Akhirnya
setelah sebelas tahun menimba ilmu di tempat yang sama, gue pindah sekolah
juga. Heu.
Jujur, kalo bisa pindah sekolah dari 5000 tahun yang lalu, pasti gue udah
pindah. Tapi, kadang gue mikir juga: kalau gue nggak sekolah di sini, jadi
kayak apa gue sekarang? Perokok? Anti sosial? Ambisius nilai akademis?
Pergaulan bebas? Nggak ada yang tahu. Yang jelas, seburuk-buruknya keadaan gue
di sekolah ini, gue senang dengan semua pengalaman di sini.
Sejak 3000 windu yang lalu, gue bersumpah dengan diri gue sendiri: Arthur, kamu
nggak perlu nangis di perpisahan sekolah. Kamu nggak butuh sekolah ini, manusia
di sekolah ini sederajat dengan limbah pabrik, kamu akan pindah sekolah dan
melupakan semua masa lalu kamu di sini. Gue memang punya dua kepribadian: super
perasa atau tidak perasa sama sekali. All or nothing.
Malu rasanya saat tetes air pertama berjalan perlahan, dari ekor mata, ke pipi,
bertahan di rahang, lalu jatuh. Kenapa kamu selemah ini, Thur?
Tapi memang nggak bisa disangkal. Semua kejadian di sekolah ini nggak ada
duanya. Air mata pertama jatuh saat gue berjalan ke tiga orang ‘mentor’ gue di
kelas 9 yang terasa seperti neraka ini. Dengan haru, gue mengucapkan terima
kasih karena mereka nggak berhenti-berhentinya ngajarin gue. Gue nggak akan
survive kelas 9 tanpa mereka.
Tetes setelahnya jatuh untuk sahabat, musuh, teman, bestfriend, ayah, partner,
sekaligus peliharaan. Dua belas tahun kami bersama—sejak playgroup sampai
SMP—yang nggak selalu dihiasi dengan persahabatan. Bahkan sejak empat bulan
sebelum perpisahan, gue sama dia nggak ngomong lagi. Berawal dari nggak
ngomong, dengki sendiri, sampai akhirnya api kebencian mulai muncul. Kami
sama-sama bertahan pada pendirian kami: gengsi. Tapi hari itu, saat dia lagi
duduk di belakang kerumunan yang sedang foto-foto, gue nggak bisa nahan diri
untuk nggak nyamperin dia. Tanpa kata-kata, tanpa saling tatap mata, kami
berpelukan. Lama sekali. Mata yang semula kering, basah lagi gara-gara dia.
Tanpa suara, kami merenggangkan pelukan, tersenyum, dan berpisah.
Idih, nista, baru nyadar. Kenapa jadi mellow banget sih ini tulisan?
( Tulisan yang sebetulnya belum selesai ditulis ini
diunggah saat penulis sudah memasuki sekolah baru. Pastinya penulis akan
meng-update kehidupan barunya di sekolah baru. )
Jakarta, 13 Juni 2017.