Namaku Layla,
dan aku hidup dalam sepi.
Setiap pagi kubiarkan Langit menegurku perlahan
"Selamat pagi, Layla, sudahkah kamu menemukan makna hidupmu?"
Kujawab perlahan, "Belum, Langit, bantulah aku,"
Langit tersenyum simpul dan berkata,
"Carilah sendiri."
Tetapi tidak ada yang peduli tentangku
Teman, orang tua, kekasih, hanya ilusi belaka
Tidak ada dan memang tak akan pernah ada
Aku tidak pernah bersama, sekalipun berdua
Sendiri di tengah ramainya Jakarta
Terbiasa aku hidup dalam sepi
Tapi tak pernah ada waktu untuk duka dan elegi
Siapa pula yang mau kusedihi?
Raga ini terbiasa hidup sendiri
Sepi,
Sepi sekali
Seperti mimpi yang tiada berhenti
Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Berpesan pada Langit yang tak pernah berdusta
Lirih terdengar, “Untuk apa,”
“Untuk apa!”
Tapi takkan pernah ku menuai murka
Hingga peluh di dahi kepala
Hingga penat di hati, walau tanpa nestapa
Ingin aku mendengar aksara yang bersuara
Aksara yang bersuara
Dari mereka yang tak sempat kucinta
Kata orang, tidak semua pertanyaan berpasangan dengan jawaban
Namaku Layla, dan aku kesepian
Kembali aku mengadah dan bertanya pada Langit,
"Apa makna hidupku?"
- telah dimusikalisasikan. https://www.youtube.com/watch?v=s1_ZDC67koI