. Pastinya penulis akan meng-update kehidupan barunya di sekolah baru. )


Jakarta, 13 Juni 2017.