Rabu, 25 Januari 2017

Awkarin dan Sepermainannya, Pengaruh Besar Pendidikan Moral di Indonesia?



           

            Karin Novilda, atau yang dikenal akrab sebagai Awkarin, adalah selebriti media sosial yang kerap menimbulkan kontroversi. Lantas, apa yang membuatnya demikian?
            Bermula dari ajaran Karin yang mengatakan, “Nakal boleh, bego jangan!” Memang, Karin adalah salah satu peraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi di daerahnya saat ia masih SMP. Namun, dalam pengakuannya di video yang ia unggah sendiri via Youtube, ia menggunakan kunci jawaban dalam pelaksanaan Ujian Nasional saat ia SMA. Hal ini sungguh memalukan baginya sendiri yang menciptakan slogan “Nakal boleh, bego jangan!” tersebut. (beberapa saat setelahnya, muncul video wawancara Karin dengan Hi! Online untuk menguji kepintaran Karin. Untuk pertanyaan “Sebutkan nama zat hijau daun”, Karin menjawab karbohidrat. Padahal, Karin belum lama lulus dari SMA.)

            Perihal video tersebut, pun kontennya tidak terlalu penting untuk ditonton. Dalam video tersebut, ia—ditemani temannya kala itu, Sarah Gibson—menangis tersedu-sedu. Karena, Karin dan Gaga Muhammad, sejolinya saat itu, putus selang beberapa hari setelah Karin menyiapkan kejutan besar-besaran untuk Gaga yang berulang tahun. Perlu diketahui, Gaga merayakan ulang tahun yang keenam belas, sementara Karin sendiri berumur 19 tahun.


            Tidak bisa dipungkiri, gaya berpacaran Karin dan Gaga yang masih belia ini dianggap sangat berlebih. Belum lagi, mereka dengan bangga menyebarluaskan video dan foto yang kurang pantas untuk dipublikasikan di media sosial. Berciuman, merokok—baik batangan atau elektrik, berpose hanya dengan pakaian dalam, dan kegiatan sejenisnya.

            Masih berlanjut, ia bergabung dengan TAKIS Entertaiment, sebuah management musik yang melahirkan rapper yang akui dirinya lebih jago dari Iwa K, Young Lex. Bukan hanya bergabung, Karin juga menghasilkan lagu “Bad”, hasil kolaborasi dengan Young Lex. Dengan irama yang catchy, lagu ini menyampaikan betapa kita semua orang yang suci, Karin dan Young Lex penuh dosa (mari kita hargai kejujuran mereka di sini). Mereka juga mengatakan bahwa kita boleh menghina mereka sepuasnya, karena hakekatnya memang mereka adalah Bad Boy dan Bad Girl  (kolaborasi yang sangat bad, ya). Di sini, saya bukan mempermasalahkan pernyataan mereka bahwa mereka sekarang sukses dengan caranya sendiri dan mereka bahagia untuk itu, namun apakah konten seperti ini bisa memperbaiki pendidikan moral anak bangsa di Indonesia?


            Bukan—bukan juga tentang Karin yang sudah memperingati untuk “Jangan ditonton, hanya untuk 18+” (namun dia sendiri hanya berumur 18+1 namun sok dewasa), tapi apakah kita bisa membatas-batasi pemakaian internet anak bangsa? Tidak, internet adalah tempat yang sangat bebas, sulit untuk membatasi pemakaian internet bagi anak. Memang, salah satu faktor kesalahan ada di diri anak-anak itu sendiri, sudah tahu Karin adalah figur publik yang dicap tidak benar, untuk apa diikuti? (Demikian juga saya, umur saya baru 15 tahun. Namun, saya sudah bisa menyaring apakah tingkah laku Karin ini pantas untuk saya contoh atau tidak. Bagaimana dengan anak 15 tahun lainnya yang tidak bisa? Bagaimana dengan mereka yang menganggap Karin itu keren? Bagaimana dengan mereka yang menganggap Karin adalah idola terbesarnya?) Karin tahu, bahwa banyak anak di bawah umur yang mengikuti media sosialnya. Seharusnya, sebagai pribadi yang sudah dewasa, ia mengunggah konten yang positif. Biar dikata apa, sih, unggah hal-hal seperti itu?


            Tidak berhenti, Karin juga dikecam atas penipuan terhadap online shop. Para penjual di online shop merasa dirugikan oleh Karin. Pasalnya, Karin seringkali mengulur waktu dalam mengunggah foto produk yang seharusnya diunggah. Tidak jarang, ujung-ujungnya malah sama sekali tidak diunggah. Padahal, para penjual sudah membayar tarif yang tidak murah—1,5 juta dan bahkan di atasnya. Karin juga tidak menonjolkan produk tersebut dengan baik, contohnya: penjual ingin mempromosikan produk pakaian renang. Namun, Karin malah menutupi pakaian renangnya dengan jaket denim. Belum lagi, lokasinya indoor. Atau, produk lipstick. Bukannya berpose dengan bibir yang terlihat jelas, atau paling tidak sambil memegang produknya, ia malah berpose ria dengan filter dan editan yang menumpuk. Hal ini jelas-jelas mengubah warna dan keindahan lipstick itu sendiri.
            Teman-temannya sendiri mengakui, mereka juga sudah muak dengan tingkah Karin. Lula Lahfah, Sarah Gibson, dan teman-temannya yang lain, perlahan melipir menjauh dari Karin. Sekarang, Karin bersahabat dengan Anya Geraldine (bernama asli Nur Amalina Hayati), Syaima Salsabila, Young Lex, Oka Mahendra (sebagai pacar), dan banyak lagi. (semoga kali ini langgeng, ya, pertemanannya. Hehe.)
            Setujukah Karin dan sepermainannya merusak pendidikan moral di Indonesia?


( ditulis atas dasar tugas sekolah dengan tema pendidikan. maaf jika ada pernyataan yang menyinggung pihak manapun)