Selasa, 22 November 2016

m i m p i


Namaku Layla,
dan aku hidup dalam sepi.

Setiap pagi kubiarkan Langit menegurku perlahan
"Selamat pagi, Layla, sudahkah kamu menemukan makna hidupmu?"
Kujawab perlahan, "Belum, Langit, bantulah aku,"

Langit tersenyum simpul dan berkata,
"Carilah sendiri."

Tetapi tidak ada yang peduli tentangku

Teman, orang tua, kekasih, hanya ilusi belaka
Tidak ada dan memang tak akan pernah ada
Aku tidak pernah bersama, sekalipun berdua
Sendiri di tengah ramainya Jakarta

Terbiasa aku hidup dalam sepi
Tapi tak pernah ada waktu untuk duka dan elegi
Siapa pula yang mau kusedihi?
Raga ini terbiasa hidup sendiri

Sepi,
Sepi sekali
Seperti mimpi yang tiada berhenti

Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Berpesan pada Langit yang tak pernah berdusta
Lirih terdengar, “Untuk apa,”
“Untuk apa!”

Tapi takkan pernah ku menuai murka
Hingga peluh di dahi kepala
Hingga penat di hati, walau tanpa nestapa
Ingin aku mendengar aksara yang bersuara

Aksara yang bersuara
Dari mereka yang tak sempat kucinta

Kata orang, tidak semua pertanyaan berpasangan dengan jawaban

Namaku Layla, dan aku kesepian

Kembali aku mengadah dan bertanya pada Langit,

"Apa makna hidupku?"

- telah dimusikalisasikan. https://www.youtube.com/watch?v=s1_ZDC67koI