Karin
Novilda, atau yang dikenal akrab sebagai Awkarin, adalah selebriti media sosial
yang kerap menimbulkan kontroversi. Lantas, apa yang membuatnya demikian?
Bermula
dari ajaran Karin yang mengatakan, “Nakal boleh, bego jangan!” Memang, Karin
adalah salah satu peraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi di daerahnya saat
ia masih SMP. Namun, dalam pengakuannya di video yang ia unggah sendiri via
Youtube, ia menggunakan kunci jawaban dalam pelaksanaan Ujian Nasional saat ia
SMA. Hal ini sungguh memalukan baginya sendiri yang menciptakan slogan “Nakal
boleh, bego jangan!” tersebut. (beberapa saat setelahnya, muncul video wawancara
Karin dengan Hi! Online untuk menguji kepintaran Karin. Untuk pertanyaan “Sebutkan
nama zat hijau daun”, Karin menjawab karbohidrat. Padahal, Karin belum lama
lulus dari SMA.)
Perihal
video tersebut, pun kontennya tidak terlalu penting untuk ditonton. Dalam video
tersebut, ia—ditemani temannya kala itu, Sarah Gibson—menangis tersedu-sedu.
Karena, Karin dan Gaga Muhammad, sejolinya saat itu, putus selang beberapa hari
setelah Karin menyiapkan kejutan besar-besaran untuk Gaga yang berulang tahun. Perlu
diketahui, Gaga merayakan ulang tahun yang keenam belas, sementara Karin
sendiri berumur 19 tahun.
Tidak
bisa dipungkiri, gaya berpacaran Karin dan Gaga yang masih belia ini dianggap
sangat berlebih. Belum lagi, mereka dengan bangga menyebarluaskan video dan
foto yang kurang pantas untuk dipublikasikan di media sosial. Berciuman,
merokok—baik batangan atau elektrik, berpose hanya dengan pakaian dalam, dan
kegiatan sejenisnya.
Masih
berlanjut, ia bergabung dengan TAKIS Entertaiment, sebuah management musik yang
melahirkan rapper yang akui dirinya lebih jago dari Iwa K, Young Lex. Bukan hanya
bergabung, Karin juga menghasilkan lagu “Bad”, hasil kolaborasi dengan Young
Lex. Dengan irama yang catchy, lagu ini menyampaikan betapa kita semua orang
yang suci, Karin dan Young Lex penuh dosa (mari kita hargai kejujuran mereka di
sini). Mereka juga mengatakan bahwa kita boleh menghina mereka sepuasnya, karena
hakekatnya memang mereka adalah Bad Boy dan Bad Girl (kolaborasi yang sangat bad, ya). Di sini,
saya bukan mempermasalahkan pernyataan mereka bahwa mereka sekarang sukses
dengan caranya sendiri dan mereka bahagia untuk itu, namun apakah konten
seperti ini bisa memperbaiki pendidikan moral anak bangsa di Indonesia?
Bukan—bukan
juga tentang Karin yang sudah memperingati untuk “Jangan ditonton, hanya untuk
18+” (namun dia sendiri hanya berumur 18+1 namun sok dewasa), tapi apakah kita
bisa membatas-batasi pemakaian internet anak bangsa? Tidak, internet adalah
tempat yang sangat bebas, sulit untuk membatasi pemakaian internet bagi anak. Memang,
salah satu faktor kesalahan ada di diri anak-anak itu sendiri, sudah tahu Karin
adalah figur publik yang dicap tidak benar, untuk apa diikuti? (Demikian juga
saya, umur saya baru 15 tahun. Namun, saya sudah bisa menyaring apakah tingkah
laku Karin ini pantas untuk saya contoh atau tidak. Bagaimana dengan anak 15 tahun lainnya yang tidak bisa? Bagaimana dengan mereka yang menganggap Karin
itu keren? Bagaimana dengan mereka yang menganggap Karin adalah idola
terbesarnya?) Karin tahu, bahwa banyak anak di bawah umur yang mengikuti media
sosialnya. Seharusnya, sebagai pribadi yang sudah dewasa, ia mengunggah konten
yang positif. Biar dikata apa, sih, unggah hal-hal seperti itu?
Tidak
berhenti, Karin juga dikecam atas penipuan terhadap online shop. Para penjual
di online shop merasa dirugikan oleh Karin. Pasalnya, Karin seringkali mengulur
waktu dalam mengunggah foto produk yang seharusnya diunggah. Tidak jarang,
ujung-ujungnya malah sama sekali tidak diunggah. Padahal, para penjual sudah
membayar tarif yang tidak murah—1,5 juta dan bahkan di atasnya. Karin juga
tidak menonjolkan produk tersebut dengan baik, contohnya: penjual ingin
mempromosikan produk pakaian renang. Namun, Karin malah menutupi pakaian
renangnya dengan jaket denim. Belum lagi, lokasinya indoor. Atau, produk
lipstick. Bukannya berpose dengan bibir yang terlihat jelas, atau paling tidak sambil
memegang produknya, ia malah berpose ria dengan filter dan editan yang
menumpuk. Hal ini jelas-jelas mengubah warna dan keindahan lipstick itu
sendiri.
Teman-temannya
sendiri mengakui, mereka juga sudah muak dengan tingkah Karin. Lula Lahfah,
Sarah Gibson, dan teman-temannya yang lain, perlahan melipir menjauh dari
Karin. Sekarang, Karin bersahabat dengan Anya Geraldine (bernama asli Nur
Amalina Hayati), Syaima Salsabila, Young Lex, Oka Mahendra (sebagai pacar), dan
banyak lagi. (semoga kali ini langgeng, ya, pertemanannya. Hehe.)
Setujukah
Karin dan sepermainannya merusak pendidikan moral di Indonesia?
( ditulis atas dasar tugas sekolah dengan tema
pendidikan. maaf jika ada pernyataan yang menyinggung pihak manapun)


